[Catatan Seputar Piala Dunia] Sepakbola ala Mourinho di Piala Dunia 2010 !!!



Mourinho memang tidak menjadi pelatih salah satu negara yang menjadi kontestan Piala Dunia 2010 Afsel tahun ini. Ia pun juga tidak terlalu nampak mengikuti perkembangan perhelatan olahraga terakbar di dunia ini. Lantas, ada hubungan apa antara Mourinho dengan Piala Dunia 2010 ?

Sebagaimana banyak diketahui, musim lalu saat mengarsiteki Inter Milan, Jose Mourinho begitu dikecam banyak kalangan pecinta sepakbola sekaligus memiliki banyak juga pendukung dan pengagum sosok pelatih ‘kontroversial’ asal Portugal ini. Pengecaman terhadap Mourinho lebih banyak dialamatkan pada visi sepakbola yang diusung Mourinho yang oleh publik disebut sebagai sepakbola pragmatis. Yaitu, sepakbola yang berbicara dan berfikir hanya tentang kemenangan dan hasil akhir. Konsekuensinya, pola pikir ini menciptakan sebuah taktik dan strategi apapun dan bagaimanapun caranya hanya untuk menang, namun dengan cara yang halal.

Sepakbola pragmatis yang diusung Mourinho memang tidak mengajarkan bagaimana sebuah tim seharusnya bermain ‘cantik’ dan memberikan ‘hiburan’. Namun, “The Special One” hanya berfikir bagaimana sebuah kemenangan dalam pertandingan harus berada di tangan. Ujung-ujungnya, Mourinho dituding memainkan sepakbola yang tidak ‘indah’ bahkan menjurus sepakbola negatif oleh sebagian kalangan. Hal itu mengacu kepada keberhasilan Inter Milan, tim asuhannya, saat mempermalukan tim tangguh Barcelona di ajang Liga Champion. Padahal sebetulnya, kalau kita mau jujur terhadap taktik dan strategi Mou, ia hanya berusaha memberikan dan menawarkan sebuah strategi bermain sepakbola yang efektif. Sebuah permainan, betapapun tidak adalah diukur dari kemenangannya entah bagaimanapun cara dia memenangkannya selama masih menggunakan cara yang ‘halal’ dan fairplay dan tidak melanggar hukum1.

Mourinho tidak melulu selalu menerapkan strategi full defense atau bertahan total. Namun terlebih dahulu ia analisa bagaimana kekuatan lawan dan bagaimana kekuatan tim nya. Dengan demikian, ia menjadi tahu langkah apa yang akan dia lakukan untuk berusaha menutupi kelemahan timnya sekaligus menutup kekuatan musuh / lawannya sementara di sisi lainnya ia optimalkan kekuatan yang dimiliki tim-nya. Bagiku, ini adalah sebuah taktik & strategi cerdas dalam tataran konsep tentunya. Khusus Jose Mourinho, ia sukses juga dalam tataran praktisnya dan mengukuhkan sebutan baginya sebagai “The Special One”. Gelar “Treble Winner”nya bersama Inter Milan adalah puncak sementara yang berhasil ia taklukkan sebagai bukti sejarah. Kini, ia tengah mencari puncak-puncak lainnya yang siap ia taklukkan kembali.

Di putaran awal Piala Dunia 2010, entah sadar atau tidak sadar, yang telah memainkan seluruh pertandingan pertamanya, hampir setiap tim menerapkan strategi bermain pragmatis. Yaitu bermain dengan mengukur kekuatan masing-masing dan berorientasi pada kemenangan, tanpa perlu memasukkan gol yang banyak atau permainan yang ‘cantik’. Hanya tiga tim yang berhasil mencetak kemenangan dengan selisih gol lebih dari satu, yaitu Korea Selatan yang menundukkan Yunani 2-0, Belanda yang menundukkan Denmark 2-0, dan terakhir Jerman yang membenamkan Australia 4-0. Selebihnya, kebanyakan pertandingan berakhir dengan hasil imbang atau kemenangan dengan skor yang tipis. Paling parah dan memalukan adalah kekalahan kekalahan Spanyol dari tim Swis 0-1 yang digadang-gadang menjadi kandidat terkuat juara Piala Dunia 2010. Selebihnya, memang ada hasil memalukan lain yang harus ditelan oleh Inggris dan Italia yang bermain imbang.

Kekalahan Spanyol 0-1 dari Swiss adalah salah satu bukti konsep Mourinho yang sukses diterapkan kesebelasan Swiss, yang ditangani Ottmar Hitzfield. Hampir sepanjang pertandingan Spanyol memborbardir Swiss dengan segala cara namun gagal menceploskan gawang Swiss. Namun, dengan sekali peluang yang diperolehnya, Swiss mampu membuat Spanyol malu dan harus menerima kekalahannya, meskipun berat. Beratnya menerima kekalahan ini sangat dirasakan Xavi Hernandes. Bahkan, ia -masih dengan sombong- menyebut bahwa timnya lah yang seharusnya menang, bukan Swiss. Ini bukanlah pertama kali ia mengumpat. Sebelumnya, saat timnya -Barcelona- dihancurkan Inter Milan di Liga Champion dengan cara yang efektif, ia juga mengumpat dan menunjukkan sikap tidak bisa menerima kekalahan. Ia mengatakan bahwa kami-lah yang sepantasnya menang dan menjadi juara Champion. Huft… Capek deh…!

Korea Selatan, meskipun mampu menang 2-0 atas Yunani -yang juga penganut sepakbola pragmatis-, sebenarnya juga bermain dengan konsep pragmatis atau lebih tepatnya efektif. Korea Selatan tidak terlalu menonjolkan aksi-aksi individu yang ‘indah’ namun lebih kepada bagaimana bisa menciptakan peluang yang berakhir dengan gol. Korea Selatan bagaimanapun tidal telah mewarisi strategi Guus Hidding dan Advokaat yang juga penganut pragmatisme sepakbola. Hal itu pula yang dilakukan oleh Jepang yang bermain efektif hingga mampu menundukkan Kamerun, 1-0. Jerman, pada awalnya juga diarahkan oleh pelatihnya untuk bermain efektif dan tidak perlu berfikir mencetak gol sebanyak-banyaknya. Hanya saja, hal itu ‘dilanggar’ para pemainnya yang justru mencetak 4 gol tanpa balas. Korea Utara pun melakukan hal yang sama saat melawan Brazil. Mengetahui kelebihan Brazil, mereka lebih banyak memperkuat sisi pertahanan dan sesekali mengadakan serangan balik. Hasilnya, Brazil sempat merasa kesulitan menghadapi strategi full defense yang diterapkannya. Kalau bukan Brazil, mungkin hasilnya akan lain. Meskipun pada akhirnya kalah, setidaknya Korea Utara mampu membuat deg-degan para pemain Brazil ketika mereka mampu melesakkan gol ke gawang Brazil dengan sangat efektif dan cepat. Sepakbola pragmatis atau efektif ala Mourinho, bahkan juga dianut oleh kesebalasan Brazil, di bawah kepelatihan Dunga, yang mencanangkan diri sebagai tim yang prakmatis dan efektif. Namun, khusus untuk Brazil agaknya pola pragmatisme yang dianut agak sedikit berbeda dengan model Mourinho. Pragmatisme sepakbola Brazil dari dulu sampai sekarang selalu bisa memadukannya dengan permainan yang ‘indah’ dan ‘cantik melalui ‘tarian-tarian’ hampir seluruh pemainnya. Hanya Brazil yang bisa melakukannya. Spanyol dan Portugal yang berusaha mencontoh Brazil, sampai hari ini (dalam kompetisi Piala Dunia) masih perlu belajar lagi.

Agaknya, sepakbola ala Mourinho yang mengajarkan efektivisme sudah mulai digandrungi para pelatih. Konsep sepakbola yang benar-benar menonjolkan peran tim secara utuh dan bukan pada aksi-aksi individual atau menari-nari semata namun gagal melesakkan gol. 😀

1Diantara contoh cara yang tidak ‘halal’ atau tidak fair play bagiku adalah sebagaimana contoh yang dilakukan petinggi-petinggi klub Serie-A Juventus yang terlibat pengaturan skor yang lebih dikenal dengan Calciopoli. Kemudian kemenangan Argentina atas Inggris melalui gol ‘tangan Tuhan’ Maradona. Aksi ‘acting’ Diego Simeone yang menjadikan wasit mengusir David Beckham yang berujung pada kekalahan Inggris di adu penalti; dan lain-lain.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

5 Tanggapan

  1. sip..sip..mrs.mou..yg berhasil membawa inter treble winner…

  2. pengamat bola bangedh neh……..napa ndak jadi presenter bola ja…….?

    • cocok ^^

  3. menurut saya yg penting hasil akhirnya.. jerman jg kemaren jd korban sepakbola pragmatis lawan serbia.. tp ya itu.. hasil akhir yg membuktikan sebuah kualitas tim.. biar kalah tapi aq tetap jagokan jerman.. hehe..

    hidup sepakbola pragmatis… hidup mourinho.. forza inter.. 😀

  4. bola itu bundar..yg penting taktik dan hasil akhir..
    forza inter.. hidup morinho..hidup sepakbola pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: