Romantisme Dalam Surat Cinta Generasi ‘Blogger’ Tempo Dulu

Beberapa waktu lalu, aku bikin postingan berjudul Surat Cinta Dua Insan Terlanda Asmara Terpisah Lautan. Bukan bermaksud apa-apa dengan postingan itu, selain lebih karena alasan aku ingin memberikan sebuah penghargaan kepada orang-orang zaman dahulu yang minimal pernah berkarya membuat tulisan berupa sebuah surat atau surat cinta. Salah satunya adalah sosok mas Sutrisno dan mbak Titin. Keduanya adalah pasangan kekasih yang pada saat itu  menjalin hubungan cinta jarak jauh / long distance relationship (LDR). Ternyata eh ternyata, surat cinta mas Sutrisno itu memperoleh jawaban dari Titin yang ditulis oleh dua blogger yang berbeda. Jawaban pertama oleh Cempaka dalam Balasan Surat Cinta; sementara Puri The Pink Octopus pun juga tak kalah membalas surat cinta mas Sutrisno dalam judul Balasan surat cinta? mari muntah bersama! [terima kasih for both of u 😀 ]

Sebetulnya, awal aku tertarik menulis surat cinta itu karena aku memperoleh cerita dari seorang rekan kerja sekantorku yang menjelang pensiun, sebutlah namanya pak Fulan. Beliau bercerita tentang masa tempo dulu saat masih pacaran atau belum menikah, beliau dan kekasihnya menggunakan media surat untuk berkomunikasi karena pada saat itu belum dikenal alat komunikasi macam handphone seperti saat ini. Telepon rumah pun hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Pak Fulan bercerita bahwa surat-surat jawaban dari kekasihnya (saat ini telah menjadi istrinya) tersebut masih ia simpan dan masukkan ke dalam sebuah Folder file yang jumlahnya menumpuk cukup banyak. Begitupula dengan istri pak Fulan, istrinya pun menyimpan surat-surat yang dikirimkan oleh pak Fulan. Jumlahnya pun sebanyak yang disimpan oleh pak Fulan. Di dalam ‘dokumen’ surat-surat yang disimpan itu juga tersimpan surat-surat mereka setelah menikah yang terkadang masih dilakukan karena keduanya sempat berpisah kota dan jarak. Surat, menjadi media komunikasi utama jika keduanya tidak bisa bertatap muka. Biasanya, surat itu dikirim tidak melalui kantor pos atau jasa ekspedisi sejenis lainnya, namun dikirim melalui jasa ‘kurir’ seorang teman yang dipercaya atau bocah-bocah sekolah yang memperoleh imbalan permen atau barang lainnya. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: