Dia Yang Kurindu, Telah Ditunggu Orang Lain…


Dia Yang Kurindu, Telah Ditunggu Orang Lain…

Ini kedua kalinya aku dikagetkan dengan kabar yang menyakitkan (Halah). Seorang wanita yang baik di mataku yang saya tunggu untuk suatu saat nanti saya sunting ternyata dikabarkan telah dijodohkan oleh orang tuanya. Pertama kali mendengar berita ini, hatiku seraya tersayat dan tubuh seraya tersambar petir (padahal belum pernah merasakan tersambar petir_wajarlah hiperbolis: maklumin ya…). Gimana  tidak, orang yang sudah lama kudamba yang hendak kusunting suatu saat nanti ternyata baru saja dijodohkan oleh orang tuanya. Dan yang lebih membuat kaget lagi, orang yang dijodohkan dengan “Sang Putri” tersebut adalah adik kelas saya sendiri. Sungguh sama sekali tak terpikirkan sebelumnya.

Memang ini bukanlah peristiwa pertama hati ku goyah oleh “cinta” (ampunilah aku ya Allah…). Sekitar setahun lampau, pernah juga sih mengalami hal yang seperti ini. Saat itu orang yang kudamba memutuskan menikah dengan seseorang tanpa sempet memberikan kabar sebelumnya sama sekali. Jangankan kabar resmi, kabar burung dan isu-isu yang biasanya mengawali sebuah berita perkawinan pun tidak sama sekali kudengar. Tiba-tiba saja, ketika dia datang ke Solo, ia mengatakan bahwa dirinya telah menikah.

“What???” God, help me please…! Wake me up! Ampun…. Padahal, biasanya kita terlibat komunikasi yang cukup intens. Meskipun hanya lewat email, sms, atau chatt via YM, tapi setidaknya kita masih sering berdiskusi tentang sesuatu hal meskipun itu hal yang kecil. Kontan saja, kabar pernikahan tersebut sempat mengganggu konsentrasi saya selama beberapa pekan sebelum saya bisa menerima takdir itu. Konyolnya, sempat terpikir dalam benak burukku untuk menunggu jandanya (ha..ha.. bodoh banget ya aku saat itu… 🙂 ). Beberapa waktu kemudian, saya mulai bisa menerima takdir itu, dan bisa keluar dari lubang yang sempat menenggelamkan diri ini dalam kesunyian dan kebimbangan serta kekosongan motivasi. Saat ini saya sudah menyadari skenario Sang Bos yang lebih memilihkan jodohnya pada orang yang kini menjadi suaminya. Ya, mungkin memang dialah pria yang tepat pikirku saat ini. Selama tinggal masa lalu……

Masa sekarang …… ( 😦 ) kembali ke topick

Peristiwa serupa berulang kembali, meskipun tidak sedahsyat sebelumnya. Ceritanya berawal dari pertemanan saya dengan seorang muslimah yang kebetulan masih teman SMA. Pertemanan kami lumayan sangat dekat, hingga sampa-sampai ketika dia menjelang menikah, dia sempat nanya-nanya saya. Hubungan saya dan keluarga nya juga selama ini berlangsung hangat. Orang tua kami telah saling mengenal, saya pun juga mengenal baik orang tuanya dan keluarganya. Bisa dikatakan keluarganya memang diisi dengan orang baik semua. Nah, diantara seluruh anggota keluarga tersebut muncullah setitik cahaya yang menonjol diantara yang lain (Lebay mode on*). Titik cahaya itu ternyata adalah adik teman saya. Adik teman saya tersebut selanjutnya disebut sang putri. Sang putri memang cukup kalau tidak ingin dikatakan sangat istimewa. Prestasi tertinggi di masa sekolah, sekarang kuliah di kedokteran, orangnya sopan, baik, dan lembut dalam bertutur.

Akhirnya timbullah rasa keinginan untuk mendambakannya sebagai istri. Mana ada sih lelaki yang tidak mau menjadi suaminya? Itulah pikir saya waktu itu. Saat itu saya berpikir untuk menyatakan keinginan itu secara langsung atau setidaknya lewat kakaknya. Tapi kemudian dalam hati saya berpikir “mustahil”. Mustahil untuk menyatakan sebuah kata “cinta” di depan seorang muslimah yang baik sedang pada kondisi itu saya belum siap secara mental maupun materi untuk menikah. Kemudian saya berpikir untuk menyiapkan kekurangan saya tersebut. Sekolah kuseriusi, wiraswasta kutekuni. Kalau diibaratkan, mendaki bukit susuri lembah harus segera saya lalui untuk menemukan puncak gunung di balik gunung (lagi-lagi lebay).

Beberapa bulan kemudian, seorang kawan memberitahu bahwa Fariz (sebut saja demikian) telah dijodohkan dengan seorang akhwat yang luar biasa baik. Fariz adalah adik kelas saya dan kawan saya saat masih di SMA. Faris ini masih memiliki hubungan kerabat dengan kawan saya tersebut. Dia saat ini tengah kuliah di sebuah sekolah kedinasan di Jakarta. Saat itu saya penasaran dengan akhwat yang dijodohkan dengannya tersebut.

Oleh kawan saya dikatakan, kalau ingin lihat akhwat tersebut, saya diminta datang pada hari Ahad pekan kedua di sebuah masjid di dekat rumah kawan saya tersebut (di Surakarta). Kaget bukan kepalang mata saya memandang, bukankan itu “Sang Putri” itu. So, inikah yang dimaksud “jodoh” Fariz itu? Yang bener saja? Bukannya mereka kawan seangkatan? Kok bisa sih..?

Ternyata benar “Sang Putri”-lah yang dijodohkan dengan Fariz. Alkisah, Ibu Fariz-lah yang lebih berperan dalam perjodohan itu. Keluarga Fariz merupakan keluarga yang terpandang di Solo. Kakek Faris adalah seorang Ulama (Kyai) yang ahli hadis di masanya yang juga ikut serta membidani lahirnya sebuah organisasi sosil kependidikan Islam yang cukup besar di Surakarta. Singkat cerita, Ibu Fariz meminta keluarga “Sang Putri” untuk mengadakan perjodohan dengan anaknya. Mungkin karena alasan “pekewuh” dengan “Guru” atau “Kyai”-nya, keluarga “Sang Putri” pun mengiyakan permohonan itu. Hal ini saya ungkapkan karena mustahil mereka (keluarga “Sang Putri”) mau melalui proses perjodohan atau tunangan yang tidak islami ini. Saya hampir yakin untuk mengatakan mustahil mereka setuju dengan pertunangan dan semacamnya. Bagi mereka, tidak ada hubungan lain yang sah kecuali langsung menikah. Tapi, apalah artinnya saya ngomong kayak gini di sini. Yang pasti, perjodohan itu pun benar-benar terjadi.

Usut punya usut, Fariz sebenarnya tidak suka dengan perjodohan ini. Disamping ia tidak suka dengan perjodohan seperti ini, ia pernah mengatakan, “Akhwat ini terlalu baik buat saya. Ini bukan masalah suka atau tidak suka”.

Sempat terpikir dalam otak saya untuk senantiasa berusaha mendapatkan “Sang Putri” sebelum dia benar-benar menjadi takdir bagi Fariz. Toh, bagi saya, tunangan atau perjodohan bukanlah halangan untuk mendapatkannya karena bagi saya tidak ada ikatan resmi dalam agama selain dari ikatan pernikahan.

Hanya saja, saat ini saya mulai berpikir dua kali bahkan seribu kali. Kenapa? Ayah Faris, kebetulan, ternyata adalah pimpinan sebuah yayasan dimana ayah saya menjadi karyawan di dalamnya. Intinya, Ayah Faris adalah Guru sekaligus “Bos” ayah saya juga. Kalau diibaratkan. Ayah Faris adalah Master Guru, sedang saya adalah anak Muridnya. So, mungkinkah saya memutus strata sosial ini? Dalam hati, saya berkata,”mustahil”. “Ya Allah…, apalagi skenario yang kali ini Engkau hadapkan padaku dalam Drama kehidupan ini…?”

“Ya Allah, aku pasrahkan segala hidup dan matiku pada-Mu, Ya Robbi…, Give me the Best Ya Allah….”.   ( 😦 😦 😦 🙂 🙂 🙂 )

(Ditulis dalam kondisi yang bingung dalam posisi ketidakberdayaan dan saat menghadapi ujian mid semester kuliah semester akhir. kisah ini jangan disimpulkan apa adanya karena sudah ditambah bumbu-bumbu hiperbolis untuk mendapatkan dramatisasi ceritanya)

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

23 Tanggapan

  1. Jika sebuah busur sudah kau temukan, kau akan berusaha menariknya, dan mengapa busur yang sudah kau tarik tak segera kau lepas..
    Biarkan dia terlepas, dan bukan hakmu untuk menentukan kemana busur itu meski bersarang…

    • @Mahesa: sayangnya aku bukan seorang prajurit yg sedang membidikkan busur itu dab,,,,, hahahahaha 😀
      okelah kalo begitu..

  2. InsyaAllah kamu akan mendapatkan yang lebih baik..
    karena semua itu ada hikmatnya… 🙂

    Semangat ya

    • @Delia: Wah, amiiiin
      btw, ini kisah seorang temen yg kupakai subjek saya / aku lho…
      😀

  3. sabar bro.. Jodoh itu sudah ditentukan dari yang di Atas,, Semoga saja malah mendapatkan yang lebih baik. Tuhan itu maha adil. 😀

    o iya bro.. kamu mendapat award dari ane..

    http://aguswibisono.com/2010/sebuah-award-di-bulan-april/

    • @Wibisono: Iyo pak…. sabar kok. Tenang saja…
      amiin, semoga gw dpt yg baik..

      ohya?? makasih.. ntar ke TKP segera Gan..

      –btw, itu bkn kisahku lho?-

  4. boss….sepertinya ada yang salah ketik deh (paragraf ke4,kalimat ke2):
    “Mana ada sih lelaki yang tidak mau menjadi istrinya.”
    >>lelaki kok jadi istri?aku jadi bingung bacanya… :-/ 🙂

    InsyaaAlloh akan dipertemukan dengan orang yang tepat (terbaik) di saat yang tepat.

    • @Fitroh: siap Fit. Sudah diperbaiki..

      dipertemukan dg orang baik ya??
      ketemu kamunya kapan ya? 😀
      😉

      • hmm…..;) Allohu A’lam.
        lha…jarene ngenteni sepure teko…xixixi 🙂

        hmm…aku dadi penasaran aktor asli dibalik cerita ini. 😕

      • hmm…..;) Allohu A’lam.
        lha…jarene ngenteni sepure teko…xixixi 🙂

        hmm…aku jadi penasaran aktor asli dibalik cerita ini. 😕

      • hmm….. /:) Allohu A’lam.
        lha…jarene ngenteni sepure teko…xixixi 🙂

        hmm…aku jadi penasaran aktor asli dibalik cerita ini. 😕

      • waduh..error,,,komenku yang bawah ni kebanyakan diklik.so…keluarnya kebanyakan pula.hapusin dah….!!

      • @Fitroh: lha iki wes teko rasah diparani..
        teko malah bawa sepure sisan

  5. selamat lah…
    semua akan indah pada waktunya kok… 😀

    • @Fara: selamat opone??
      yen kiamat pas waktunya yo tetep wae ra indah je…
      kiamat, musibah, kok indah..

      hehehe

  6. tinggal menunggu waktu mas.. gugur satu tumbuh seribu ktanya. Masih banyak orang baik diluar sana..

    • @Ardian Eko: Busyet dah.. koyo pahlawan wae. GUGUR BUNGA..

      –yup, msh byk org baik di luar sana–

      semoga kawanku semuanya termasuk aku mendapat org baik..
      😀

      • halah… gugur satu tumbuh seribu????

        cape deh…. emang ada tuh seribux?? mana coba??? tumbuh satu ajja belon tentu wkwkkwk 😀 visss ah *kaburrr****

  7. Nantikan di toko-toko kesayangan anda :p

    • @Cempaka: lha ini sudah daftar dua:

      dua orang di atas ku..
      hhehehehe

      • hahh………..!!!!!

        *pingsan ditempat***

      • @Cempaka: pingsan??

        br th kalo odapus juga bs jantungan juga..

        *butuh nafas buatan??

  8. Pedih… 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: