Don’t Judge A Book By Its Cover !!!


Don’t Judge A Book By Its Cover

Hari ini sebenarnya merupakan hari yang tidak cukup padat dengan kegiatan dibandingkan hari-hari biasanya. Di samping hari ini libur, karena hari Ahad, kebetulan ada masalah hosting pada web tempat mangkalku sehingga hari ini aku tidak perlu ke kantor untuk cari berita dan update serta posting berita.

Setelah melihat ke buku agenda, ternyata hari ini ada jadwal untuk mengikuti training jurnalistik atau training penulis. Sebenarnya sih, aku merasa agak malas datang karena aku ngerasa nantinya training jurnalistik itu hanya berisi pembahasan 5 W dan 1 H (bukannya nyombong nih, karena aku dah ikut training begituan bahkan sempat dapet mata kuliah dasar-dasar jurnalistik selama satu semester dengan 2 sks). Tapi karena diwajibkan sama bos kecil di tempat mangkal, akhirnya dengan terpaksa saya mengikuti training tersebut. “Siapa tahu dapat hal baru?” pikir saya menutupi rasa malas.

Setelah menyaksikan film anak Doraemon sambil sarapan pagi di atas meja makan di depan layar kaca, aku segera mandi agar tidak terlambat terlalu lama dalam training jurnalistik.

Jangan aneh kalau melihat aku masih suka film khayalan doraemon yang punya 1001 alat canggih untuk membantu Nobita yang dikisahkan sebagai seorang anak yang malasnya minta ampun sehingga selalu minta alat penolong yang praktis. Dulu, ketika aku masih kecil, aku sangat suka nonton Doraemon. Saat itu aku kerapkali berimajinasi untuk membuat alat-alat yang dikeluarkan dari kantung ajaib Doraemon dalam dunia nyata suatu hari nanti. Pikirku waktu itu, Keberhasilan adalah berasal dari Mimpi, Keberhasilan pada hari ini adalah disebabkan karena mimpi pada masa dahulu. Namun, yang menjadi kendalanya, sejak TK hingga SMU, aku bersekolah di sekolah yang liburnya adalah hari Jumat. Sedangkan tayangan Doraemon itu tayang setiap hari Ahad. Akibatnya, jika sehari saja aku mendapatkan liburan pada hari Ahad, maka aku hampir tidak melewatkan untuk menonton Doraemon. Tanpa terasa, hal itu berlangsung hingga saat ini.

Selain karena alasan itu, kenapa aku lebih suka menonton Doraemon daripada tayangan lainnya adalah disebabkan tayangan tersebut memberikan banyak pelajaran yang universal tidak hanya kepada anak-anak melalui pesan-pesan moral yang bisa ku tangkap. Hal ini lebih baik daripada tayangan-tayangan kebanyakan yang menghiasai layar kaca televisi Indonesia yang mayoritas berisi ajakan untuk mengejar dunia semata. Tayangan yang berisi cinta semu remaja, pacaran, pamer kekayaan, budaya gaul, budaya barat, pakaian terbuka, dan segala bentuk-bentuk tayangan yang tidak pernah dijumpai 10 tahun lampau.

Setelah selesai mandi, sesaat kemudian aku memacu sepeda motor untuk segera menuju ke lokasi acara mengingat aku sebetulnya telah terlambat.

Sesampainya di sana, aku merasa kalau aku pasti telah terlambat lama dan sangat mungkin kehilangan satu materi. Namun, untungnya ternyata belum ada satu session inti acara pun yang telah dimulai.

Singkat cerita, aku mengikuti session inti acara pertama. Pembicara yang pertama memperkenalkan ketua PWI daerah Surakarta, yang bernama Pak Budi. Mendengar latar belakang organisasinya, aku berkeyakinan bahwa pembicara ini akan sangat menarik. Semenit dua menit berlalu hingga beliau selesai ternyata dugaan saya tersebut salah. Aku tidak melihat ada sesuatu yang menarik dari apa yang disampaikan oleh beliau. Penjelasannya kurang jelas, cara penyampainnya juga kurang menarik, demikian yang saya rasakan. Aku juga meyakini kalau pendapat teman-teman yang lain yang saat itu ikut training juga akan merasakan demikian. Buktinya, aku sempat melirik ke arah belakang dan kulihat ada peserta yang tertidur hingga pulas.

Pembicara satu selesai, masuk pembicara kedua. Dari penampilannya aku melihat dia kurang meyakinkan. Terkesan agak ndeso. Aku sudah merasa underestimate terlebih dahulu. Kemudian sang pembicara tersebut mengucapkan salam, memperkenalkan diri, dan seterusnya hingga masuk ke inti pembahasan diskusi. Sungguh di luar dugaanku. Apa yang sebelumnya aku pikirkan ternyata salah lagi. Aku memang tidak memiliki bakat sebagai seorang dukun. Dengan kepiawaian menerangkan dengan penuh retorika, sang pemuda ini berbicara urut mengisahkan aktivitas dirinya dalam dunia jurnalistik hingga kemudian aku pun ikut larut dalam alunannya. Tanpa sadar, aku telah mendapat ilmu baru tentang teknik pengemasan berita agar menarik dan teknik pengelolaan berita sebagai pembangun struktur opini berdasar fakta.

(actually written on 18 May 2008 )

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. pertama,,,comment…

    • @Gigih: halah

  2. jangan lihat siapa yang berbicara, tapi dengarkanlah apa yang dibicarakan. begitu bukan sih? 😀
    -salam semangat-

    • @Bee’J: Yup…
      tepat..
      kecuali terhadap RASUL : apapun kata beliau adalah Sabda

  3. semangat ^_^ salam persahabatan,

    • sip. semangat Insya Allah

      salam persahabatan balik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: