Agent Of Positive Change


Dalam lubuk banyak toman
Sekali bah mudik ke rawa
Ustaz sibuk menjual iman
Duduk menyembah menteri dan dewa

Saya pernah membaca sebuah buku yang menceritakan tentang kisah seorang ”ulama” di daerah timur tengah. Syaikh tersebut pada suatu ketika ditanya tentang suatu hukum bagi orang yang menyimpan jimat dan pusaka. Dengan cukup lantang sang Syaikh tersebut menjawab hukumnya haram. Kemudian, si penanya bertanya lagi kepada Syaikh tersebut tentang suatu hukum atas suatu perbuatan lagi. Kali ini dia menjawab hukumnya sangat halal. Si penanya bingung dan kaget, ”kok bisa halal” pikirnya. Padahal seharusnya hukumnya haram. Setelah diselidiki, ternyata sang Syaikh menjawab halal dikarenakan penguasa negerinya melakukan perbuatan itu. Kalau dia menjawab jujur dengan jawaban haram, maka dia tentunya akan berhadapan dengan sang Raja atau penguasa setempat. Aneh memang. ”Ustaz juga manusia…?”


Kalau Anda pernah menonton film ”Gie”, film yang mengisahkan tentang perjalanan seorang aktivis mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia pada tahun 1960-an dalam memperjuangkan idealisme yang dia pahami dan dia yakini. Ketika terjadi ”gonjang-gonjing” politik negeri ini pada tahun 1966-an, Gie, yang nama lengapnya Soe Hok Gie, termasuk tokoh yang meminkan peran cukup besar dalam demonstrasi-demonstrasi menjelang orde baru. Saat itu misi utama gerakan mahasiswa adalah menjatuhkan rezim Soekarno –orde lama. Misi tersebut kemudian berhasil. Selanjutnya, tokoh-tokoh aktivis yang berperan penting ”menjatuhkan” orde lama, dapat ditebak, mendapat durian runtuh berupa jabatan-jabatan di pemerintahan yang sudah berganti rezim. Saat itu, kondisi tidak berlangsung lebih baik dari sebelumnya. Tokoh-tokoh aktivis tersebut juga mulai kehilangan arah perjuangan. Warna-warna kehidupan idealisme mereka telah padam atau setidaknya meredup. Hanya saja, Gie melihat tingkah polah rekan-rekannya tersebut tidak terlalu suka. Dia lebih memilih untuk menjauh dari lingkar kekuasaan. Dia tidak mau idealismenya ditukar dengan jabatan yang berperan selayaknya dewata. Dia menjemput akhir hidupnya di puncak gunung Semeru (Mahameru) untuk mempertahankan idelismenya.

*****

Saat ini kita sering menyaksikan acara-acara keagamaan hampir muncul dimana-mana. Dulu, acara-acara keagamaan mungkin hanya bisa dijumpai di tempat-tempat ibadah saja, tapi kini acara-acara keagamaan juga bisa dijumpai di rumah-rumah masyarakat, rumah-rumah tokoh pejabat, kampus-kampus, sekolah-sekolah, bahkan di hotel pun juga ada acara rutin keagamaan.

Tak hanya itu, para tokoh politik pun saat ini juga penuh dengan para kyai, ustadz, ulama, pendeta, dan tokoh agama. Partai-partai pun banyak yang berbasis pada asas keagamaan.

Singkatnya, saat ini mimbar-mimbar politik sudah menjadi selaksananya mimbar-mimbar keagamaan pula. Pertemuan politik pun dikemas dengan suatu tema keagaamaan. Sebut saja, ”Safari Ramadhan”, Safari Lebaran, Silaturahmi Kader, dan lain-lain.

Akan tetapi anehnya, hampir tidak ada perubahan yang terjadi di masyarakat. Para fakir, miskin, dan kaum dhuafa’ tetap saja bertambah banyak. Kebodohan tetap merajalela. Kesesatan pemikiran keagaamaan muncul bak jamur. ”Nabi-Nabi” palsu kontroversial tak luput ingin merasakan publisitas juga.

Kalau kita menyaksikan di televisi, ustadz-ustadz ternama muncul hampir tiap hari menghibur dan berdakwah. Rumah-rumah mereka sudah berubah menjadi kastil indah yang dijaga beberapa satpam bersiaga 24 jam. Mobil-mobil mereka pun hampir tiap tahun ganti dengan seri yang terbaru.

Sementara kita lihat para pejuang-pejuang dahulu berjuang dengan ”kristalisasi keringat”. Para penyampai kebenaran di Papua, Kalimantan, dan Sulawesi harus menempuh perjalanan beberapa hari menyusur hutan hanya untuk menemui masyarakat pedalaman yang belum tentu bisa menerima ajakannya. Tak ada emas dan uang yang diharapkan. Sungguh luar biasa.

Semoga dunia saat ini belum seperti keadaan yang digambarkan dimana seorang ahli agama sudah menjadi hamba kekuasaan dan hamba penguasa. Kalau memang sudah terjadi pada saat ini keadaan yang seperti itu, semoga kita bisa menjadi ”Agent of Positive Change”.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

7 Tanggapan

  1. namun idealisme sekarang sudah terkubur di pojok -pojok blog dan ruang2 diskusi yang sempit….

    • @kolom kiri: huhmmm,,, bs jadi juga sih

  2. pantunnya keren 🙂

  3. di tengah-tengahnya sedikit memojokkan Islam nih. yah, jangan terlalu SARA ya kalau posting-posting lagi. gw sih fine-fine aja… kali aja gw yg salah baca :mrgreen:

    • @Diaz: hmmm,, kayanya km nya aja yg msh perlu belajar antara tulisan ilmiah, realita, dan yg meninggung SARA…

      *hmmm

  4. diaz : hehe SARA gmn lho? Kan cm memaparkan fenomena yg tjd skrg *menurut sayaaa 😀

    Mas fikri : tp msh ada gak ya mas, ustad2 yg msh “bener”?
    *btw saya suka ma tulisannya mas, pertahankan idealismemuuuu….

  5. @Dear: thank My dear..

    @Julie: halah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: