Tulang Rusuk-ku


Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Sutrisno dan Titin duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Titin pun memulai meminta kepastian. Ya,tentang cinta.

Titin : “Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?”
Sutrisno : “Kamu dong?”
Titin : “Menurut kamu, aku ini siapa?”
Sutrisno : (Berpikir sejenak, lalu menatap Titin dengan pasti)
“Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”

Setelah menikah, Titin dan Sutrisno mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kian mendera. Hidup mereka menjadi membosankan.

Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Titin lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, “Kamu nggak cinta lagi sama aku!”

Sutrisno sangat membenci ketidakdewasaan Titin dan secara spontan balik berteriak,
“Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”

Tiba-tiba Titin menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Sutrisno, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar. Sutrisno menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali.

Dengan berlinang air mata, Titin kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing. ”

Lima tahun berlalu.
Sutrisno tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Titin. Titin pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Sutrisno yang tahu semua informasi tentang Titin, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Titin tak menunggunya. Dan di tengah malam yang sunyi, saat Sutrisno meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Titin.

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.

Sutrisno : “Apa kabar?”
Titin : “Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?”
Sutrisno : “Belum.”
Titin : “Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.”
Sutrisno : “Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.”

Titin tersenyum manis, lalu berlalu….” Good bye….” Seminggu kemudian, Sutrisno mendengar bahwa Titin mengalami kecelakaan, mati.

Malam itu, sekali lagi, Sutrisno mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Titin, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan. Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal

Pesan Moral dari cerita ini :

Kurangi minum kopi entar dadanya sakit………..!

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

21 Tanggapan

  1. Menyelamatkan dulu posisi pertama.

    Kok jadi tragedi romantik dramatik sih? Ahiks…

    • @Rafael: hahahah, emang ada apa dg posisi kedua dan seterusnya,,,,
      hahahaha

      tragedi romantik gmn lho???
      kayake bias saja tuh..
      :p

      oke mas rafael, makasih atas posisi pertamanya

  2. weww.. ceritanya keren jg yah.. kayak sinetron gt.. :mrgreen:

    hati2 dgn omongan… kata yg sudah keluar dari mulut bisa jd ancaman buat kita.. apalagi kata2 yg didasarkan pd amarah.. 🙂
    harus dapat dikendalikan kali yaa..,
    😀

    • @Sapta: hahahaha,
      emang itu sinetron…
      itu bukan cerita mas
      cuman renungan

      dr buletin FS jaman dulu

      setuju dg kalimat “hati2 dgn omongan… kata yg sudah keluar dari mulut bisa jd ancaman buat kita.. apalagi kata2 yg didasarkan pd amarah”

  3. untung aq bukan penggemar kopi.. :mrgreen:

    • @Sapta: trus penggemar opo kang??

      aku penggemar kopi
      hmpir setiap hr minum kopi

  4. Hush, sebagai penggemar kopi, saya ga setuju dengan yang terakhir! 😆
    Selama diminum sesuai dosis dan takaran yang ga berlebihan, kopi aman! :mrgreen:
    Tapi, saya tetep suka kisahnya lho. 🙂

    • @Asop: hahahaha,,,
      itukhan kesimpulan ngaco saja Sop…
      jgn diambil serius..

      aku jg penggemar kopi kok

      krn kopi ternyata lebih mnyehatkan drpd susu

  5. Dalam suatu riwayat:
    “Berwasiatlah kepada perempuan dengan hal-hal yang baik, sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya bagian yang bengkok dari tulang rusuk terdapat disebelah atas, , dan jika anda ingin meluruskannya, berarti anda akan mematahkannya, dan jika anda biarkan maka dia akan terus bengkok, maka berwasiatlah kepada perempuan.”

    *nyambung gak ya???-pokoke ttg tulang rusuk- :))

    • btw,,ceritanya dramatis sekali…..
      dada mas sutrisno perih sekali pastinya,rusuknya tlah patah…

    • @Fitroh: halah,,,
      Sutrisno pasti akan nyari tulang lagi …
      hahahaha

  6. Perih, perih, perih, hikz

    • @Cemapaka: ah yg bener….

  7. bener bangettt,,
    orang yang paling kita bisa terbuka, termasuk marah dan melampiaskan segala hal yang buruk, itu adalah orang yang paling kita sayangi.. ^_^

    • @Fara: Makasih tambahannya Far

  8. sudah lama baca cerita ini,memang wanita itu dari tulang rusuk yg bengkok,jadi ngelurusinnya mesti pelan2,terlalu lurus patah,terlalu bengkok kita yg makan ati 🙂

    • @Didot: iya mas ustadz…

      hahhaha

      bukane makan ati itu bergizi tinggi? dan enak?

      hahahaha

      ini file lama banet jaman msh friendster pakai bulbo

  9. kadang kita seringnya menyakiti orang yang kita sayangi…
    hikss hikss…

    penyesalan selalu datangnya terlambat…..
    belajar dari pengalaman semoga tidak terjadi lagi..
    aminnnn

    • @Delia: hikz hikz juga..
      iya…

      jd mana yg bener nih..
      apakah org yg bnr2 mencintai kita itu adl org yg justru sering memarahin kita ?
      seperti kata Fara di atas

  10. doohhh… mendadak sutrisno… 😕
    a sering menjumpai blog yang posting ttg si sutrino ini … ada afa sebenernya??

    • sampe nulisnya belepotan kek gtu.. kamsudnya, aq sering mennumpai …. sutrisno …. gtu de’ ralatnya… jadi malu neh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: