Piring Pecah & 7 Agustus


Sumber Kik Pada Gambar

Sumber Kik Pada Gambar

Kalender yang tergantung di dinding kamarku menampakkan tanda lingkaran berwarna merah pada angka 7 bulan Agustus. Goresan lingkaran merah spidol itu memang sengaja kulingkari semenjak aku menggantungnya 1 Januari silam. Aku sengaja menandainya untuk mengenang kisah manisku.

Beberapa saat kemudian, ku arahkan mataku pada sebuah piring yang dilem kembali setelah pecah menjadi utuh kembali. Aku tiba-tiba tersenyum sendiri di ruang makan. Sambil duduk di kursi meja makan dengan dagu dan sisi pipi yang sengaja kutopang dengan kedua telapak tangan yang tegak bertumpu pada sisi siku yang menempel pada meja makan, lamunanku menerawang menerobos waktu tepat 2 tahun silam.

“Mbak, pesan nasi sayur lodeh satu. Minumnya teh hangat saja,” sapa seorang pengunjung bersuara pria di warung makanku. Warung makan yang kuberi label nama Warung Makan “Mbak Titin”, sesuai dengan namaku.

Aku tidak melihat pria itu. Aku hanya mendengar suara pria itu memesan nasi sayur lodeh dan teh hangat karena aku dalam posisi membelakanginya. Aku sedang menyiapkan pesanan makan pelanggan warungku yang lain, mas Bejo.

“Iya mas, sebentar..” jawabku sambil membelakangi arah datangnya suara pria yang memesan baru saja itu. Aku pun kemudian segera mempercepat pesanan makanan mas Bejo untuk dihidangkan agar bisa segera melayani pengunjung warung terakhir yang baru saja memesan nasi sayur lodeh itu.

Selesai memberikan pesanan mas Bejo, aku membalikkan badan ke arah suara pria tadi. Tak lebih dari satu detik kemudian, aku terbengong, tersentak dan terkaget melihat sosok pria yang dihadapanku kini, pria yang memesan sayur lodeh tersebut.

“Mmm mMas yang kem..kemaren nol nolong ak.. ak.. aku waktu aku dijam.. jambret di pasar khan?” tanyaku kepada pria itu dengan kalimat yang terbata-bata dan bibir serta lidah yang bergetar. Jantungku mulai berdetak lebih kencang dari sebelumnya.

Pria yang di hadapanku itu ternyata pria yang sebelumnya berhasil menolongku dari percobaan seorang penjambret di pasar. Ketika itu, saat berjalan pulang dari pasar sambil membawa barang-barang kulakan, aku memang kurang hati-hati karena menyempitkan dompet di sela-sela ketiak kiriku. Dan kekurang hati-hatianku itu berhasil dimanfaatkan seorang penjambret pasar yang berhasil mengambil dompetku. Seketika juga aku berteriak reflek, “JAMBRET…JAMBRET…!!!” Tak lebih dari 2 detik kemudian, sang penjambret itu tiba-tiba terjatuh. Ternyata teriakanku juga membuat seorang pria yang berjalan di belakangku secara reflek menjegalkan kakinya kea rah si penjambret dompet-ku hingga si penjambret terjungkal ke tanah dan selanjutnya ‘habis’ dipukli oleh warga pasar.

Sang pria penolongku itu kemudian memungut dompet ku yang dijambret itu lalu memberikannya kepadaku. Setelah itu, ia pun berlalu dari pandangku tanpa mengeluarkan satu kalimat apapun. Dan lebih bodohnya lagi, aku juga tidak sempat mengucapkan terima kasih kepadanya karena ketika itu aku terbengong melihat sosok sang pria penolongku itu.

Tubuhnya cukup beroto dan memiliki lengan-lengan kuat. Sementara rambutnya hitam lurus pendek tersisir cukup rapi. Di bawah dagunya, jenggot tipis menghiasi wajah rupawannya. Kulitnya berwarna coklat sawo matang lebih gelap sedikit. Dan tingginya kurasa sekitar 170cm. Dan sekarang sang pria penolongku itu pun kembali berada di hadapanku lagi. Dan lagi-lagi, aku pun terbengong melihatnya.

Mendengar pertanyaanku, pria itu tidak segera menjawabnya. Ia justru mengatakan kembali makanan pesanannya. “Nasi sayur lodeh dan segelas teh hangat…” ucapnya tidak menjawab pertanyaanku. Aku pun terdiam dan buru-buru mengambil piring, kemudian nasi putih lalu menuangkan sayur lodeh ke dalam piring yang berisi nasi tersebut. Ketakjubanku melihat sosok sang penolongku itu membuatku tergesa-gesa dan sedikit gemetar saat menyiapkan makanan pesanannya. Saat hendak menghidangkannya di hadapannya, tanpa sengaja, kakiku menyandung sesuatu membuatku sedikit gontai hingga akhirnya piring berisi nasi sayur lodeh pesenan pria itu pun jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.

Sambil mmemohon maaf, aku segera membersihkan tumpahan nasi dan sayur lodeh yang terjatuh dan mengumpulkan piring yang terpecah. Sang pria itu pun juga duduk membantuku memungut pecahan piring yang berserakan di lantai. Sambil memungut pecahan piring, aku masih saja mencuri pandang ke arah pria itu yang masih saja diam seolah tidak memperhatikan kehadiranku. Ia memunguti pecahan piring tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Aw,” rintihku tiba-tiba sambil mengangkat jari telunjukku yang sepertinya tertusuk butiran potongan piring yang pecah. Saat kulihat ternyata benar. Darah merah keluar dari ujung telunjukku. Dan tiba-tiba, sang pria itupun meraih tanganku lalu memegang telunjukku yang berdarah lalu memasukkannya ke dalam mulutnya beberapa saat. Setelah itu ia mengeluarkan satu buah Handyplast yang ada di dalam saku bajunya. Dan selanjutnya ia membungkus telunjukku yang terluka tadi dengan handyplast.

“Maaf mbak, kalau aku lancang.” Ucapnya.

“Ah nggak mas, makasih.” Ucapku.

***

Setelah kejadian tanggal 7 Agustus dua tahun lampau itu, aku pun mengumpulkan pecahan piring yang terjatuh pecah saat menghidangkannya kepada pria yang menolongku saat dijambret dan memesan nasi sayur lodeh itu. Pecahan piring itu kemudian kusatukan kembali dengan lem dan plester bening. Alhamdulillah, aku bisa menyatukan pecahan piring itu kembali. Dan kini, aku menyimpannya di lemari dekat meja makan sebagai kenangan terindahku dengan sang pria tersebut yang kini telah menjadi suamiku. Mas Sutrisno, demikian namanya.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

13 Tanggapan

  1. ::gubrak::
    ku kira mas trisno jd ke afghanistan, trnyata nikah ma titin toh :p :p :p

    • @Dear: halah,,
      ngerti wae dg kisah mas sutrisno…

      namanya juga fiksi

  2. Wah kenangang yang manis sekali…
    sekarang piring itu disimpan atau dah gak ada mas ?

    • @Ahsanfile: jiah, ini khan fiksi mas…

  3. 5 stars, 2 thumb up..

    • @Puri: apa nih mksudnya?

    • maksudnya rate 5 bintang, 2 jempol

  4. ini fiksi atau beneran sih ???

    • @Nelson: ditulisnya aja di bagian fiksi

      gmn sih mas-nya ni?
      😀

  5. so swiiiitt. 😀

  6. bagus ya ceritanya.. 🙂
    oya boleh kasih saran aja mas? maap sebelumnya..
    pada dialog mbak Titin yang tergagap.
    “Mmm mMas yang kem..kemaren nol nolong ak.. ak.. aku waktu aku dijam.. jambret di pasar khan?”

    sebenarnya tidak perlu di tulis dengan gagap seperti itu, karena sudah ada keterangannya pada narasi begini:

    tanyaku kepada pria itu dengan kalimat yang terbata-bata dan bibir serta lidah yang bergetar. Jantungku mulai berdetak lebih kencang dari sebelumnya.

    karena menurut saya membuat kita yang membaca jadi kurang nyaman, padahal pembaca juga pasti bisa membayangkan sendiri Mbak Titin tergagap dengan keterangan pada narasi di atas..

    sekali lagi maaf sebelumnya..jika kurang berkenan 🙂

  7. mas trisno lagiii… titin lagi -_-“

  8. bro musik latarnya bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: