Strategi Seni Super Catenaccio ala Mourinho Tundukkan “Sang Dewa”

(klik di sini untuk perbesaran gambar)

(klik di sini untuk perbesaran gambar)

Strategi Seni Super Catenaccio ala Mourinho Tundukkan “Sang Dewa”

The “Dream Team” Barcelona boleh mengklaim timnya tahun ini [2009-2010] sebagai tim terbaik dunia yang musim sebelumnya sukses merebut 6 gelar. Semalam pun, di Stadion Nou Camp – markas besar Barca – Barcelona mengalahkan tim Inter Milan [1-0] wakil Liga Serie A Italia, Liga yang masih dalam krisis. Namun, bukan Barcelonitas yang berpesta merayakan kemenangan itu. Namun Internazionale Milan, pengurus, dan seluruh Interisti-lah yang bersukacita menyambut “kekalahan” semalam. Dan bukan tak mungkin fans Madrid dan seluruh tifosi Serie-A juga ikut merasa gembira dengan “kemenangan” Inter Milan yang meloloskan tim ini ke Final Liga Champion.

Banyak orang senang dengan kemenangan Inter Milan lebih disebabkan karena kekalahan Barcelona. Maksudnya, siapapun yang mengalahkan Barcelona, maka pecinta bola akan merasa senang. Itu karena Barcelona boleh dibilang sebagai tim terhebat tahun ini dengan cetakan-cetakan kemenangannya yang sensasional baik di liga lokal maupun Eropa. Bahkan musim kemaren, El Barca mampu menyapu bersih gelar seluruh kompetisi yang diikuti. El Barca sukses menggondol 6 gelar dalam semusim.

Kehebatan El Barca masih belum selesai karena melalui “magic” seorang Lionel Messi yang disebut-sebut sebagai “Sang Dewa”, El Barca semakin bertambah liar dalam pertandingan. Arsenal pun harus menelan pil pahit oleh gol-gol cantik “Sang Dewa”.

Namun demikian, sepakbola tetaplah sepakbola. Para pecinta sepakbola akan mengatakan bahwa Bola itu Bundar. Artinya, dalam pertandingan sepakbola, segalanya memungkinkan meleset dari prediksi. Kalau kataku, Hidup Manusia itu Ibarat Kerikil Dalam Cangkir. Tidak ada kesempurnaan yang benar-benar sempurna. Sepandai tupai melompat pun pada akhirnya jatuh pula. Sentuhan “Sang Dewa” pun ternyata tidak berkutik di hadapan manusia biasa seperti Cambiaso dan Javier Zanetti. Messi yang sebelumnya cerdik mengolah bola, ketika berhadapan dengan Inter Milan dalam dua kali pertandingan, ia sama sekali tak berkutik dan menunjukkan kelasnya. Xavi Hernander yang menjadi pengontrol serangan dan irama permainan El Barca selama ini juga hampir dikatakan kehabisan akal saat menghadapi juara Serie-A beberapa musim itu. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: