Selesai Membaca Negeri 5 Menara


Novel Negeri 5 Menara

Gara-gara sakit, atau lebih tepatnya kurang enak badan, alhamdulillah aku justru bisa beristirahat di rumah selama liburan di Solo. Sambil istirahat, aku juga bisa merampungkan membaca novel Negeri 5 Menara yang sepekan sebelumnya kubeli di Kwitang, Jakarta Pusat dengan harga Rp. 18.000,-.

Negeri 5 Menara atau disebut pencintanya dengan N5M adalah novel motivasi yang ditulis oleh seorang alumni Kulliyatul Mu’allimin (KMI) pondok pesantren modern Gontor, Ahmad Fuadi. Ia merupakan seorang santri yang berhasil melanjutkan sekolah dan studinya hingga ke luar negeri, tepatnya di Amerika Serikat. Ia berhasil menaklukkan The George Washington University di kota Washington DC dan Royal Holloway, Universitas London, Inggris, dan menggondol gelar MA. Puluhan beasiswa juga berhasil ia raih sebagai bukti prestasinya.

Mungkin karena ingin mengabadikan kesannya saat masuk di sebuah pesantren di Ponorogo itu, Fuadi lantas menuangkannya dalam tulisan berbentuk karya sastra berjudul novel Negeri Lima Menara. Novel itu sendiri sebenarnya berkisah tentang kehidupan para santri di sebuah pesantren di Ponorogo. Fuadi menyebutkan pesantren itu dengan nama Pondok Madani (PM) yang sebenarnya tidak lain tidak bukan adalah Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo itu sendiri.

Alkisah, novel yang didasarkan pada kisah nyata (based on true story) itu mengisahkan persahabatan 6 orang santri yang berasal dan berlatarbelakang suku yang berbeda-beda di Indonesia. Keenam sahabat itu adalah Alif Fikri Chaniago dari Maninjau, Said Aljufri keturunan Arab dari Surabaya, Atang dari Bandung, Raja Lubis dari Medan, Dulmajid dari Sumenep, dan Baso Salahuddin dari Gowa. Mereka memiliki latarbelakang alasan yang berbeda-beda saat masuk ke PM. Karena mereka mengawali masuk PM tidak sejak awal, maka mereka harus menempuh sebuah program yang dalam dunia pesantren disebut takhassus. Sehingga, mereka harus menyelesaikan studinya di PM itu dalam waktu 4 tahun, jika ingin meraih ‘ijazah’ PM, meskipun sebenarnya PM tidak mengeluarkan ijazah.

Alif Fikri (mirip dengan namaku 😀 ) lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain sepakbola di sawah berlumpur dan mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau. Cita-citanya adalah masuk SMA Negeri Bukittinggi bersama dengan Randai, teman akrabnya selama di Mts dan kemudian ingin melanjutkan studinya di ITB Bandung untuk menjadi Habibie. Habibie dalam pandangan Alif pada awalnya adalah profesi, bukan nama seorang tokoh.

Tiba-tiba saja, ia diminta Amak (Ibu) nya untuk melanjutkan sekolah agama agar menjadi penerus Buya Hamka. Alif sempat ngambek dan tidak terima dengan keputusan amaknya itu. Mimpi-mimpinya seolah terbang lenyap begitu saja. Tiba-tiba, pamannya -Pak Etek- yang kuliah di Mesir mengirimkannya surat dan memberikannya saran dan rekomendasi untuk masuk di PM. Bermodal emosi sesaat, Alif pun keluar dari kamarnya menyatakan diri siap masuk pesantren asalkan pesantren yang berlokasi di Jawa, yaitu PM. Ia ingin sekalian ‘melarikan diri’ ke Jawa agar kekecewaan mendalamnya pada Amak bisa hilang. Karena pendaftaran di PM hanya tinggal beberapa hari saja, Alif dan ayahnya segera berangkat dengan naik bus selama tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur, tepatnya di Ponorogo.

Tokoh-Tokoh Asli dalam N5M (ki-ka): Alif - Raja - Dulmajid - Atang - Baso - Alif

Tokoh-Tokoh Asli dalam N5M (ki-ka): Alif - Raja - Dulmajid - Atang - Baso - Alif (sumber foto: situs N5M)

Ia semakin terkaget-kaget ketika ia mengetahui PM tidak mencetak ijazah untuk para santri yang berhasil lulus studi di pondok itu. Mimpinya pun semakin meredup. Meskipun demikian, ia juga merasa terkesima dengan suasana PM yang lain dari pesantren yang selama ini ia kenal dan ketahui. Ia kaget tidak banyak melihat santri-santri yang mengenakan sarung. Ia juga terperangah melihat banyak santri yang ngantri untuk mendaftar di PM.

Di kelas hari pertamanya di PM, Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh [pasti] sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif, Raja, Said, Dulmajid, Atang, dan Baso pun mengikrarkan diri sebagai Shahibul Menara (penjaga menara). Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Allah Maha Mendengar.

Pada akhir novel ini, dikisahkan bahwa Alif, Raja, dan Atang akhirnya reuni di London. Bagaimana bisa mereka bertemu di London? Dibaca saja novel apik ini..!

Novel yang merupakan seri I dari rencana 4 (tetralogi) rangkaian novel karangan A. Fuadi ini kupikir layak dibaca karena cukup menginspirasi dan layak untuk difilmkan, minimal menghijab film-film Indonesia akhir-akhir ini yang lebih banyak menjurus ke horor dan sex.

(Sumber: negeri5menara.com)

(Sumber: negeri5menara.com)

Jika Ingin Info-Info Lain seputar N5M, silakan klik link-link di bawah ini:

  1. Situs Negeri Lima Menara
  2. Blog Ahmad Fuadi
  3. Profil Ahmad Fuadi

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

19 Tanggapan

  1. wah boleh juga nih reviewnya. jadi pengen mbaca juga 😀

    • @Red: harus mas…
      harus dibaca nih…
      bertema mirip Laskar Pelangi

  2. Saya belum pernah membaca novel ini. Sepertinya menarik menengok sisi2 kehidupan siswa dalam sebuah pondok pesantren. Pasti banyak hal yang dapat dipetik dan dijadikan pelajaran yang berharga dari novel dengan 5 orang tokoh utamanya

    • @ Ifan Jayadi : klo di novel I ini hny berkisah ttg kehidupan pesantren saja;
      br nanti di novel berikutnya, yg kedua, ketiga, dan keempat br deh akan menarik
      meskipun demikian, bg yg ingin th kehidupan pesantren, tak salah jika baca ini

      tema yg diambil hmpir mirip dg Laskar Pelangi

  3. kalau gak salah ,pengarangnya temennya uda vizon juga deh 😛

    • @Didot: uda VIZON tuh siapa ya??
      ga kenal bro…
      😦

  4. makasih
    reviewna
    jujur aku juga belum pernah ngebaca tuch nopel
    hehhe
    😀

    • @Darahbiru: iya

      dibaca saja…
      klo mau beli ya beli
      klo asli di tokok buku, klo bajakan cari di Kwitang (jakarta), Sriwedari (solo), Palasari (Bandung), Shopping (Jogja),

      😀

      • cari yg bajakn dijember dmna ya?? hahahha

  5. yang ada di kick andy bukan??

    • @Deny: benul…
      eh, BEtul sekali

  6. wah jadi penasaran baca kelanjutannya…..

    • @Ardee: hmmm…
      dah baca juga ??

  7. ponorogo oh ponorogo…

    • @Dear_ Egha: knp dengan Ponorogo????
      😀

  8. Kalau novelnya sukses, ntar lagi pasti akan ada produser film yang akan membuat versi layar lebarnya. 🙂

    • @Agung: yup
      tp kayake emang itu sdh direncakan untuk dibikin versi layar lebar kok bro…
      dan sudah rencana untuk diterjemahkan ke Malaysia juga

  9. WAH CAKEP NIH NOVELNYA,JADI GAK SABAR PENGEN LIHAT FILMNYA ,OH YA.. KAPAN NIH DWILOGINYA AKAN TERBIT..KU TUNGGU NEEEH..

  10. wah dah lama dtunggu kok filmnya gak ad kbr2 gtu ya??? cpatan donk kluar filmnya ^_^
    oh ya tema yg diambil novel ini ttng kehidupan di pondok pesantren madani aj kan???
    alurnya flashback kan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: