Getting a New Friend in Bandung


Friendship

Sumber gambar kathiyavad.com

Jam 4 sore tepat, aku langsung segera absen pulang dengan men-scan lima jariku di mesin scanner absen di kantor. Dengan agak tergesa-gesa, aku pun segera melangkah ke tempat parkir. Di sana mas Edi –seorang pegawai dapur kantor- telah menungguku dengan motornya siap mengantarkanku menuju Gambir.

Pukul 16.15 WIB, kereta Argo Parahyangan siap diberangkatkan dari stasiun Gambir. Demi mengejar kereta jam 16.15 WIB, maka aku minta tolong mas Edi untuk mengantarku ke Stasiun. Sayangnya Allah berkehendak lain. Suddenly, hujan turun dengan cukup deras. Arrrrggghhh. Aku harus mencari pinjaman mantel (jas hujan) terlebih dahulu. Setelah berlarian kesana-kemari, Alhamdulillah aku berhasil memperoleh pinjaman (secara Ghosob_karena kucari-cari yang punya ga ada di ruangan –sory mas Agung 🙂 ).

Dengan sedikit ngebut dan menerjang genangan air setengah betis yang menggenangi jalan Menteng Raya dan Medan Merdeka aku sampai juga di Stasiun Gambir dalam keadaan lumayan basah. Setelah kusampaikan terima kasih dan basa-basi seadanya kepada mas Edi serta melepas jas hujan, aku meluncur berlari-lari kecil menyusuri lorong menuju loket pembelian tiket. Ups, waktu telah menunjuk pukul 16.20 WIB pertanda kereta telah berangkat 5 menit sebelumnya. Huft…. Apa boleh buat? Aku memutuskan ngantre tiket untuk pemberangkatan berikutnya. Lagi-lagi kereta yang masih menyisakan tempat duduk hanya tinggal kereta untuk pemberangkatan pukul 19.00 WIB. Itupun hanya menyisakan tiket berdiri dan eksekutif seharga Rp. 65.000,-. Sementara kereta yang berangkat pukul 17.45 juga telah habis tiket. Arrrrgggghhhh

Alternatif pilihan lain adalah travel gelap. Aku segera menuju pintu penurunan penumpang stasiun. Kutemui seorang calo travel gelap dan kutawar ongkos perjalannya. Singkatnya kami deal dengan nilai ongkos Rp. 70.000,- dengan catatan menunggu mobil penuh terlebih dahulu. Awalnya, peminat travel gelap hanya 3 orang. Aku, seorang pria, dan seorang perempuan muda. Si perempuan pun kemudian bertanya kepadaku, “Amankah naik travel tanpa nama dan label ini?”. Ia bertanya didasari rasa kekhawatiran dan ketidakyakinan dengan travel gelap itu. “Insya Allah ndak apa-apa,” kataku.

Sekitar 20 menit menunggu, datang empat orang pria dari arah dalam stasiun. Alhamdulillah, mereka adalah calon penumpang travel gelap. Karena sudah ada 7 orang calon penumpang, maka mobil pun siap berangkat. Aku duduk di bagian tengah dekat jendela sebelah kiri. Di sampingku ada seorang pria paruh baya yang dari sejak berangkat hingga turun sibuk dengan dirinya sendiri (utak-atik laptop, dan Blacberry, serta membaca Al Quran Digital lewat HP nya). Sedangkan si cewek tercantik satu-satunya di mobil itu duduk di bagian tengah pinggir jendela sebelah kanan.

Perjalanan Jakarta menuju Bandung sempat cukup lama tertahan di dalam kota karena macet cukup padat di sepanjang jalan. Setelah memasuki ruas jalan tol pun, kemacetan tidak menunjukkan gelagat mereda namun justru semakin padat merayap. Secara umum, hingga pintu tol keluar antara Bekasi – Karawang jalan tol boleh dibilang macet. Baru kemudian setelah melewati arah pintu tol Karawang, kemacetan mulai mereda dan mobil sudah bisa berlari semakin kencang. Pukul 20.15 WIB, kami sudah keluar tol melalui pintu Pasteur. Dan sekitar pukul 20.27 WIB, kami pun sampai di depan Stasiun Hall Bandung (sebelah utara). Uang Rp. 70.000,- kuserahkan kepada Mr. Sopir.

Aku pun segera duduk menunggu Ardian Eko –kawan blogger dari Solo yang siap menjemputku- di atas tembok setinggi tempat duduk yang bisa kududuki di depan sebuah tulisan Stasiun Bandung. Cewek yang paling cantik di mobil tadi pun mengikutiku duduk di samping kananku. Agaknya ia juga menunggu jemputan. Sekedar untuk membunuh sang waktu dan mencairkan suasana, kukeluarkan sisa biscuit dan roti dari dalam tas. “Eh, mau biscuit? Ambil aja kalau mau. Belum makan khan?” ucapku mengawali pembicaran.

Owh, saya mas? Hmm,,, iya deh. Makasih ya mas, kebetulan aku laper nih,” balasnya seraya mengambil biscuit yang kutawarkan dan mengembangkan senyum malu-malu mau.

Wah, kayaknya laper berat ya?” tanyaku lagi karena melihat ia tak hanya mengambil satu biscuit saja.

Hmm, iya nih mas. Aku tuh kalau nyemil semisal belum habis cemilannya ga bisa berhenti,” jawabnya dengan senyum penuh keakraban.

Yaudah, diambil aja lah,”timpalku.

Hmm, masnya ni mau kemana dan darimana?” tanyanya kemudian.

Sambil menunggu jemputan, kami pun ngobrol ngalor-ngidul seolah sudah kenal akrab. Singkatnya, ia sekarang masih berstatus mahasiswa ITB, tepatnya di jurusan desain. Ia besar di Jambi sejak SD hingga lulus SMA. Dan saat ini ia tengah menyelesaikan kewajibannya untuk praktek kerja (semacam magang) di sebuah perusahaan di Kemayoran, Jakarta. Di Stasiun Gambir lah kami ketemu dan di Stasiun Hall Bandung lah kami mengakrabkan masing-masing.

Beberapa saat kemudian, Ardian Eko sampai di Stasiun. Dan tak lama kemudian penjemput si cewek itu pun juga sampai. Setelah kumintai, ia pun memberikan Facebook-nya dengan mengetikkan di layar handphone-ku. Hmmm, hari ini temanku bertambah satu, Lara sebut saja demikian.

Satu kawan berarti meniadakan seribu lawan, kehilangan seorang kawan menambah seribu lawan

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

12 Tanggapan

  1. Pertamax dulu ah… komen nyusul…

    • Hmm… baru tahu klo travel gelap Jakarta-Bandung harganya sama dengan travel resminya kebanyakan…

      • @Puri: iya Pur,,,
        cuman mobilnya cumanpakai Kijang, Xenia, avanza dan sejenisnya
        bukan mobil 3/4

  2. wewewewew….
    wis ngerti aku ceritane…
    koq ceritane ga diteruske sampe akhirnya malam hari kemarin?

    • @Ardian: hahahahaha

      kasian dianya klo baca…
      😀

      khusnudzon sajalah aku

  3. gak ada travel terang ya?? terus cerita kelanjutan sama si tunjung itu gimana mas?? 😛

    • @Didot: wah iya ya….

      selanjutnya…………….
      hmm,,,, tahu deh….

      menyedihkan..
      😦

  4. gelap gelap, auah gelap

    • @halah
      kowe ngopo lho Zak

  5. hmmm

    jeles ah

    😦

    • @Cempaka: kenapa mesti jeles lho cempaka…

  6. halo mas new friend,
    waduh saya sedang googling nama saya dan i stucked on this writing. i’m a lil bit disappointed you put my real name here. though it’s okay but it rather bother my mind. 😦

    trimakasih byk ya bantuannya waktu itu. Semoga sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: