Lulus SMA


Pengumuman ujian SMU kali ini diliputi ketegangan yang luar biasa. Tak hanya para siswa-siswi saja teapi para guru juga merasakan ketegangan yang sama menanti pengumuman ujian SMU kali ini. Suasana ini juga terlihat pada para orang tua yang memiliki anak kelas tiga SMU. Begitu pula dengan keadaan yang ada di SMU al Islam, tak ada bedanya dengan keadaan yang terisi ketegangan luar biasa dalam menyambut pengumuman ujian SMU tahun ini. Untuk melepas ketegangan yang luar biasa itu, maka banyak siswa-siswi SMU al Islam yang mendirikan sholat dhuha, membaca al Quran, berdzikir, menegadahkan tangan memanjatkan doa kelulusan. Namun, banyak pula para siswa yang melepas ketegangan dengan bermain basket, bermain bola, dan ada pula yang makan camilan-camilan kecil.

Dibawah ring basket, terlihat sesosok siswa berperawakan sedang melakukan lay up memasukkan bola ke ring. Dengan tinggi sekitar 170 cm, dan kemampuan yang baik dalam basket membuatnya menjadi langganan tim al Islam yang lebih dikenal dengan tim SMULSA. Boy, begitu teman-temannya memanggil, adalah salah satu siswa kelas III IPA 2 SMU al Islam yang juga menunggu pengumuman hasil ujian dengan kecemasan.

Di pojok lapangan, terlihat senyum keluar dari bibir seorang siswa berambut pendek ikal berperawakan atletis mengekspresikan kesuksesannya memasukkan three point ball ke ring basket. Inal demikian panggilan akrabnya. Dia adalah anak kelas III IPA 2 yang juga berusaha melepas ketegangan dengan bermain basket.

Di bangku supporter juga terekam sesosok siswa yang terlihat santai dibanding teman-temannya. Ia sedikit terlibat dalam obrolan dengan teman yang duduk di samping kanannya sambil sesekali melihat permainan teman-temannya yang bermain basket. Gama demikian ia sering dipanggil temannya. Namun, kadang ia dipanggil dengan Jihad. Memang sich nama lengkapnya Jihad Syaifullah Satyagama. Kata bapaknya nama tersebut dimaksudkan agar ia kelak bisa berjuang selayaknya pedang Allah untuk menegakkan agama Islam. Wow, keren banget sich kedengarannya tetapi bila melihatnya secara langsung pasti akan kaget, surprise, atau heran yang pasti. Bayangkan saja, kerjanya cuman main, main, dan main walaupun sekarang dia duduk di kelas III IPA 2 sekalipun. Emang gila tuh orang. Selain itu, hobinya juga otak atik motor. Dulu, ketika masih kelas 2, ia punya motor Honda Astrea Impressa yang ia otak atik sehingga kelihatan keren. Tetapi karena ulahnya itu pula ia sering bertengkar dengan bapaknya. Bahkan, ia pernah minggat dari rumah 3 hari. Meski kini ia sudah ganti dengan Suzuki Shogun, tetapi hobinya otak atik tetap jalan. Cita-citanya pengin masuk ke Teknik Mesin.

Di gerbang sekolah, sesaat kemudian, nampak seorang siswa berambut cukup gondrong masuk ke halaman sekolah dan kemudian menghampiri teman sekelasnya yang ada di serambi masjid. Sesaat setelah itu, ia lalu menuju ke lapangan basket mencari teman-temanya, mungkin lebih keren disebut genknya. Fikri, itulah nama panggilannya yang kerapkali diplesetkan menjadi képlé. Nggak tahu sich, kok bisa disebut begitu. Dibanding 3 teman lainnya, sobat kita yang satu ini terlihat paling serius menanti ujian dan mempersiapkan SPMB 2003. Ia ikut bimbel di SSC Solo ditambah belajar sendiri di rumah untuk menggapai cita-citanya agar dapat masuk di jurusan Akuntansi, belum lagi partisipasinya di try out-try out SPMB yang juga sering dia ikuti.

Bel panjang pun berbunyi diiringi suara pengeras suara mengumumkan agar seluruh siswa kelas III segera masuk masjid AtTaqwa, sebuah masjid berkapasitas 1000 jamaah sholat yang ada di dalam kampus SMU al Islam 1.

Dalam pidatonya, kepala sekolah mengatakan bahwa yang tidak lulus pada ujian tahun ini ada 2 orang, perempuan semua. Yang satu tidak lulus karena tidak ikut ujian sedang yang satunya lagi diduga sedang sakit ketika ujian berlangsung tetapi nekad ikut ujian. Mendengar kabar itu maka, sedikit lega hati Fikri, Gama, Inal, dan Boy karena sudah pasti mereka lulus mengingat siswa yang tidak lulus adalah perempuan. Setelah makan siang di kelas masing-masing kemudian Fikri pulang bersama Gama sedang Inal boncengan dengan Boy. Melihat ratusan teman-teman dari sekolah-sekolah lain yang berkonvoi merangsang Fikri dan Gama untuk ikut serta. Namun, sesaat kemudian Gama mengusulkan untuk cari tanda tangan dari teman-teman sekolah di baju putihnya. Pergilah mereka berdua ke sekolahan. Di sana masih banyak siswa yang masih duduk dan melepas kebahagian mereka. Satu per satu mereka minta tanda tangan dari teman-temanya.

Iklan

8 Tanggapan

  1. haduh waktu sma rambutx gondrong y -_-” emang boleh y???

    • @Cempaka: boleh -khusus aku-
      ckakakakak

  2. salam kenal :mrgreen:

    • @Hmcahyo: halah

      kayaknya dah kenal lho

  3. hah, ternyata kekasihku itu… yang lain sedang bersujud – menengadahkan tangan – berdoa , eh, dia malah maen basket…

    dasar kau, Boy *_*

    • @Ikha: hahahaha

      kami semua jg gitu kok…
      😀

      BASKET khan nyawa kekasihmu to?
      pernah khan nemenin dia nonton basket gmn reaksinya???

      -bete-

  4. jadi keingat 3 tahun yang lalu wan 😦

    • @Rasa Arab: kenapa memangnya wan 3 th lalu??
      br lulus ???

      wah, jebule masih cilik to??

      😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: