Catatan Tepi Seputar Novel N5M


Novel Negeri 5 Menara

Novel Negeri 5 Menara

Setelah aku membaca isi novel N5M, aku sebenarnya tidak terlalu kaget dengan aktivitas, kebiasaan, dan hal-hal lain yang terjadi di dalam PM atau Gontor sebagaimana ditulis dan dikisahkan di dalam novel tersebut karena pada umumnya, Pondok-Pondok Pesantren Modern memiliki kebiasaan yang sama dengan yang terjadi di Gontor. Santri-santri pondok-pondok Pesantren Modern selain Gontor yang kukenal selama ini juga mengenal konsep jasus, penataan bahasa, penertiban bahasa, makan bersama, pentas seni, kepanduan, libur hari Jumat, pesiar saat hari Jumat, digundul jika melanggar, ketertarikan terhadap lawan jenis yang lebih dari siswa non pondok, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya termasuk jadwal pondok, aturan tak tertulis dan lain-lain.

Namun, yang menjadi nilai lebih dari Gontor -sepanjang yang kuketahui- adalah karena Gontor boleh dibilang pioneer pertama konsep pesantren modern. Gontor juga merupakan salah satu contoh pesantren yang mampu mandiri. Kini, tak sedikit pesantren-pesantren modern yang juga memberikan fasilitas ujian penyetaraan kepada para santrinya agar bisa melanjutkan studi di Indonesia karena Ijazah lulusan dari KMI (kulliyatul mu’allimin) boleh dibilang tidak laku. Oleh karena itu, ponpes-ponpes banyak yang menbuat dua model kelas yang biasa dikenal dengan MA untuk yang ingin memperoleh pendidikan dan ijazah seperti anak-anak SMA namun plus agama. Satu lagi model KMI yang hanya fokus pada pendidikan agama saja. Biasanya, di beberapa ponpes menerapkan konsep semacam magang. Jadi, selepas lulus dari KMI, seorang santri diwajibkan untuk mengabdi sebagai seorang guru agama di ponpes atau rekanan ponpes yang ditunjuk selama 1 tahun guna menggenapi ‘IJAZAH’. Dari rahim Gontor, telah lahir ribuan alumni dengan beraneka macam bentuk pemikiran dan lahir pula pesantren-pesantren yang dibangun oleh para alumninya. Alumni-alumni pesantren Gontor tidak hanya menjadi ulama saja, namun ada yang menjadi tokoh liberal, cendekiawan, ulama, pemikir, presiden, mujahid, dan aneka macem profesi lainnya.

Kalau menurutku, bukan tentang Gontor semata-lah Fuadi membuat novel Negeri 5 Menara. Tetapi lebih dari itu, ia ingin mengajarkan kepada kita untuk selalu bekerja keras dan berusaha terus menerus untuk mewujudkan cita-cita kita sebagaimana pesan utama pada novel ini yang mengutip sebuah peribahasa yang pernah kuhapalkan pertama kali saat aku masih duduk di kelas 3 SD dalam pelajaran Mahfuzhot, “Man Jadda Wajada”.

Negatifme Pesantren…

Disamping sisi positif yang sangat banyak dari dunia pesantren, ada juga beberapa hal yang menjadi sisi gelap dari pesantren meskipun hal tersebut hanya terjadi kasuistis saja yang jumlahnya mungkin tidak besar.

Diantara hal buruk / negatif dari kehidupan pesantren adalah sebuah fakta yang entah sudah banyak diketahui masyarakat atau belum (setahuku sudah relatif banyak diketahui) adalah perilaku sex menyimpang yang meracuni beberapa orang santri. Kehidupan pesantren yang hanya diisi oleh satu jenis kelamin saja, entah pria atau perempuan saja, yang berlangsung selama bertahun-tahun (minimal 3 tahun) kerap membuat beberapa santri terkena penyakit itu. Timbul rasa suka atau kagum yang menjurus ke arah sayang / cinta kepada sesama jenis. Dan seorang ustadz atau pengurus pesantren, biasanya telah diajari dan hafal betul bagaimana melihat kelainan seperti itu yang ditunjukkan oleh para santrinya.

Sisi negatif kedua, pesantren terkadang justru bisa menjadi bumerang tersendiri. Orang-orang yang ‘nakal’ yang dimasukkan ke pesantren, seringkali justru akan bertemu dengan orang-orang ‘nakal’ lainnya dan selanjutnya berbagi pengalaman kenakalan mereka. Kemudian, selepas lulus dari pesantren, kenakalan mereka justru semakin menjadi-jadi.

Pesantren juga terkadang mencetak kader santri yang kurang siap menghadapi situasi luaran pesantren sehingga para alumninya mudah goyah ketika mendapati dunia luaran tidak seperti dunia pesantren. Mereka lebih mudah goyah saat tergoda hiasan dunia karena belum siap mental untuk terjun di tengah-tengah masyarakat.

Demikianlah sedikit catatanku tentang pesantren yang coba kulihat dalam kacamataku baik atau buruknya. Meskipun demikian, kesimpulanku secara umum pesantren tetaplah lebih condong kepada pencetakan generasi yang baik daripada yang bejat. Wallahu a’lam.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

2 Tanggapan

  1. ahh.. saya pernah ikut pesantren lho..

    Waktu sd, ikut pesantren kilat yang diadakan sekolah selama 3 hari saat liburan menjelang lebaran. :p

  2. wow.. ekstrim 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: