# Romadhon Ketujuh: MERDEKA ??


Ramadhan Ketujuh

Menu sahur pagi tadi adalah nasi lauk daging sapi empal dan kentang dan satu mangkuk kolak labu (orang Jawa bilang namanya waluh/waloh). Wew, betapa nikmatnya.

Hmm,, pada puasa ketujuh ini aku ingin berbagi dengan kawan-kawan dan sobat-sobat semua tentang isi ceramah yang disampaikan oleh imam musholla di dekat kos-an. Ramadhan ketujuh pada tahun ini secara kebetulan bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 2010, tanggal yang diperingati oleh Negara Indonesia sebagai hari proklamasi (bc: kemerdekaan), sekalipun tidak semua bangsa Indonesia sepakat dengan pernyataan proklamasi itu atau sebagiannya juga masih hidup jauh dari pengertian kemerdekaan mereka. Realitanya, tanggal 17 Agustus telah diperingati selama 65 tahun oleh (sebagian) rakyat Indonesia dan resmi menjadi peringatan yang WAJIB diperingati dan dirayakan Negara siapapun yang memerintah republik ini.

Bertepatannya tanggal 17 Agustus dengan bulan puasa persis sama dengan masa pembacaan proklamasi kemerdekaan RI pada tahun 1945 yang juga bertepatan dengan bulan Romadhon. Namun, kesamaan atau kemiripan waktu dan bertepatannya waktu Romadhon dengan tanggal 17 Agustus apakah serta merta sama dengan kondisi pada tahun 1945 juga?

Dalam ceramah Romadhon yang kudengarkan dari imam mushola hari ini, beliau menyatakan kondisinya sangat berbeda. Cita-cita kemerdekaan yang digagas dan diinginkan dengan pernyataan proklamasi belumlah dan tidaklah sesuai dengan yan diharapkan. Meskipun secara fisik Republik Indonesia menyatakan kemerdekaannya, namun dalam banyak bidang Indonesia belumlah merdeka secara hakiki. Menurut beliau, Indonesia sampai hari ini masih dijajah secara moral, ekonomi, dan politik serta lain-lainnya.

Selanjutnya, beliau mengutip pengertian makna kemerdekaan yang disitir di dalam Al Quran, Al A’raf 96-100.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,[96]. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur.? [97]. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain.? [98]. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi,[99]. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi).? [100]

Melalui ayat tersebut, pak imam ingin menyampaikan bahwa kemerdekaan suatu negeri salah satunya dapat dilihat dengan melimpahnya berkah dari langit dan bumi kepada seluruh rakyat yang menjadi penghuninya, dalam hal ini rakyat Indonesia. Namun, impian itu masih jauh dari yang digambarkan Al Quran. Realitanya, berkah-berkah dari langit dan bumi Indonesia sudah mulai kehilangany nilai keberkahannya (kalau tidak ingin dikatakan memang sudah tidak ada). Digambarkan. langit yang biasanya menurunkan butiran-butiran air hujan agar bermanfaat bagi rakyat Indonesia, justru banyak turun menjadi banjir. Bumi Indonesia pun banyak yang mengalami kekeringan dan sulit untuk ditanami. Semburan lumpur pun juga keluar menyembul dari perut bumi menenggelamkan ratusan bahkan ribuan rumah penduduk disekitarnya. Hal ini belum menghitung bencana gempa, tsunami, dan bencana-bencana lainnya. Semua hal yang seharusnya menjad berkah justru kini menjadi musibah. Na’udzubillah.

Setiap kejadian yang telah terjadi tersebut di atas tidak bisa disalahkan begitu saja kepada Sang Pencipta. Pada dasarnya, keburukan yang terjadi pada kita pada dasarnya adalah dikarenakan ulah tangan kita sendiri juga. Lebih jauhnya, Allah sebenarnya sudah memberikan rambu-rambu bagi negeri-negeri yang ingin mencapai tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang tinggi dan maju (bc: Merdeka) adalah harus mau memenuhi persyaratan yaitu para penduduknya harus beriman dan bertakwa. Siapa itu orang beriman dan orang bertakwa telah kubahas tempo hari.

Persoalannya, sudahkah kita –penduduk negeri ini- menunjukkan keimanan dan ketakwaan kita? Pak imam melanjutkan bahwa mustahil negeri ini akan merdeka dan makmur jika hingga saat ini kita enggan tunduk pada aturan-aturan Allah, undang-undang Allah, dan syariat-Nya. Bahkan justru sekelompok orang yang ingin ber-amar ma’ruf nahi mungkar mengajak kepada kebaikan untuk memperbaiki kondisi bangsa ini justru dijatuhi stigma-stigma negatif, seperti ekstremis, radikal dan paling mutakhir adalah teroris. Na’udzubillah.

Akibatnya, bukanlah keberkahan yang diperoleh seperti yang diharapkan. Namun sebaliknya, negeri ini justru memperoleh azab dari Allah akibat keengganan untuk tunduk beriman serta bertakwa kepada Nya. Padahal seandainya kita mau tunduk dan mentaati aturan undang-undang Allah, Allah menjanjikan akan datangnya rahmah, berkah, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Pada akhir pembicaraan, disampaikanlah kesimpulan atas ayat tersebut, yang pada intinya bahwa:

  • Allah Yang Maha Pengasih menawarkan rahmat-Nya kepada para hamba-Nya dan tidak meminta yang lebih-lebih dari mereka selain iman dan takwa
  • Diharamkan bersikap lalai dan wajib ingat dan waspada
  • Diharamkan bersikap merasa aman dari Makar Allah
  • Bila suatu umat merasa aman-aman saja dari Makar Allah, maka hendaklah mereka bersiap-siap menyambut penyesalan dan datangnya suatu azab yang pasti datang
  • Wajib mengambil pelajaran dari apa yang dialami orang-orang terdahulu, yaitu dengan tidak melakukan faktor-faktor yang menyebabkan kebinasaan mereka.

So, demikianlah definisi kemerdekaan yang dituliskan di dalam al Quran, yaitu membutuhkan sebuah syarat keimanan dan ketakwaan seluruh negeri tersebut. Maka sudahkah hari ini kita merdeka (dalam makna yang hakiki)?? Jika memang belum, mau nggak kita merdeka? Kalau mau, bersediakah kita menjadi orang beriman dan bertakwa yang tunduk pada aturan undang-undang Allah?

Demikian kurang lebih isi yang disampaikan pak imam. Semoga kita bisa mengambil pelajaran. 🙂

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: