Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional


Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional

Perbedaan mendasar antara bank Islam dengan bank konvensional secara umum terletak pada dua konsep yaitu konsep imbalan dan konsep sistemnya. Perbedaan konsep sistem antara bank konvensional dan bank Islam dapat dilihat dalam tabel perbandingan di bawah berikut.

BANK ISLAM

BANK KONVENSIONAL

  • Berdasarkan margin keuntungan
  • Memakai perangkat bunga dan atau bagi hasil
  • Profit dan falah oriented
  • Profit oriented
  • Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan
  • Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan debitur – kreditur
  • Users of real funds
  • Creator of money suplly
  • Melakukan investasi – investasi yang halal saja
  • Investasi yang halal dan haram
  • Pengerahan dan penyaluran dana harus sesuai dengan syariah Islam yang diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.
  • Tidak terdapat Dewan Pengawas Syariah atau sejenisnya

(Sumber: Antonio dan Perwataatmadja, 1999. Apa dan Bagaimana Bank Islam)

Sedangkan perbedaan konsep imbalan antara bank Islam yang menggunakan sistem bagi hasil / profit sharing dan bank konvensional yang menggunakan sistem bunga / interest dapat dilihat dalam tabel berikut.

BUNGA (BANK KONVENSIONAL) BAGI HASIL (BANK ISLAM)
  • Penentuan bunga dibuat pada waktu akad tanpa berpedoman pada untung rugi.
  • Penentuan besarnya rasio bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi.
  • Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang yang dipinjamkan.
  • Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh.
  • Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.
  • Bagi hasil tergantung pada keunungan proyek yang dijalankan. Sekiranya tidak mendapatkan keuntungan maka kerugian akan ditanggng bersama oleh kedua belah pihak.
  • Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang ”booming
  • Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.
  • Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agma termasuk Islam.
  • Tidak ada yangmeragukan keabsahan keuntungan bagi hasil.

(Sumber: Antonio dan Perwataatmadja, 1999. Apa dan Bagaimana Bank Islam)

Ada sebagian orang dari kalangan tertentu yang membedakan antara bunga dan riba. Menurut mereka, bunga tidak sama dengan riba. Bunga adalah tambahan yang sedikit sedangkan riba yang dilarang, menurut mereka adalah riba yang berlipat ganda. Atau mereka mengatakan bahwa diperbolehkan karena riba itu sama dengan jual beli diperbolehkan karena riba itu sama dengan jual beli. Mereka berdalil dengan Surat Ali Imron ayat 130: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.

Akan tetapi pemahaman ini tidak tepat karena mereka cenderung memotong ayat secara parsial. Padahal, masih banyak dasar hukum yang secara jelas menyatakan bahwa riba tetap haram sekalipun sedikit seperti yang tersurat dalam al Baqarah ayat 275: ”Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Pada ayat terakhir, kita bisa melihat bahwa orang-orang yang mengambil riba maka akan menjadi penghuni neraka. Kalaulah riba dibolehkan, Allah SWT tidak mungkin mengatakannya demikian. Dan, di dalam ayat tersebut juga tidak disebutkan bahwa hanya yang riba berlipat yang masuk neraka.

Sedangkan bagi yang berpendapat bahwa riba berbeda dengan bunga, maka berikut ini penulis kutipkan ungkapan dari Prof. M. Abdul Mannan, Ph.D.:

…jika terdapat perbedaan antara riba dan dalam al Quran dengan bunga pada masyarakat kapitalis, hal itu hanya merupakan perbedaan tingkat, bukan perbedaan jenis, karena baik bunga maupun riba merupakan ekses atas modal yang dipinjam. Memang benar riba dianggap tidak canggih dibandingkan dengan bunga. Tetapienyebutkan riba dengan nama bunga tidak mengubah sifatnya…” (Mannan, 1997: 120)

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

4 Tanggapan

  1. Luar biasa…. 🙂

    • @Asop: apanya yg luar biasa lho Sop??? :-s

  2. mantab wan , ane malah baru tau
    ane di desa wan jauh dari bank sayang nya 😦

    • @Rasa Arab: Sok desa lu Wan….

      jgn ngerendah gitu lah

      desa mana ada akses internet dan sinyal wi-fi yg bs di’colong dg kaleng??

      😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: