Kami Anti Korupsi !! Sumpeh loe?


Kami Anti Korupsi !!  Sumpeh loe?

Aku Malu Korupsi

Aku Malu Korupsi

Konon, Indonesia merupakan negara terkorup nomor satu diantara negara-negara di seluruh Asia[1]. Dan seringkali pun, telunjuk langsung kita arahkan kepada lembaga-lembaga pemerintah dan legislatif serta para pejabatnya. Memang tidaklah salah, karena memang menurut penilaian sebuah lembaga, lembaga-lembaga pemerintah memang merupakan pencipta koruptor terbesar di Indonesia[2]. Kita semua sering dibuat malu oleh predikat negara terkorup itu dan predikat juara terkorup. Saat ada kasus terbongkarnya kasus-kasus korupsi pun kita seringkali ikut pula mengolok-olok dan tidak menutup peluang ikut mencaci para koruptor-koruptor itu.

Namun, terlepas dari kebobrokan mereka dan kesalahan mereka, tak salah lah jika kita melihat diri kita terlebih dahulu. Sudahkan kita terbersih dari perilaku korupsi-korupsi itu? Kecil atau besar tindak korupsi yang kita lakukan, adalah cerminan bahwa kerusakan moral dan akhlak bangsa ini sedikit banyak merupakan partisipasi kita pula. Oleh karenanya, sungguh luar biasa jika kita pun selalu merevisi dan memperbaiki diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Korupsi atau di dalam Islam ada yang menyebut riswah atau ghulul, bisa terjadi kapan dan dimana saja dan oleh siapa saja tanpa melihat profesinya. Seorang pegawai, pengusaha, pejabat, sampai pedagang asongan pun bisa dan berpotensi melakukan tindak korupsi. Bahkan, secara sengaja atau tidak disengaja, mungkin kita telah terjerembab dalam per-korupsian itu. Na’udzubillah wa astaghfirullah.

Saya contohnya. Saya merupakan seorang karyawan atau pegawai di sebuah kantor pemasaran (perusahaan). Pada sela-sela waktu kerja, tak jarang saya membuka account Facebook, Yahoo Massenger, dan website untuk menuliskan tulisan-tulisan tertentu di dalamnya. Tak jarang pula, aku memanfaatkan waktu-waktu kosong untuk menuliskan sebuah artikel atau tulisan tertentu atau hal-hal lain. Artikel yang kutulis inipun kutulis di sela-sela jam kerja di kantor. Terkadang bahkan sering, aku merasa bahwa hal ini tidaklah tepat, sekalipun pada saat itu aku sedang tidak memiliki tugas yang berkenanan dengan pekerjaanku. Sekalipun atasanku mengizinkan aku untuk ber FB atau YM ria asalkan pekerjaan bisa selesai, aku masih merasa bersalah. “Apakah ini juga bagian dari mental seorang koruptor?” pikirku.

Pertanyaan seperti itu muncul jika aku mengingat sebuah kisah seorang teladan luar biasa dari sesosok Umar bin Khattab dan cucunya Umar bin Abdul Aziz. Dalam salah satu kisahnya, ada seorang pejabat negara kembali dan melaporkan adanya kelebihan kekayaan untuk baitul-mal sebanyak 400.000 dinar. Umar bertanya kepada pejabat yang ia tunjuk itu:

“Adakah saudara merugikan orang lain dengan harta itu?”

Tidak,” jawab si pejabat.

“Harta saudara sendiri berapa banyak?”

Dua puluh ribu dirham (20.000 dirham)“.

“Dari mana saudara memperoleh itu?”

Saya peroleh dari berdagang.”

Mendengar itu Khalifah Umar marah. “Kami menugaskan saudara sebagai penguasa, bukan sebagai pedagang!! Kenapa saudara memperdagangkan harta umat Islam?”

Aku tidak tahu apakah kisah itu memiliki analogi yang tepat dengan keadaanku yang ku alami di awal artikel ini.

Kelebihan harta demikian itu, oleh Umar diambil kembali untuk negara dan hanya haknya yang semula dikembalikan pada pejabat itu. Umar memandang salah bagi pejabatnya yang berdagang di saat berkuasa. Sebab ia yakin, seorang pejabat yang berkuasa pastilah mendapatkan fasilitas dan kemudahan dalam menjalankan bisnisnya lantaran kekuasaan yang dimiliki. Dan kemudahan-kemudahan itu dianggap awal dari munculnya kecurangan dalam jabatan.

Selain itu ia berprinsip bahwa jika seorang pejabatnya berdagang, pastilah pikiran dan tenaganya terbagi; di suatu saat ia harus melayani rakyat, disaat bersamaan iapun harus memikirkan bisnisnya. Makna jabatan kala itu benar-benar ibadah dan untuk melayani rakyat, bukan untuk melayani diri apalagi sampai memperkaya diri. Maka tak heran jika tak satupun pejabat negara kala itu kaya raya yang dibuahkan melalui jabatan mereka. Sesuatu yang sangat aneh jika terjadi pada masa sekarang.

Demikian juga ketika ada pejabat yang harus bertanggung jawab itu diketahui memiliki beberapa ekor kuda seharga 1600 dinar, Khalifah yang terkenal tegas itu terkejut sekali lalu diusutnya sampai ke akar-akarnya. Dia tak dapat menerima alasan bilamana itu dikatakan dari hadiah orang, sebab hadiah demikian itu bukan untuk pribadinya, melainkan untuk jabatannya. Khalifah yakin bahwa si pejabat tadi pastilah tak diberikan hadiah sebesar itu bilamana ia tidak sedang memangku jabatan.

Kisah lain yang juga membuat saya sering merenung tentang benarkah tindakan yang selama ini saya lakukan dengan mencuri waktu saat berada di kantor, adalah kisah yang masyhur dari seorang khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Pada suatu malam datang seorang utusan dari salah satu daerah dan sampai di depan pintu rumah Khalifah menjelang malam. Setelah mengetuk pintu, seorang penjaga menyambutnya.

Utusan itu pun mengatakan, “Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.”

Penjaga itu memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata, “Ijinkan dia masuk.”

Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota, dan kaum muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak, orang-orang muhajirin dan anshar, para ibnu sabil, orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan? Apakah ada yang mengadukan? Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota tanpa ada yang disembunyikannya kepada Khalifah.

Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu. Ketika semua pertanyaan Umar telah selesai dijawab, utusan itu balik bertanya kepada Umar.

“Ya Amirul Mukminin, bagaimana keadaan dirimu sendiri? Bagaimana keluargamu, seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu?

Umar pun kemudian dengan serta merta meniup lilin tersebut dan berkata, “Wahai pelayan, nyalakan lampunya!” Lalu dinyalakannlah sebuah lampu kecil yang hampir tak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil.

Umar melanjutkan perkataanya, “Sekarang bertanyalah apa yang kamu inginkan” Utusan itu bertanya tentang keadaannya. Umar memberitahukan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istri, dan keluarganya.

Rupanya utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar dengan mematikan lilin. Dia bertanya, “Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.” Umar menimpali, “Apa itu?”

“Engkau mematikan lilin ketika aku menanyakan tentang keadaanmu dan keluargamu.”

Umar berkata, “Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu membelokan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin.”

Dua kisah itulah yang seringkali menjadi pengusik hati jika saya melakukan hal-hal yang bukan pekerjaan kantor namun saya lakukan pada saat jam kantor dan dengan fasilitas kantor pula. Lantas, apakah anda juga mengalami hal yang sama dengan diri saya? Sudahkah aku bermental anti-koruptor?

Ahmed Fikreatif


[1] http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/09/04010813/indonesia.terkorup.singapura.terbersih

[2] http://www.sumbawanews.com/berita/utama/inilah-lembaga-terkorup-di-indonesia.html

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

22 Tanggapan

  1. dua cerita yang sangat bagus, bila orang2 sekarang kaya gitu niscaya semua orang akan hidup makmur…

    • @Pusat Grosir: Yup amiin
      semoga saja ada

      amiin

  2. Banyak kisah menarik yang kita bisa ambil dari Sang Khalifah..

    Mudah2an ketika kita dekat dengan di Atas..dan sadar bahwa ini semua titipan…Korupsi bisa sedikit terkikis..

    namun sayangnya… 😦

    • @Delia: Iya tuh…
      andai negeri ini skrg ada Khalifah ….

      semoga dunia ini segera berdiri Khilafah yg baik
      amiiin

  3. iya yaa.. seringnya teriak2 anti korupsi… padahal dirinya masih terjebak sifat2 koruptor… makanya sebelum teriak2 baiknya ngaca dulu kaliii… :mrgreen:

    • @Sunflo: 😀

      ya mungkin memang kudu selaras dan seiring juga sih..
      tp bukan berarti jangan / melarang teriak anti korupsi lho ..
      amar ma’ruf kudu terus ada
      nahi mungkar pun juga

  4. Koruptor di tempat kita, mungkin sudah pada taraf yang sangat memprihatinkan, betapa tidak. Pasti mereka paham dengan agama, pasti mereka tahu itu merugikan, pasti mereka tau itu uang jutaan orang rakyat mulai dari yang konglomerat sampai yang melarat, tapi dengan pengetahuannya membuat mereka semakin lihai meniti celah-celah kecil menjadi sarana korupsi yang waow… spektakuler. Mudah2an mereka tidak hanya tahu dan diketahui sebagai korupsi, tapi tahu dan siap bertanggungjawab dengan tindak kejahatannya..

    • @Mahesa: wah makasih tmbhan komentr nya yg semakin mencerahkan

      setuju dg
      >>Mudah2an mereka tidak hanya tahu dan diketahui sebagai korupsi, tapi tahu dan siap bertanggungjawab dengan tindak kejahatannya..

  5. good job. btw jika berkenan minta komentar atau tanggapannya untuk tulisan saya di http://adieriyanto.blogspot.com/2010/04/oeroeg-dan-jalan-panjang-humanisasi.html
    terima kasih sebelumnya.
    Salam kenal
    ;=)

    • @Adie: iya mas adie
      segera ke tkp

  6. Kisah yang terakhir saya pernah membacanya. 😀
    Emang tanpa disadari kita ini pernah melakukan tindakan yang seperti korupsi…. 😦

    • @Asop:iya sop..
      yg penting kita bertanggungjawab dan mau terus memperbaiki …

  7. hmm.. sepertinya belum 😦

    • @Cmpaka: BElum apa??

  8. “Apakah ini juga bagian dari mental seorang koruptor?”

    enggak lah…
    ber YM ria = menghilangkan stres
    stres hilang = pikiran cemerlang
    pikiran cemerlang = kerjaan lancar

    Jadi, klo disederhanakan
    ber YM ria = kerjaan lancar

    (Berlaku juga bagi ber FB ria sama ngeBlog ria)

    Pasti si bos juga berfikir gitu, makanya dia ngijinin kk untuk ber FB atau YM ria asalkan pekerjaan bisa selesai…

    Hehehe

    • @Puri: Hmmm dd Puri… Puri…

      iya deh………….

      tos dulu !!

  9. untung saya sistem kerjanya pakai jam kerja.. kalo lagi ga kerja ya ga dibayar,

    jadi ga ada kesempatan korupsi… 🙂

    • @Rime: hmm, coba gmn klo sistemnya ganti ga jam kerja..?
      trus, emang beda to sistem pakai jam kerja dan nggak..??

      hmm,, masak sih ga ada???

  10. salam kenal 🙂

    • @Hafid: salam kenal juga

  11. bukan mental koruptor donk kalau hanya ber YM,FB apa bloging 😀 asal pekerjaan kita tidak terbengkali dan tidak merugikan orang lain 😀

  12. Saya juga memanfaatkan koneksi internet disela2 kerja. tapi saya kerja tidak ada batasan waktu. Kerja, makan, tidur, mandi, sama aja di tempat itu.. ehehe..
    korupsi atau bukan yang penting sama2 enak. Tidak merugikan orang lain.. Menurut pemikiran pendek saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: