Melestarikan Budaya ???


Pada saat kita berada di sekolah dasar, sering kita diberikan pertanyaan pada soal-soal seperti ini, “Apa yang harus kita lakukan terhadap budaya di sekitar kita?” “Bagaimana sikap kita sebagai warga negara yang baik terhadap budaya bangsa Indonesia?” “Bagaimana sikap kita terhadap budaya asing yang masuk ke dalam lingkungan kita?” Demikian seterusnya pertanyaan-pertanyaan yang memiliki kemiripan.

Rata-rata, sebagai seorang siswa SD, kita diajarkan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban-jawaban antara lain kurang lebihnya sebagai berikut: “Sebagai siswa, kita harus mempelajari budaya tersebut dan melestarikannya.” “Sebagai warga negara yang baik, maka kita harus berusaha mempelajari, melestarikan, dan mempertahankan budaya-budaya warisan nenek moyang tersebut.” “Terhadap budaya asing, sikap kita sebaiknya menyaring setiap budaya asing yang masuk, selanjutnya kita pilih yang baik dan membuang yang buruknya.”

Pertanyaan-pertanyan dan jawaban-jawaban tersebut seingatku seringkali muncul pada saat memperoleh pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) atau PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Dari sejak kisaran kelas 3 SD dan terus berturut-turut pertanyaan tersebut ditanamkan kedalam benak kita. Sehingga tanpa sadar, kita cenderung menganggap budaya bangsa kita sebagai budaya yang luhur dan selalu baik, sementara budaya-budaya bangsa lain atau budaya asing dianggap buruk, minimal dicurigai terlebih dahulu.

Aku punya sedikit alasan atas pernyataanku di atas. Seingatku, aku tidak pernah menjumpai pertanyaan semisal, “Sebutkan budaya-budaya bangsa Indonesia warisan nenek moyang kita yang buruk dan tidak layak untuk dilestarikan!” Satu kesimpulan penting dari alam bawah sadar kita adalah berpola-nya pikiran kita pada jawaban bahwa “(setiap) budaya bangsa warisan nenek moyang harus dipelajari dan dilestarikan (baik atau buruknya_pen).” Selain itu menjadi kesimpulan bawah sadar juga bahwa “setiap orang Indonesia yang tidak mempelajari dan melestarikan budaya bangsa ini bahkan mungkin membencinya adalah warga negara yang tidak baik”.

Selanjutnya, adanya pertanyaan, “Bagaimana sikap kita terhadap budaya asing yang masuk ke dalam lingkungan kita?” secara tidak langsung membatasi alam pikiran kita untuk selalu protektif (bc: curiga) terhadap setiap budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia. Jika memang budaya asing tersebut tidak bertentangan dengan budaya bangsa kita, barulah kita diajarkan untuk dapat menerima budaya bangsa asing tersebut. Pada saat itu (SD_pen), aku berfikir jika semua diselaraskan dengan budaya kita sama saja budaya asing ditolak dong? Itu adalah pikiran kecilku dulu yang sedikit banyak masih tersisa dalam pikiranku.

Aku kurang tahu bagaimana pelajaran budaya di sekolah-sekolah anda dulu. Namun, karena di kelas aku memperoleh pengajaran (bc: cekokan / doktrin) dari beberapa guru mata pelajaran yang berbeda yang mengajarkan tentang tema budaya dari sudut pandang yang berbeda, maka aku lebih bisa ‘merasa’ berdiri netral. Pada pelajaran Bahasa Daerah (Jawa) aku diajarkan untuk melestarikan budaya-budaya Jawa seperti sopan santun dengan sesama, orang tua, dll; berbahasa jawa yang baik dan benar dengan masyarakat sekitar, mempelajari wayang, mempelajari peribahasa-peribahasa Jawa, berkebaya (bagi wanita) dan berbeskap (bagi pria) dll. Sementara pada pelajaran bahasa Indonesia dan PMP (PPKn), guru matpel Bahasa Indonesia dan PMP pun tak kalah dengan guru bahasa Jawa-nya, kami sekelas diajarkan untuk selalu berbahasa Indonesia yang baik dan benar, berupacara bendera dengan khidmat melebihi upacara yang lain, mempelajari budaya nusantara yang lain, menyanyikan lagu-lagu daerah lain, bahkan sampai memainkan alat-alat musik daerah lain. Pada kesempatan lain, guru agama (yang terbagi ke dalam banyak pelajaran mulai Fiqih, Akidah, Sejarah, Bahasa Arab dan lain-lain) mengajarkan untuk berpakaian baju koko (baju koko berasal dari budaya masyarakat China), memakai pakaian jilbab bagi muslimah, menghindari budaya-budaya syirik di dalam kebiasaan masyarakat Jawa, memurnikan akidah, melarang menonton karnaval kerbau Kyai Slamet (kebetulan aku sekolah di Solo), dll.

Pada akhirnya, mungkin anda akan menjawab bahwa yang dilestarikan tentunya khan adalah budaya-budaya yang baik saja. Sementara budaya yang jelek dan buruk tidak perlu dilestarikan. Persoalannya, sudut pandang baik masing-masing orang sudah pasti berbeda khan? Sebagai gambaran sebelumnya, aku sudah coba sajikan pada masing-masing sudut pandang guru mata pelajaran sewaktu aku masih SD tentang budaya khan? So… ?

Budaya adalah kebiasaan yang mengakar kuat di suatu komunitas masyarakat. Dalam anganku, budaya bisa saja berkembang, berganti, berkurang, bercampur, atau punah sekalipun sehingga adanya budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia sah-sah saja karena bisa jadi 100 tahun lagi tercipta budaya bangsa ini yang berbeda yang akan diwariskan kepada anak cucu kita. Bukankah budaya bangsa ini dulunya juga sedikit banyak dipengaruhi budaya bangsa di sekitarnya?

Intinya, setiap budaya -menurutku- tidak selalu harus dipelajari dan dilestarikan. Terlebih jika hal tersebut adalah budaya yang diciptakan oleh manusia, budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat kita, masyarakat Indonesia. Semoga kita menjadi manusia berbudaya sepanjang masa meskipun tak pernah mempelajari sebuah budaya.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

4 Tanggapan

  1. yap bener banget wan , tapi banyak orang juga masih berfikiran sempit dengan menghungungan kebudayaan dengan keyakinan begitu juga sebalik nya yang justru malah mempercepat putus nya kebudayaan itu sendiri

    • @Ras: hmmm,,,,
      betul betul betul

      *ipin upin mode on

  2. Satu lagi mas…
    Sekarang kudu ada pelajaran membuang budaya asing yang udah terlanjur masuk tetapi gak sesuai dengan budaya kita…

    hmmm…. susah yaaa

    • @Ahsan: hahahahaha

      busaya asing? wah terlalu banyak lho mas, ad abudaya eropa, china, arab,
      yg mananih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: