Don’t Type Comic Sans in Office, Plis…!


Don’t Type Font Comic Sans in Office, Plis…!

Suatu ketika, aku diberikan tugas oleh atasan untuk membuat surat jawaban kepada rekanan perusahaan kami. Karena baru pertama kali, aku pun dipersilakan untuk melihat contoh-contoh dan format-format penulisannya melalui arsip data-data dokumen surat jawaban yang ada di ordner. Singkatnya, aku memperoleh contoh-contoh yang cukup banyak dari file-file yang ada. Namun yang bikin aku heran dan tidak habis fikir adalah kenapa font yang digunakan untuk membuat surat jawabannya adalah font Comic Sans. Bagiku untuk sebuah surat formal dan resmi, penggunaan font Comic Sans sangat tidak pas dan tidak tepat. Pada akhirnya, aku lebih memilih Georgia.

Pada dasarnya, aku tidak terlalu merisaukan masalah penggunaan font karena itu adalah hak masing-masing untuk memilih sesuai seleranya. Namun, jika urusan formal, tentunya tidak pas jika memaksakan kehendak dan selera kita ke dalam dunia perkantoran. Selain itu, ada beberapa alasan kenapa aku tidak sepakat dan nyaman dengan penggunaan font Comic Sans.

Dalam dunia desain, telah lama dipercayai dan diyakini bahwa ‘kesucian’ tipografi dan tradisi serta standar-standar keahlian teknik menulis sangat dijunjung tinggi sepanjang masa. Dari sejak zaman mesin cetak ala Gutenberg sampai pada masa era digital seperti sekarang ini, huruf ketik (huruf cetak) dalam segala bentuk nya memiliki nilai pesan tersembunyi. Huruf ketik boleh dikata seperti halnya suara. Maksudnya, ia memiliki kualitas dan karakteristik yang mampu menjadi media komunikasi dengan pembaca yang menyiratkan sebuah makna sintaks.

Sebagaimana nada suara yang diucapkan seseorang, karakteristik jenis huruf juga menyimpan makna yang terbaca. Tipografi sebuah huruf (font) terletak pada huruf itu sendiri. Tak jarang, karakteristik suatu jenis huruf tertentu seolah-olah berbicara lebih keras daripada teks yang tertulis itu sendiri. Misal, ketika kita menulis tulisan teks “Do Not Enter” yang merupakan instruksi perintah yang agak berat dan keras (baca: tegas), huruf yang kita pakai (sebagai misal) adalah huruf Impact atau Arial Black maka teks tersebut akan terbaca relatif lebih pas dan tepat. Namun, ketika teks tersebut kita tulis dengan menggunakan huruf Comic Sans, tentunya akan terasa menggelikan, meskipun hal tersebut bukan tak pernah terjadi. Bahkan justru sebaliknya, banyak sekali contoh-contoh penggunaan huruf Comic Sans yang -menurutku- tidak pas dan tidak tepat. Mungkin saja, mereka yang melakukan kesalahan tersebut tidak sadar atas kesalahannya. Itulah jika selera pribadi tidak diukur dengan pengetahuan mengenal karakteristik huruf. Mungkin orang sekarang menyebutnya sebagai ‘generasi ALAY’. Tulisan ALAY.

Bagiku sangat jelas sekali, bahwa huruf Comic Sans lebih pas sebagai representasi suara dan nada kekonyolan, kenaifan, kekanak-kanakan, ketidaksopanan, dan terlalu kasual untuk tujuan yang semacamnya. Jika diibaratkan, kita datang untuk masuk kantor (formal) pada hari dan jam kerja dengan mengenakan pakaian badut atau pakaian renang (*kecuali jika tempat kerja kamu adalah sanggar badut dan semisalnya). Atau jika diumpakan hal lainnya, saat kita menghadiri sebuah pertemuan dengan klien dari sebuah perusahaan yang datang dengan pakaian rapi berkemeja dengan dasi serta jas, namun kita datang menyambutnya dengan memakai kaos oblong serta celana jeans. Tentunya, hal ini dipandang sebagai sebuah sikap yang tidakmenghormati klien jika sebelumnya tidak dibicarakan terlebih dahulu.

Comic Sans sendiri, sejarahnya diciptakan oleh seorang desainer bernama Vincent Connare dan selanjutnya dirilis oleh Microsoft Corporation. Connare merancang jenis huruf ini untuk meniru huruf pada buku komik serta untuk penggunaan pada situasi informal. Awalnya, jenis huruf ini disertakan di dalam Microsoft Windows sejak diperkenalkannya Windows 95 sebagai huruf tambahan di Windows Plus Pack dan kemudian di Microsoft Comic Chat. Namun dalam perkembangannya, jenis huruf ini beredar luas dan selanjutnya dianggap huruf biasa sehingga muncul sebagai huruf-huruf cetak di dalam situasi-situasi formal. Mulai saat itulah, font ini kemudian banyak dikritik oleh banyak kalangan. Padahal Connare sendiri merancang huruf ini untuk tujuan memudahkan komikus sebagai pengganti huruf tangan yang digunakan dalam komik-komik serta aplikasi-aplikasi anak-anak.

Vincent Connare (Perancang Huruf Comic Sans) Saat Presentasi

Karena dianggap tidak pas dan sesuai dengan kondisi formal dan maturity, maka muncullah ide dari dua orang desainer, Dave dan Holly Combs, untuk ‘menyadarkan’ masyarakat yang salah tempat dalam menggunakan jenis huruf Comic Sans ini. Mereka mengkampanyekan agar masyarakat luas meninggalkan jenis huruf ‘kekanak-kanakan’ ini. Hasilnya, di dunia internasional kini sudah banyak perusahaan-perusahaan dan perkantoran-perkantoran yang mulai melarang penggunaan jenis huruf Comic Sans. Bagaimana dengan kantor anda? Setujukan anda dengan misi yang diusung Dave dan Holly Combs dalam ‘menghilangkan’ huruf Comic Sans dalam dunia formal?

NB: Saran untuk font pengganti Comic Sans, klik saja di sini.

*Contoh-Contoh Penggunaan Comic Sans Yang Tidak Tepat

Oleh Aimee Daniells

Oleh ocacsms

Oleh Aimee Daniells

Oleh Simon Clayson


Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”


Iklan

4 Tanggapan

  1. benar sekali … kalau saya lebih suka dengan jenis font times new roman saja … atau arial …

    Salam hangat dari Kalimantan Tengah.

  2. mungkin akan sama “lucunya” ketika balon percakapan di komik doraemon diisi dengan huruf times new roman..

    mungkin.. >_<

  3. Huruf kesukaan Ida tu. Dulu Ida selalu saja menggunakan huruf itu ketika chat. Tapi sejaka da yang bilang huruf ‘t’nya menyerupai salib, jadi ganti dah 😀

  4. Lah, kalo saya malah maniak “Times new roman”. Temen2 saya pda suka pake Arial, saya sendiri tetep keukeuh ama “Times”. 😉

    Saya merasa bahwa yang formal itu ya Times new roman. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: