Semua Hanya Wang Sinawang….

Wang Sinawang

Wang Sinawang

Pada sebuah kesempatan kumpul bareng. Taufik, Arief, Wawan dan Bayu (bukan nama sebenarnya) terlibat obrolan santai seputar keadaan mereka dengan masing-masing aktivitas keseharian mereka.

“Enak ya kamu…, gaji lumayan besar. Status tetap. Sudah dapat remunerasi. Tunjangan masih dapat macam-macam. Belum uang plus-plus yang lain yang bisa diperoleh..”, ujar si Taufik, pegawai honorer sebuah perusahaan swasta kepada Arief yang bekerja di Kantor Pajak.

“Ah, nggak juga. Kamu lebih enak. Kerjanya tidak terlalu bersinggungan dengan hal yang syubhat. Bersih dan barokah. Santai dan masih bisa kemana-mana. Masih berada di pulau Jawa. Dekat dengan orang-orang yang dicinta. Sementara aku harus berada di luar Jawa dan berada di daerah yang jauh dari aktivitas perkotaan.” Jawab Arief.

“Tapi, kalau dipikir-pikir, paling enak dan beruntung itu Wawan. Lulus kuliah langsung bekerja dicarikan orangtua. Tidak perlu susah-susah mencari. Orangtua mu sudah cukup lebih dari kaya. Mobil sudah dibelikan. Motor disediakan. Rumah dibuatkan. Posisi sangat dekat dan tinggal sekota bahkan serumah dengan keluarga di Solo. Masuk pagi biasa pulang kantor sore hari. Kalau malam masih bisa angkringan. Betapa nyamannya ya Wan.” Ujar Bayu memotong pembicaraan antara Taufik dan Arief sekaligus mengungkapkan pendapatnya yang beda dengan keduanya.

“Wah, kalau dilihat dari luar sih memang begitu Bay. Seolah-olah aku ini di mata kalian memang enak. Semuanya serba disiapkan orangtua. Tapi hatiku merasa tidak nyaman bro. Apapun itu, kerja dengan melalui proses nepotisme itu tetaplah tidak mengenakkan ghati dan selalu bertentangan dengan hati nurani. Apalagi perusahaan itu bukanlah perusahaan keluargaku sendiri. Selain itu, justru dengan banyaknya bantuan orangtuaku membuat hidupku ini seolah tidak pernah bisa lepas dari kebebasan. Aku cenderung didikte mereka. Mau gini tidak boleh, gitu tidak boleh. Aku tidak menjadi diri sendiri. Bahkan di usiaku yang sudah mau menginjak umur 30 tahun ini pun aku belum memperoleh sinyal perizinan untuk menikahi seorang wanita. Sementara kalian khan sudah menikah dan menikmati keluarga. Apapun itu, yang enak hidup dengan kebebasan tanpa ada paksaan bro. Kebebasan yang biasa saja lah sudah cukup. Aku bisa menjadi diriku sendiri bukan menjadi wayang bagi kedua orangtuaku.” Jawab Wawan, merespon pendapat Taufik.

“Paling enak justru kamu Bay. Hidup bebas. Kerja tidak di bawah tekanan siapapun. Mau berangkat jam 7 bisa, jam 9 pun tidak apa-apa. Kebebasan kamu itu sebenarnya justru merupakan hal yang paling indah Bay. Jika aku, Taufik, dan Arief harus bekerja dengan durasi waktu rutin begitu-begitu saja dan masih sering kena marah atasan. Kalau kamu khan bebas. Kamu-lah yang mungkin justru memarahi anak buah kamu. Masalah uang juga, kamu memperoleh penghasilan yang tidak sedikit dari usahamu. Setiap hari bisa nongkrong di Angkringan. Mau mencari pacar atau calon istri punya keleluasaan akses. Kamulah yang beruntung Bay.” Tambah Wawan mengungkapkan pendapatnya tentang Bayu, yang memiliki sebuah usaha sendiri.

***

Diskusi di atas adalah sebuah diskusi biasa yang sering kulihat dan kusaksikan serta kualami pada obrolan-obrolan antar teman atau sahabat yang memiliki aktivitas keseharian yang berbeda-beda yang biasanya muncul saat pertemuan bersama atau reuni (kecil-kecilan atau besar-besaran). Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: