Benarkah “Setengah Isi” Lebih Baik Dari “Setengah Kosong”?


gelas

gelas

Dalam berbagai pelatihan dan acara-acara training, seringkali digambarkan oleh sang trainer tentang Gelas yang terisi air setangahnya. Beberapa orang diminta berpendapat tentang apa yang mereka lihat atas objek yang berada di depannya itu (gelas berisi setangah air_pen). Dan jawaban yang dianggap paling benar dan tepat serta dinilai ber aura positif adalah jawaban “Setengah Isi”.

Jawaban “Setengah Isi” sering dibaca sebagai jawaban yang memfokuskan pada “ketidakadaan” bukan fokus terhadap “yang ada” yang akan membuat kita memiliki rasa bersyukur. Orang yang menjawab “Setangah Isi” dianggap lebih memiliki sikap optimisme, sementara orang yang menjawab “Setengahnya Kosong” seringkali dianggap memiliki sikap pesimisme dan hal negatif lain.

Kalau persepsi jawaban atas objek “gelas yang terisi air setangahnya” tersebut dilihat dari sudut pandang seperti di atas saja barangkali tidak terlampau salah memang.

Namun ada sudut pandang, persepsi, serta alasan lain yang jauh lebih luas dari sudut pandang di atas. Persepsi itu tentunya dikembalikan kepada masing-masing orang yang memilih jawabannya. Dan jawaban itu sangat mungkin hanya bisa diketahui oleh yang menjawabnya saja. Singkatnya, aku memiliki pandangan bahwa jawaban “setengah kosong” juga memiliki makna kebenaran dan nilai positif bahkan spiritual yang tinggi.

Dalam pandanganku, beberapa orang yang memberikan jawaban “Setengah Kosong” sebenarnya mereka melihat isi gelas tersebut secara menyeluruh dan lebih luas, secara spiritual. Mereka sebenarnya juga melihat bahwa gelas yang setengah kosong itu telah terisi dengan air meskipun hanya separuh gelas. Lalu, karena mereka melihat bahwa setengahnya juga kosong, mereka pun menjawab “Setengahnya Kosong”. Maksudnya, mereka menjawab secara tidak langsung bahwa dengan gelas yang “Setengahnya kosong” itu, mereka mengingatkan diri mereka bahwa gelas itu belum terisi sepenuhnya sementara waktu yang tersisa otomatis semakin menipis. Mereka menganggap gelas yang belum berisi itu sebagai gelas yang masih kosong sehingga harus diisi secepatnya agar segera penuh. Dalam dimensi lain, mereka yang menjawab “Setengah Kosong” mungkin juga memperhatikan sisi yang tidak terlihat dalam objek yang mereka lihat pada mata saja, namun juga sisi lainnya, yaitu adanya dimensi waktu.

Secara otomatis, dengan pandangan seperti di atas, orang yang menjawab “setengahnya kosong” tidak akan menjawab “setengah gelas isi” karena dengan pandangan luas mereka, jawaban “setengah gelas isi” dianggap merupakan jawaban yang muncul dari rasa kepuasan bahwa mereka telah berhasil mengisinya meskipun sebenarnya pekerjaan mereka belum selesai sampai mereka bisa memenuhi gelas itu. Dengan menjawab “setengah isi” dalam pandangan orang-orang yang berpandangan “Setengahnya kosong”, mereka kurang memperhatikan aspek waktu yang terbatas (meskipun aspek itu tidak tersurat) sehingga mereka seolah-olah sudah puas dengan gelas yang hanya terisi ½ nya itu.

Paling penting yang harus kita pahami -minimal bagiku- adalah bahwa permainan atau tes semacam itu tidak bisa dijadikan patokan kepribadian atau sikap seseorang. Betapa banyak orang yang menjawab “Setengahnya Kosong” ternyata di dalam kegiatan-kegiatan sehari-harinya justru lebih mempraktikkan jiwa-jiwa yang optimis dibanding yang memilih jawaban sebaliknya. Hidup khan tidak bisa terbaca hanya dengan sebuah simulasi-simulasi permainan tertentu. Hidup juga tidak selalu seperti Matematika sederhana yang mana hasil 1+1 = 2 semata. Namun, hidup bisa saja seperti 1+1 = {(10+8) : 2} – (7×1) [berliku-liku].

So, masihkah jawaban “Setengah Isi” lebih benar dan baik dibanding “Setengah Kosong” dalam kacamatamu, kawan? Anda boleh berpendapat bebas dengan sudut pandang anda sendiri. 😉

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

13 Tanggapan

  1. Begitu ya…

    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

    • @Mochammad: ini pendapatku, kalau mas punya pendapat lain silahkan

  2. saya sangat setuju bahwa permainan2 test semacam itu tdk bs dijadikan patokan kepribadian seseorang 😀
    “setengah isi” atau “setengah kosong” tdk ada yg lebih jelek, msh perlu didengar alasannya mengapa menjawab “setengah isi” atau menjawab “setengah kosong”.
    Jika msg2 alasan mencerminkan optimisme seseorang utk menuju yg lbh baik, haruskah msh diperdebatkan mana yg lbh benar, “setengah isi” atau “setengah kosong”?
    *itu menurut pendapat saya :D*

    • @Dear: makasih pendapatnya yg tumbenan panjang

  3. Hebat….
    Satu pemikiran yang dalem. Tapi, apapun itu yang penting adalah bagaimana kita bersikap positif meskipun punya cara pandang yang beda-beda..

    • @Rain: Inysa Allah mbak Rain,, mari berusaha berfikir positif
      (tp ada lho yg kaish saran Be Negative..!!) 🙂

  4. Waduh kurang mikir aku, bagiku sama aja ki tow

    Yang penting itu dalam mempraktekkannya

    • @Senorow: Setuju mas Senorow, mungkin itu juga pesan tersembunyinya…

      mau pilih jawaban 1/2 isi or 1/2 kosong yg penting prakteknya ….

      saling berdoa mas Seno

  5. nice blog,,
    keren abis…
    salam..

    http://Meidhyandarestablogme.wordpress.com

    • @Meidhy: thnks

      salam

  6. mantab….
    yang jelas jangan sampai kebanjiran 😀

    salam adem ayem mas

    • @AndiPeace: Salam adem ayem tuh gmn lho??

      😀

      wakakakaka
      kocak kocak

  7. wah bener banget ya wan , mulai sekarang mau tak biasakan dengan setengah isi dah kalau mau menggambarkan sesuatu yang gak full , kebiasa pake setengah kosong ane wan masalah nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: