What is Bank Islam ?


Bank Islam sebenarnya di Indonesia lebih populer disebut dengan istilah bank syariah. Adapun pengertian bank Islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam atau bank yang tata cara beroperasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan al Quran dan Hadits (Antonio dan Perwataatmadja, 1999: 1). Pengertian syariah secara harfiah adalah jalan Allah seperti yang ditunjukkan oleh al Quran dan as Sunnah / Hadits.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan prinsip-prinsip syariah di dalam pengertian ini adalah prinsip-prinsip atau ketentuan mengenai hukum muamalat. Dalam ketentuan hukum muamalat, prinsip utama muamalat ekonomi atau perbankan islami adalah menghindarkan diri dan menjauhkan diri dari unsur-unsur riba dengan menggantinya dengan sistem bagi hasil dan pembiayaan perdagangan. Riba secara bahasa berarti al-ziyadah yang berarti tambahan. Sedangkan menurut istilahnya, riba dalam pandangan Prof. Abdul Manannan, Ph.D. dalam bukunya ”Teori dan Praktek Ekonomi Islam” adalah perpanjangan batas waktu dan penambahan jumlah peminjaman uang sehingga berjumlah begitu besar, sehingga pada akhir jangka waktu peminjaman itu, si peminjam akan mengembalikan kepada orang yang meminjamkan sejumlah dua kali lipat atau lebih darijumlah pokok yang dipinjamkannya.

Di dalam teori ekonomi Islam atau ekonomi syariah sebagai dasar sistem perbankan Islam, diatur beberapa konsep pembiayaan islami yang dapat dipraktekkan oleh perbankan Islam. Diantara konsep-konsep tersebut adalah konsep mudharabah, musyarakah, murabahah, ijarah, wadiah dan lain-lain.

    1. Mudharabah yaitu perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha, dimana pihak pemilik modal menyediakan seluruh dana yang diperlukan dan pihak pengusaha melakukan pengelolaan atas usaha. Setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan (http://ms.wikipedia.org/wiki/Mudharabah)
    2. Musyarakah adalah konsep yang diterapkan pada model partnership atau joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak. Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan mudharabah tidak ada campur tangan (http://ms.wikipedia.org/wiki/Musyarakah)
    3. Murabahah yaitu penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali ke pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang ditetapkan bank, dan pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya angsuran flat sesuai akad di awal dan besarnya angsuran = harga pokok ditambah margin yang disepakati. Contoh: harga rumah, 500 juta, margin bank / keuntungan bank 100 juta, maka yang dibayar nasabah peminjam ialah 600 juta dan diangsur selama waktu yang disepakati diawal antara Bank dan nasabah (http://ms.wikipedia.org/wiki/Murabahah)
    4. Ijarah atau pure leasing adalah pemberian kesempatan kepada penyewa untuk mengambil kesempatan dari barang sewaan untuk jangka waktu tertentu dengan imbalan yang besarnya telah disepakati bersama (Antonio dan Perwataatmadja, 1999: 30). Sebagai contoh adalah pembiayaan mobil, pelanggan akan memasuki kontrak pertama dan memberikan harga sewa mobil tersebut pada kadar sewa yang telah dipersetujui untuk suatu tempo tertentu. Pada akhir tempo pembayaran, kontrak kedua akan dikuatkuasakan bagi pelanggan untuk membeli kendaraan tersebut pada harga yang telah dipersetujui (http://ms.wikipedia.org/wiki/Ijarah)
    5. Wadiah adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah (http://ms.wikipedia.org/wiki/Wadiah).

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. semoga makin jaya bank syariah 🙂

    • @Nur: amiin

  2. Bank Syariah.. hehe salah satu mata kuliah yang bikin mumet dengan istilah2nya…

    Yang saya tanyakan, di dalam konsep bank Syariah dikenal tidak dengan jaminan?

    Karena begini, klo saya tidak salah menyimpulkan, mudharabah merupakan kerja sama. Kerjasama ini menempatkan modal dan keahlian atau profesionalitas kerja dalam kedudukan yang sama. Modal dan keahlian atau profesionalitas mempunyai kesamaan derajat dalam perjanjian mudharabah. Berdasarkan sudut pandang ini, maka secara normative mudharabah bukan utang piutang dan bukan pinjam meminjam.

    Tetapi yang terjadi di lapangan *mohon koreksi apabila saya salah* bank syariah dalam akad kerja sama tersebut mensyaratkan adanya jaminan. Bolehkah ada nya jaminan?
    Soalnya selama ini, jaminan2 tersebut masih diikat dengan hukum nasional *blm hukum islam* misalnya melalui lembaga hak tanggungan. Padahal jelas nyata2 di dalam UU Hak Tanggungan, diatur bahwa Hak Tanggungan adalah perjanjian accesoir (pelengkap) yg selalu mengikuti perjanjian pokoknya (perjanjian hutang piutang). Sementara di dalam mudharabah tidak ada hutang piutang.

    Mohon pencerahan apabila ada yang mengetahui bagaimana cara mengikat jaminan yang berlandaskan hukum Islam, dengan maksud supaya Perbankan Syariah di Indonesia tidak setengah2, tetapi memang murni berlandaskan hukum Islam.

    • @Dear: di dalam konsep bank Syariah dikenal tidak dengan jaminan?

      jawabannya: ada dan memungkinkan

      Betul, mudharabah bukan pinjam meminjam (pd hakikatnya) tp kerjsama
      posisinya: bank spt investor
      debitor spt pengusaha

  3. kartu kredit syariah sekarang udah ada juga lho mas ,keren ya? bunganya udah gak ada lagi,yg ada cuma biaya administrasi 😉

    • @Didot: hmmm,,, belum tahu Dot..
      kpn2 di share gmn sistem dan mekanismenya ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: