Pilih Mana antara HASIL dan PROSES ???


Lebih penting manakah antara HASIL dan PROSES ???

Beberapa orang mungkin menjawab hasil sementara beberapa orang lainnya akan menjawab sebaliknya, PROSES. Manakah yang lebih tepat? Anda bebas untuk memilihnya. Namun, kali ini izinkan aku untuk sedikit bercerita tentang sebuah kisah antara seorang Ayah dengan anaknya.

Alkisah, ada seorang profesor doktor (Prof. Dr.) yang cukup ternama dan diakui kapabilitasnya di bidang akademisi serta beberapa kalangan. Beliau masih berusia cukup muda dan memiliki seorang istri yang juga bekerja sebagai seorang akademisi dan mengajar di sebuah universitas. Istrinya pun juga seorang yang smart dan cukup sibuk di institusinya. Hampir sepanjang waktunya lebih banyak dihabiskan untuk “pengabdian” kepada keilmuan dan akademik.

Pasangan dosen tersebut memiliki seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas satu. Sayangnya, mungkin dikarenakan alasan kesibukan kedua orangtuanya, sang buah hati ini memiliki kelemahan di bidang matematika. Ia selalu kesulitan untuk bertanya kepada orangtuanya jika memperoleh PR Matematika karena PR dari sekolah lebih sering dikerjakan oleh orangtuanya. Orangtuanya kesulitan untuk menyempatkan waktu mengajari buah hatinya bagaimana menjelaskan sebuah proses perhitungan matematika sehingga sang anak seringkali hanya mengetahui hasil sebuah soal. Orangtuanya terlalu mempercayakan proses belajar anaknya tersebut kepada sekolah si buah hati.

Suatu saat, sang anak mengeluh kepada ayahnya, yang merupakan seorang guru besar di sebuah universitas, agar diajari bagaimana cara mengerjakan soal matematika dengan cepat dan benar karena keesokan harinya sang anak itu akan menghadapi ulangan matematika dengan tema perkalian.

Karena kesibukan sang ayah, ayah sang anak itu kemudian memiliki ide untuk mengetes si anak terlebih dahulu sebelum mengajarinya. Sang ayah kemudian membuat soal sebagai berikut:

1 x 9 =

2 x 9 =

3 x 9 =

4 x 9 =

5 x 9 =

6 x 9 =

7 x 9 =

8 x 9 =

9 x 9 =

Melihat soal itu, sang anak kebingungan dan merasa sulit. Ia pun mengeluh kepada ayahnya, “Pah, aku ga tahu gimana cara ngitung ini?” desah sang anak.

Sang ayah pun kemudian menjawab rengekan anaknya itu, “Gini sayang, pokoknya kamu kerjakan dulu mana soal yang paling mudah! Jika kemudian kamu menemui kesulitan maka kamu urutkan saja soal yang paling mudah terlebih dahulu sampai yang paling sulit, Jika kamu masih kesulitan lagi, maka kamu urutkan soalnya dari yang paling sulit sampai yang paling mudah! Baru kemudian nanti papa akan mengajarimu caranya jika belum paham.” kata sang ayah. “Papa kasih waktu 5 menit untuk mengerjakannya ya…!” kata sang ayah yang kemudian melanjutkan aktivitasnya menuliskan sebuah jurnal.

Sesaat kemudian, sang anak pun berusaha mati-matian mengerjakan soal itu. Soal pertama dengan mudah ia kerjakan karena ia masih sedikit ingat bahwa berapapun kali angka 1 hasilnya adalah angka itu. Jadi kemudian, ia menuliskan hasilnya pada jawaban soal pertama dengan angka 9.

1 x 9 = 9

Namun, ketika ia berusaha mengerjakan soal kedua ( 2 x 9 = ? ), ia pun kesulitan bagaimana cara menghitungnya. Begitupula saat melangkah ke soal ketiga dan seterusnya. Ia bertambah bingung bagaimana cara menghitung operasi perhitungan yang tertera pada soal yang diberikan ayahnya. Waktu masih terus berjalan dan hampir habis sementara sang anak masih saja belum beranjak dari soal nomor 1. Soal nomor 2 sampai terakhir belum ia kerjakan.

Ketika di ujung waktu, dikarenakan ia benar-benar sudah menyerah maka ia ingat pesan ayahnya, “kamu kerjakan dulu mana soal yang paling mudah! Jika kemudian kamu menemui kesulitan maka kamu urutkan saja soal yang paling mudah terlebih dahulu sampai yang paling sulit..”. Soal yang paling mudah sudah ia kerjakan. Maka ia pun kemudian menuliskan sebagaimana pesan ayahnya untuk mengurutkan soal yang paling mudah ke yang paling sulit dengan bolpoin tinta berwarna merah. Selanjutnya ia tulislah pada soal nomor 2 hingga selesai sebagai berikut:

2 x 9 = 1

3 x 9 = 2

4 x 9 = 3

5 x 9 = 4

6 x 9 = 5

7 x 9 = 6

8 x 9 = 7

9 x 9 = 8

Setelah menuliskan urutan soal dari yang paling ia anggap mudah ke yang paling sulit kemudian ia bingung lagi harus bagaimana lagi selanjutnya. Ia teringat pesan ayahnya kembali bahwa “….., Jika kamu masih kesulitan lagi, maka kamu urutkan soalnya dari yang paling sulit sampai yang paling mudah. Maka ia pun kemudian menuliskan sebagaimana pesan ayahnya untuk mengurutkan soal yang paling sulit ke yang paling mudah dengan bolpoin tinta berwarna biru. Selanjutnya ia tulislah pada soal nomor 2 hingga selesai sebagai berikut:

2 x 9 = 1 8

3 x 9 = 2 7

4 x 9 = 3 6

5 x 9 = 4 5

6 x 9 = 5 4

7 x 9 = 6 3

8 x 9 = 7 2

9 x 9 = 8 1

Setelah itu, waktu habis dan sang ayah kemudian bermaksud untuk melihat hasil pekerjaan sang anak. “Sayang, waktu habis, mana hasil pekerjaan kamu coba serahkan ke ayah..!” pinta ayah. Kemudian si anak pun menyerahkan lembaran soal itu kepada ayahnya. Sang anak agak takut karena ia merasa hanya mampu mengerjakan satu nomor soal saja. Ia takut dimarahin karena tidak bisa mengerjakan soal dari sang ayah. Jantung sang anak pun berdetak cukup kencang, deg-degan..

Sang ayah pun kemudian melihat hasil jawaban anaknya itu. “Wah anakku…, saat ini kau sudah hebat.” kata sang ayah. “Kau telah mampu mengerjakan soal-soal yang ayah berikan dengan sempurna. Tidak ada yang salah JAWABANnya.” tambahnya dengan menunjukkan sedikit rasa bangga dengan HASIL jawaban anaknya. “Kalau gitu, kamu besok sudah siap ulangan nak..! Ayah yakin besok kamu akan bisa menempuh ulanganmu dengan baik!” kata sang ayah mengakhiri pembicaraan.

***

Menurut anda, apakah pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas?

Kalau aku melihatnya demikian, bahwa keesokan harinya kemungkinan besar si anak dalam kisah di atas akan mengalami kesulitan saat menghadapi ulangan yang sebenarnya kalau tidak mau aku katakan sama sekali tidak bisa. Pada kisah di atas, sang ayah telah salah sangka terhadap hasil pekerjaan anaknya. Sang ayah merasa bahwa HASIL jawaban sang anak itu benar. YA, jawaban sang anak memanglah tepat dari seluruh soal yang dikerjakannya.

1 x 9 = 9

2 x 9 = 1 8

3 x 9 = 2 7

4 x 9 = 3 6

5 x 9 = 4 5

6 x 9 = 5 4

7 x 9 = 6 3

8 x 9 = 7 2

9 x 9 = 8 1

Bukankah jawaban sang anak itu benar? Tentu saja HASILNYA benar. Sama sekali tidak ada yang salah satupun. 1 x 9 = 9; 2 x 9 = 18; 3 x 9 = 27; dst. Namun INGAT !!! Sang anak memperoleh jawaban itu bukan melalui sebuah proses perhitungan yang benar dan tepat. Sang Anak hanya “kebetulan” saja benar. Sehingga pada soal ulangan keesokan harinya, pastilah si anak itu akan gagal. Sang ayah hanya melihat HASIL, bukan pada PROSES.

Jadi, kesimpulanku dari kisah di atas adalah bahwa aku lebih mengikuti pendapat tentang PROSES itu lebih penting dan mendasar untuk dikuasai daripada memperhitungkan HASIL nya semata dalam dunia apapun. Kesalahan-kesalahan dalam sebuah proses adalah sebuah hal yang lumrah dan biasa. Ingatkah anda dengan Alfa Edison yang konon melalui serangkaian kesalahan dan kegagalan hingga 9999 kali?

Do You Know That MISTAKEs will proceed you to be PERFECT ???

Bagaimana dengan pendapat kamu??
🙂

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

26 Tanggapan

  1. iyya betul itu…. sekali..setuju!!!…….:D

    Ada salah satu dosenku yang lebih menghargai.. PROSES penjabaran rumus walau bagaimanapun HASILnya……….. daripada HASIL,, tanpa adanya PROSES penjabaran*bahkan oleh beliau akan ditolak mentah2*** 😀

    BTW yang terakhir itu.. stat di Fb kan…heuheu

    • @cempaka: hehehhe 😀
      kok tahu sih??

      ssssstttt……….

  2. saya lebih milih proses mas. biar bisa lebih nikmatin

    • @Nur Ali: silakan saja……..
      hak panjenengan.

      *kita memang memilih PROSES, tapi apakah kita juga menghargai Proses yg dilakukan oleh orang lain?? (termenung)

  3. kita sebagai manusia di dunia ini yang dihitung juga proses, bukan hasil dihadapan Tuhan YME..

    berkunjung,,

    • @Wibi – Sono: kalau Prosesnya baik hasilnya buruk pd akhire,
      gimana di mata Tuhan tuh ntar nya
      Ex. prosesnya santri, tp akhire pencuri….

      *kita memang memilih PROSES, tapi apakah kita juga menghargai Proses yg dilakukan oleh orang lain?? (termenung)

  4. Manut karo sing enom. (manthuk-manthuk)

    • @Nurhayadi: ah ra asyik..
      gur manut tok…

      :gedhek-gedhek:

  5. Bener, saya setuju, lebih baik proses dari pada hasil.
    Jadi, buat para mahasiswa, lebih baik dapat nilai B tapi hasil usaha sendiri, dari pada A tapi nyontek. 😆 *ga nyambung*

    • @Asop: Lebih dapat A dan tdk nyontek…..
      *nyambung lah je….

      • Asyik lah kalo A… 😆

  6. pilih proses dong,,,
    yang penting ikhtiarnya kenceng
    hasilnya serahkan kepada Allah ^_^

    • @Fara: hmmm,,, ini tdk bahas proses yg lain lho….
      mentang2 yg habis “proses”…

      • halah,,, soyo nyangkut nang endi2 ki bahasane 😀

  7. tergantung konteksnya (halah, awan2 ngelantur jhe :D)

    • @Nurrahman: Tergantung konteksnya yg gimana misale tuh Gan???

  8. saya pilih proses! hehehe

    • @Danu Akbar: *kita memang memilih PROSES, tapi apakah kita juga menghargai Proses yg dilakukan oleh orang lain?? (termenung)

  9. proses yang ber-hasil. hehe

    • @Kang Bondan: alhamdulillah

      hehe juga

  10. kueren sekali tulisannya kang 😀

    memang proses jauh lebih penting daripada hasil.

    perkataan”the end justify the meaning ” cenderung menghalalkan segala cara untuk sukses,bahkan kadang2 cara yg tidak benar sekalipun 🙂

    • @ustad Didot: alah2… kepalaku ga muat ditutup helm.
      iya tadz…
      harapannya sih proses halal hasil halal dan berhasil
      selamat berproses sendiri2 ya pak ustadz…

  11. Berkaca dari gonjang-ganjing Ujian Nasional….rasa2nya anak2 sekarang kok lebih suka sama hasil ya…nggak penting lagi prosesnya..Padahal gimana mereka bisa dapet hasil kalo nggak mau ngerjain prosesnya??

    salam.

    • @Thomas: hm,,,,,
      mungkin krn sistem pendidikan skrg scr tdk langsung mengarahkan kita untuk lebih berfikir pd hasil drpd proses.
      Sehingga, penentuan keberhasilan proses pendidikan hny dinilai dg beberapa hari tes dan mata pelajaran tertentu saja.
      Itulah kesan yg sy terima saat model ujian seperti itu diterapkan pertama kali di zamanku

  12. baca kisah (kisah nyatakah?)di atas jd inget adik2 lesku .Banyak dr mereka yg “tidak sempat” diajari/didampingi ortu mrk saat belajar walau ortu mrk mampu mengajari (tp ada jg yg mengaku tdk mampu).*melenceng dikit 🙂
    Pilih PROSES boss!!!
    yg dinillai kan prosesnya…^_^
    Jika bertumpu pd proses,segala usaha dlm proses itu pasti kan “membekas”.setelah memperoleh hasil pun kan merasa lebih puas(apalagi proses yg penuh dg perjuangan).banyak yg bs diperoleh dlm proses drpd hanya bertumpu pd hasil.
    *fitrohsoktau.com….hehehe

    • @Fitroh: kalo aku lebih memandang kpd kepuasan atau tidaknya, meskipun itu juga merupakan nilai positif tersendiri.
      Cuman, aku menitikberatkan bhw Islam mengajarkan untuk melakukan sebuah proses.

      Man jadda wajada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: