Realisasi Praktik Pembiayaan Bank Islam Dalam Dunia Bisnis



Realisasi praktek pembiayan bank Islam dalam dunia bisnis dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan pada dasarnya hampir sama dengan konsep bank konvensional. Bank Islam sebagai sebuah bank atau lembaga keungan menghimpun dana dari para nasabahnya dengan melalui berbagai macam produknya (deposito, tabungan, dll). Selanjutnya pihak bank berperan sebagai kreditur menanamkan dana yang diperolehnya tersebut dalam pembiayaan-pembiayaan tertentu yang sesuai konsep syariah Islam kepada nasabah debitor. Kemudian, dari hasil keuntungan yang diperoleh oleh bank tersebut melalui pembiayaannya, laba tersebut dibagi dengan para nasabah sesuai perjanjian akad nishbah bagi hasilnya. Semakin besar perolehan laba yang diterima oleh bank Islam itu, maka semakin besar pula bagi hasil yang diterima para nasabah.

Sebagai gambaran umum cara penghitungan dalam bank Islam, berikut ini penulis tengahkan simulasi perhitungan pembiayan bank Islam dalam praktik (diambil dari contoh simulasi Bank Muamalat)

Contoh simulasi pembiayaan Murabahah:

PT. TERUS MAJU perusahaan yang bergerak di bidang Percetakan memerlukan Mesin Cetak seharga Rp. 100.000.000,-. PT TERUS MAJU memiliki langganan supplier mesin yaitu PT. TRAKANTA. PT TERUS MAJU mengajukan fasilitas MURABAHAH kepada Bank Muamalat Indonesia. Setelah Account Manager Bank Muamalat mereview neraca dan laporan keuangan serta sumber pengembalian dari PT TERUS MAJU, maka telah disetujui permohonan Fasilitas Murabahah sebagai berikut:

  • Harga Beli Barang dari Supplier Rp. 100.000.000,-
  • Hargin Bank Muamalat (Margin setara 20% pa. effektif) sebesar Rp. 22.149.950,-
  • Harga Jual pada PT TERUS MAJU (Harga Jual = Harga Beli + Margin) sebesar Rp. 122.149.950
  • Biaya Administrasi Rp. 1.000.000,-
  • Supplier yang ditunjuk PT. TRAKANTA
  • Jangka Waktu Pelunasan 24 bulan
  • Angsuran/Bulan Rp. 5.089.580,-/bulan

Contoh simulasi pembiayaan Mudharabah:

PT. NIAGA ABADI memerlukan dana untuk menambah modal kerja usaha perdagangannya. Untuk keperluan tersebut PT. NIAGA ABADI mengajukan Fasilitas Pembiayaan kepada Bank Muamalat dengan total kebutuhan dana Rp. 100.000.000,-. Setelah dilakukan analisa keuangan, maka disetujui Fasilitas Mudharabah olah Bank Muamalat kepada PT. NIAGA ABADI, dengan persyaratan Fasilitas Mudharabah sebagai berikut:

  • Plafond Rp. 100.000.000,-
  • Jangka Waktu24 bulan
  • Nisbah Bagi Hasil berdasarkan Laba Bersih : 20% untuk bank dan 80% untuk nasabah (PT. NIAGA ABADI)
  • Obyek Bagi Hasil Laba Bersih
  • Biaya Administrasi Rp. 1.000.000.-
  • Pembayaran Bagi Hasil Dilaksanakan setiap akhir bulan
  • Pengembalian Pokok PT. NIAGA ABADI wajib mengakumulasi keuntungan setiap bulan dan menyisihkannya untuk pengembalian waktu

Pada contoh simulasi ini, sangat mungkin jika hasil final (akhir) pembiayaan yang dibiayai oleh Bank Syariah lebih besar (banyak) daripada Bank Konvensional. Pada sudut pandang berfikir ini, tak salah jika masyarakat menilai Bank Syariah dan Konvensional tak ada bedanya (jika semata-mata melihat dari sudut pandang hal ini saja; tanpa melihat sudut pandang usaha apa yang dijalankan, sisi akad, dll).

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

4 Tanggapan

  1. Dulu emang banyak orang melihat bank syariah dg sebelah mata. Tapi lihatlah sekarang… 🙂

    • @Afif: sekarang jg sama saja kayaknya

      hehehehehe

      kudu kreatif lbh lgi agaknya

      😀

  2. bedanya kalau dalam persentase kan berarti makin besar pendapatan persentase keuntungan juga makin besar,karena dihitung dari laba,bukan dari modal 🙂

    kalau kartu kredit yg syariah udah tau mas?? dibahas juga dong 😛

    • @Didot: tahu aja
      belum mempeljari gimana mekanisme…

      hmmm,,, masih belum tahu detailnya
      -msh belajar-

      takut salah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: