# Romadhon Kelima: Doa


Romadhon Kelima

Sahur hari ini lebih sepi dari sahur kemaren. Hanya bertiga. Suasana kurang ramai. Selera makan pun turun drastis. Meskipun di depan saya ada nasi, sayur kangkung, tahu, jerohan, ati ampela, dan kerupuk, namun aku hanya mengambil sepotong sedikit ampela dan sayur kangkung. Biasanya, aku nambah nasi dua kali, kali ini aku cumin puas satu kali saja. Aku kurang bernafsu untuk nambah nasi.

Suasana hari pun terasa hambar seperti hari kemaren. Kos-an benar-benar sepi. Aku boleh dibilang sendirian saja di kosan. Bingung dengan keadaan sepi ini, aku mencoba untuk membunuh waktu dengan tilawah, membaca buku, dan menulis. Aku sempat merasa agak senang saat hujan turun cukup deras. “Allahumma soyyiban nafi’a”. Namun sayangnya hujan deras yang turun tidak terlalu lama. Langit pun kembali cerah kembali. Akibatnya, rasa gerah dan panas (sumuk: bhs jawa) semakin terasa membuat kurang nyaman. Menjelang sore hari, aku masih ingat akan rendaman bajuku yang belum dicuci. Segera saja aku mencuci dan menjemurnya. Hampir tak ada yang hal istimewa hari ini yang ingin kubagi dengan sobat-sobat sekalian.

Oh, aku jadi teringat chatting-an ku dengan seorang sahabat. Ia bercerita (mungkin lebih tepatnya memberiku nasehat / tausiyah) agar aku tidak menyepelekan doa. Ia pun mengutip sebuah hadis yang intinya menyatakan bahwa doa adalah kekuatan dan senjata orang yang beriman.

Selanjutnya, ia bercerita –melalui YM- betapa penguasa negeri ini dari seluruh jajarannya kenapa begitu phobia terhadap Islam. Mengapa banyak aktivis-aktivis Islam ditangkap, dipukuli, dan dipenjarakan sementara banyak tersangka koruptor yang justru bebas dan semakin mencengkeram sendi-sendi Negara ini. Terakhir, ia berkisah tentang betapa lancangnya penguasa negeri ini menangkap seorang ulama, seorang ustadz yang sudah sepuh dengan cara kekerasan bahkan sekaligus dengan ancaman untuk ditembak di tempat. Sementara para tersangka koruptor, tersangka penggelap pajak, tersangka mafia-mafia hokum justru diperlakukan secara lembut meskipun mereka kedapatan dan ketangkap basah tak hanya sekali memain-mainkan hukum.

Kawanku itu pun mengingatkan betapa doa orang-orang yang terzalimi itu senantiasa terijabah. Apalagi sekarang ini sedang pada bulan Romadhon dimana bulan yang suci dan merupakan bulan-bulan mustajab.

“Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.” (HR Bukhari).

“Doa adalah pangkal (otak-)nya Ibadah.” (HR. Tirmidzi)

“Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)

“Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu).” (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud)

“(Dan) Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Al Mukmin : 60)

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutus hubungan silaturrahim, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu diantara tiga hal : dikabulkan doanya ; ditangguhkan hingga hari kiamat ; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Ahmad dari Abi Said Al Khudri)

“Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak, di antaranya adalah orang yang berpuasa sehingga ia berbuka, di dalam riwayat lain dikatakan, orang yang puasa ketika hendak berbuka.” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Di ujung pembicaraan, kawanku menasehatiku agar aku meningkatkan kualitas doa-ku agar tidak hanya berdoa egois untuk kepentingan pribadi semata namun juga berdoa untuk kepentingan umat Islam secara umum. Terima kasih sobat atas nasehat mulianya. I love You Full.

NB: Tulisan ini ditulis dengan sedikit memberikan tambahan untuk keperluan penjelasan dan dramatisasi karena dialog kami berdua dalam chatting berlangsung dengan agak canda-candaan sehingga perlu diedit seperlunya. 🙂

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: