Empat Sekawan Dalam Sesion Pemotretan di Semarang (featuring) Sahabat Den Baguse Fadly


Fadly - Gama - Mr. X - Boy

Fadly - Gama - Mr. X - Boy

Empat Sekawan Dalam Sesion Pemotretan di Semarang (featuring) Sahabat Den Baguse Fadly;

Menunggu ternyata bukanlah pekerjaan yang menyenangkan bahkan sebaliknya justru menyebalkan dan menjemukan. Waktu semenit terasa satu jam jika dalam aktivitas menunggu itu kita tidak melakukan sesuatu. Kulangkahkan kaki keluar melalui pintu di sudut peron stasiun Poncol. Puluhan orang menawariku jasa ojek, taksi, dan becak menuju tempat tujuanku. Aku hanya senyum sambil memberikan kode isyarat tidak terima kasih. Kulangkahkan kaki berbelok ke kanan menuju tempat yang lebih terang bercat putih yang kemudian kutahu merupakan loket pembelian karcis dan tiket kereta api. Kududukkan pantat di atas lantai keramik dan kutaruh tas punggungku di samping kiri. Kusandarkan punggungku di samping tiang penyangga. Aku kirim pesan singkat melalui handphone-ku, “Aku di depan loket di bawah lampu terang”.

Sepuluh menit berlalu, ada suara dari arah belakang kiri menyebut namaku. Aku tengok ke samping kiriku. Ternyata Fadly yang menyapaku. “Assalamu’alaikum…” sapaku. “Wa’alaikum salam..” jawabnya seraya berjabat tangan.

Usai ngobrol kesana-kemari, ia memutuskan untuk mengajakku ke kawasan simpang lima, tepatnya di daerah Tegalrejo dekat Hotel Horison. Ada puluhan penjual jagung bakar terhampar di trotoar tepi jalan. Kami memesan 2 jagung bakar dan 2 teh Botol Sosro (apapun makanannya, minumnya teh Botol Sosro).

Melihat baterai HP ku sudah sekarat, aku mohon izin numpang nge-charge HP di kios jagung bakar itu sambil ku sms Inal, salah seorang sahabatku yang masih dalam perjalanan dari Solo menuju Semarang. Tak lama aku mengirim sms, HP ku berdering. “Halo.”

Kowe nang ndi cuk? Aku wes tekan Tugu Muda ki.” tanyanya dari ujung pesawat handphone.

Cepet men wes nyampai Tugu Muda! Aku lagi mangan jagung di daerah Simpang Lima cedhak Hotel Horison ni piye?” jawabku.

“Yowes, aku tak langsung mrono wae.” respon Inal.

“Ok” jawabku.

Tidak sampai 10 menit berselang, dari arah selatan datang dua motor sambil membunyikan klakson. Seperti yang kuduga, mereka telah sampai juga. Mereka adalah sahabat-sahabatku sejak SMA. Boy, Gama, dan Inal nama mereka. Kami sering menyebut diri kami dengan SDK, sebuah singkatan yang kami maksudkan sebagai Sondakan, sebuah kampung di daerah Solo yang merupakan tempat kami menghabiskan banyak waktu SMA meskipun aku bukan orang daerah itu. Sebenarnya, SDK masih punya satu “anggota” lagi, sebut saja namanya Adin a.k.a Ibling. Sayang dia tidak bisa gabung karena pada saat yang bersamaan harus ke Bandung keesokan hari untuk kegiatan penelitian sehubungan dengan skripsinya. Tak perlu panjang lebar bercerita tentang SDK dan segala aktivitasnya dalam sejarah (halah..) karena akan banyak membutuhkan berlembar-lembar kertas dan waktu yang tidak sedikit. Lain waktu akan kucoba tulis tentang SDK, insya Allah.

Makan jagung selesai, kami segera memacu motor ke arah Ngaliyan. Jalanan sudah sangat sepi mengingat waktu telah menunjukkan pukul 01.00 an. Suara takbiran juga sudah tidak terdengar nyaring seperti sebelumnya. Justru yang kulihat di sepanjang perjalanan, beberapa orang pria dan wanita yang bergerombol memegang botol minuman. Para pria berdandan ala rock n roll sementara sebagian besar wanitanya, hanya mengenakan baju seadanya. Celana ketat di atas lutuh setengah paha membuat mataku teralih sebentar ke arahnya. Baju tanpa lengan ketat yang dikenakan membuat kami berempat tersenyum dan berkata lirih, “Simpang Lima memang keras bung..!” diiringi tawa bersama.

Di sudut jalan berikutnya, warung-warung remang masih saja memutar musik dangdutnya diiringi joget para pria dan wanita. Tangan kiri memegang botol, sementara tangan kanan memegang anggota badan tertentu dari sang wanitanya, si pria bergoyang dangdut terlihat sempoyongan.

Setelah berhenti sesaat di kawasan dekat IAIN (UIN) Walisongo untuk membeli nasi goreng, kami kemudian sampai di ujung gapura bertuliskan “WISMA WALISONGO”. Ternyata rumah Fadli berada di komplek ini. Tak kusangka, ayah Fadli adalah Rektor IAIN (UIN) Walisongo, Prof. Dr. H. Abdul Djamil, M.A.

Sehabis makan nasi goreng, kami segera menggelar karpet dan merebahkan diri langsung tidur mengingat waktu sudah jam 2 malam sementara keesokan harinya kami harus segera bangun menuju Masjid Agung Jawa Tengah untuk sholat Ied di sana sekaligus melakukan dokumentasi foto-foto kecil.

Kebiasaan di Jakarta bangun lebih siang karena waktu subuh yang jatuh waktunya lebih siang dibanding dengan waktu Semarang membuatku bangun kesiangan untuk ukuran Semarang. Itupun setelah dibangunkan Gama. Sudah hampir jam 5 tapi kok langit sudah terang. Kami segera bangun, lalu ambil air wudhu dan sholat shubuh bersambung dengan mandi secara bergantian.

Tak terasa waktu sudah mendekati pukul 06 kurang 5 menit. Agaknya mustahil mencapai Masjid Agung Jawa Tengah untuk sholat Ied disana. Kami memutuskan untuk sholat di masjid komplek Wisma Walisongo.

Selesai sholat Ied dan mendengarkan khotbah, kami berkemas-kemas menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Kali ini kami naik mobil sedan Fadly. Semua peralatan “perang” seperti kamera Nikon dengan Flash dan tripod serta beraneka macam asesoris lainnya yang seharga lebih dari motor pun tak lupa kami bawa. Namun, karena belum sarapan, kami memutuskan mencari warung makan. Keputusan kami jatuh di warung bubur ayam. Hampir setengah jam menunggu, penjual justru menghidangkan bubur ayam kepada puluhan orang yang datang belakangan dari kami. “B*******” kataku lirih.

Serempak kami cabut dari warung bubur itu. Kami pindah ke warung soto tidak jauh dari warung bubur. Ada pemandangan lucu bagi kami. Foto wapres yang terpampang di warung ternyata masih menampilkan pasangan SBY-JK bukan SBY-Budi. Saat membayar di kasir, kami pun menitipkan pesan agar fotonya segera diganti dengan wapres baru. Ibu penjaga kasir pun tersenyum.

Pukul 10.00 kami sampai di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Tak perlu pikir panjang-panjang, kami segera berkeliling dan memotret objek-objek menarik. Beruntung kami sempat menyaksikan atap portable (demikian kami menyebutnya) dibuka memayungi lantai di bawahnya. Biasanya, atap itu jarang dibuka bahkan mungkin tidak pernah dibuka kecuali pada momen-momen tertentu saja. Namun sayang, kami tak sempat mengambil dokumentasi saat atap masjid dibuka karena tiba-tiba hujan turun dan selanjutnya oleh petugas masjid atap-atap yang sebelumnya terbuka justru ditutup kembali.

Hujan agak reda, kami segera berjalan ke arah menara di depan masjid yang merupakan objek wisata masjid. Setelah membayar Rp. 5.000,- per gundul, kami naik ke lantai 23 paling atas.

Tanpa pikir panjang, kami pun berpotret ria dengan segala gaya narsis ala SDK. Ketika melihat ada tulisan “NO SMOKING”, muncullah ide kreatif sekaligus ide nakalku. Aku berpose di depan tulisan “NO SMOKING” seraya memegang rokok dan berakting sedemikian rupa sehingga menunjukkan seolah-olah aku sedang menyalakan rokok dan merokok.

Sesion di lantai paling atas selesai kami turun ke lantai 3 dan 2 mengunjungi museum MAJT. Tak kusangka beberapa karya Fadly terpampang di sana. Hmmm, semoga makin sukses bro.. Capai keliling masjid dan foto-foto. Kami selanjutnya diajak ke studio foto Fadly yang terletak di utara masjid namun masih di dalam komplek MAJT. Kami tidur sebentar sambil menunggu waktu Sholat Jum’at. Seusai Sholat Jumat, sesion pemotretan berlanjut di dalam studio. Jangan tanya hasilnya. Wajah-wajah katrok dan ndeso yang nampak pada wajah-wajah kami bisa terlihat seperti Bruce Willis, Del Piero, Antonio Banderas, dan Cristiano Ronaldo (wakakakakakakakakaka).

Selesai sesion pemotretan di studio Luminos, kami segera menuju Kota Lama dengan terlebih dahulu mampir makan siang di rumah makan. Di Kota Lama, Fadly pun memotret kami dengan kemampuannya. Kami perkirakan ia hanya memakai 10% kemampuannya saja. Namun hasilnya 10 kali lipat hasil jepretan kami berempat yang terbaik.

Liburan kali ini secara jujur SDK banyak sekali merepotkan Fadly. Bagaimana tidak, tidur di rumah dia, sarapan dibayari dia, jalan-jalan keliling Semarang naik mobil dia, foto-foto pakai kamera dia plus hasil yang istimewa serta gratisan. Padahal, biasanya tarif pemotretan yang ia kerjakan selama sehari penuh (8 jam) berkisar 2-6 juta. Itu tarif jasa yang menentukan tim manajemennya. Sementara untuk kami, ia sama sekali tidak memungut bayaran alias gratisan bahkan mentraktir kami sarapan dan makan siang. Sekali lagi, kami ucapkan terimakasih banyak broter.. entah bagaimana kami bisa membalasnya nanti. Good luck and semoga sukses aja selalu..! amiin. Viva SMULSA brother……!!!

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

35 Tanggapan

  1. komen masalah apa ni? gaya penulisan atau konten cerita? hehe
    sukses aja deh buat sdk =D

    • @ yo komentar opo sing isoh dikomentari lah…

  2. masya’Allah……soal nasi gorengnya kecelakaan ya…….

    • emang aku nyebut2 nasi goreng to Dly??

  3. justru karna ga di sebut itu,tak lengkapi sisan

  4. yang ditengah pake baju itemmmm.. mirip mas sutrisnnnoooo hikkss

    *************
    to mas fadly: sy pengen juga di poto kek g2… >_< *ngarep*

    • @Cempaka: ah yg bener…
      masak sih mirip sutrisno…

      ojo gelem Fad…
      :p

      • ternyata ga mirip ckckckkc…

  5. Lho, Pak Ahmed ada ndak di foto itu?

    Pak, ajari aku nulis cerita kayak di tragedi Sutrisno x Titin dong… Oh ya, Sutrisno tuh aslinya ada ya?

    • @Rafael: Sutrisno tuh ada aslinya
      dan kisahnya ttg kisah percintaan mereka itu terjadi beneran
      kalao isi surat cinta antara sutrisno dan titin hny rekaan,
      tp mereka dulu punya byk kumpulan surat2 cinta gitu kok
      klo itu asli dan fakta
      Orangnya msh hidup

      Ajari nulis kayak tragedi sutrisno – titin..?

      hmm, gmn ngajarinnya tuh

  6. Sebuah foto tentang seorang bapak dan ketiga orang anaknya…

    Hei yang mana bapaknya?

    Tentu saja yang memakai baju koko… Hihihi…

    • @Puri: diantara ketiga anak yg pakai baju koko, kmu pilih mana Puri??

      :p

      • pilih bapaknya aja deh… lumayan buat bersih-bersih rumah.

      • ixixiix… 😀 ciyehhhh… prikitiuwwww

  7. waah…. aq terbawa ma tempat2 yang kau sebutkan de’… secara aq org semarang dulunya, selama 23 th aq di sana… tapi sekarang kota itu tinggal kenangan n persinggahan kalau aq mo k solo… 😦

    btw, gayanya boleh juga tuuh, bagus bgt picnya… kincloong hehehe.. b*.^

    • @Sunflo: kuliah di semarang dulu??
      atau tinggal di sana?

      suami org Solo to?

  8. salam kenal ya….

    • @berdebu: salam balik

  9. wah…nyang punya blognya ni nyang mana ya yang ada di foto??

    • @Deny: HEheheh
      menurutu yg nmana??

  10. wuuiiihhh…
    kayak group band aja..nih

    • @Wawan: Emang grup band
      tp g pernah latihan, ga pernah main, ga pernah rekaman
      wakakakakak

  11. kunjungan perdana sob…

    • @Julianus: owh,,,
      silakan masuk..
      sbntar sy ambilin minum dan cemilan dulu

      wakakakaka

  12. weeww.. klo ditebak kayaknya ni grup band beraliran keroncong campuran undergroun dikit..

    keren gan fotonnya.. kayak model2 profesional gt….
    btw kasian tuh temannya.. rugi gara2 digratiskan mulu.. hehe.. :mrgreen:

    • @Sapta: busyet..
      terus lagunya gmn tuh??

      wakakakakaka’yg bener yg motret prof dan pakai kmera prof juga.
      klo modelnya sih amatir.
      😀

  13. nice jepretann gannn…
    salam kenal
    penyakit menular seksual: sifilis/penyakit raja singa

    • @Ossmed:
      salam kenal

  14. Yaaaa…doakan aja Fadli banyak rejekinya n selalu berbaik hati untuk nraktir temen-temennya.
    Menyenangkan hati orang itu pahalanya gede juga lhooo..
    hehee…(maaf ya Fadli)

    • @Wulan: amiin
      Sip sip

  15. Fotonya kerennnn..
    Salam kenal aja yah.. 🙂

    • @dr18nu: yah
      sama2 salam balik’

  16. ya juelaaasss keren dunks!!! maz Fadly yang foto
    heheheheheheheheh…..
    salam kenal dari adik calonnya Fadly 🙂
    kapan foto-foto lagi? ikutan dunks…

  17. empat sekawan tu kalo di pewayangan: ada semar, gareng, petruk, sama bagong.
    he33x kira2 kamu lebih mirip tokoh yg mana neh??
    emhh.. piss mas

  18. ah inikah kamu mbong?? ssiippp dah.. sukses slalu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: