Sebuah Kisah tentang Giman dan Gimin


Sebuah Kisah tentang Giman dan Gimin

Ada seorang Manajer sebuah perusahaan memiliki dua orang staf yang membatunya. Kedua staf tersebut masing-masing memiliki dua karakter yang berbeda. Sebutlah nama mereka Giman dan Gimin. Sang Manajer tersebut bingung memilih mana diantara dua stafnya itu yang lebih baik atau yang lebih ia butuhkan.

Giman adalah staf sang manajer pertama. Ia merupakan karyawan yang selalu mengerjakan setiap tugas-tugasnya dan tugas yang diberikan oleh atasannya dengan entengan dan tanpa banyak protes. Namun, kekurangan Giman adalah tugas-tugas yang dilaksanakan oleh Giman sering memakan waktu yang cukup lama meskipun tidak sampai melampaui batas waktu yang ditentukan. Selain itu, hasil tugas-tugas Giman juga tidak terlamapu bagus sebagaimana yang diharapkan oleh sang Manajer. Agar hasil pekerjaan Giman bisa lebih baik, maka sang Manajer sering harus berulang kali mengajari Giman. Meskipun sering dimarahi sang Manajer-nya, Giman tidak marah karena ia merasa bahwa hasil perkejaannya memang kurang memuaskan.

Di sisi lain, sang Manajer memiliki staf lainnya bernama Gimin. Dalam mengerjakan tugas-tugas dan perintah Sang Manajer, Gimin selalu menyelesaikannya dengan baik dan hampir sempurna. Hasilnya jauh lebih baik dibanding dengan hasil kerjaan Giman. Sang Manajer tidak perlu harus berulang kali mengajari Gimin untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.

Namun, dalam melaksanakan tugas-tugas dan pekerjaannya, Gimin kurang ringan mengerjakannya. Perintah Sang manajer-nya sering ia abaikan jika ia tidak diberitahu betapa pentingnya tugas-tugasnya itu. Sang Manajer harus lebih ekstra memberikan argumen-argumen atas tugas yang diberikannya kepada Gimin karena Gimin sering banyak bertanya “untuk apa”, “kenapa”, dan “apa urgensi” pekerjaannya itu. Intinya, Gimin selalu melakukan “protes-protes” kecil terlebih dahulu pada atasannya. Tak jarang pula Gimin meminta kompensasi atas kerjaannya yang mendekati sempurna sesuai dengan harapan sang Manajer bahkan melebihi keinginan atasannya itu.

Membandingkan antara Giman dan Gimin, sang Manajer kerap dibikin bingung untuk lebih memilih mana diantara keduanya yang lebih ia prioritaskan dan “anak emas” kan. Singkatnya, setelah melalui proses yang merenung yang cukup lama, akhirnya Sang Manajer lebih suka meminta Giman untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sang Manajer. Ia lebih sreg memilih Giman dibanding Gimin.

Alasan yang diungkapkan sang Manajer kenapa lebih memilih Giman daripada Gimin diantaranya disebabkan karena sang Manajer berpendapat bahwa mendidik orang yang belum bisa menjadi bisa itu lebih mudah dibanding mengubah mentalitas seseorang. Giman memiliki kekurangan dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya yang kurang memuaskan dan relatif lebih lama. Namun, sang Manajer beralasan bahwa kekurangan Giman ini masih bisa diupayakan untuk dikurangi seiring dengan banyaknya pelatihan kepada Giman.

Sementara kekurangan Gimin lebih kepada mentalitas dan karakter Gimin itu sendiri. Sang Manajer beralasan bahwa ia tidak membutuhkan hasil sebuah pekerjaan yang sempurna namun dikerjakan dengan kurang ikhlas serta disertai pengharapan balasan atas kerjanya tersebut. Untuk mendidik seseorang agar lebih ikhlas dan bekerja menjadi lebih sungguh-sungguh, sang Manajer merasa akan lebih banyak menyita waktu dengan lebih sering memberikan nasehat dan harus menahan jengkel bahkan sakit hati jika memperoleh “protes” atau menerima pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan Gimin.

Demikianlah akhirnya sang Manajer lebih memilih Giman dibanding dengan Gimin. Jika anda menjadi sang Manajer, kira-kira siapakah yang lebih anda pilih?? Ingat, jika anda seorang MANAJER lho. Dan tidak bisa memilih kedua-duanya. 😀

NB: Ketika pertanyaan itu diajukan kepada beberapa orang Manajer di sebuah perusahaan dalam sebuah pelatihan / training, fakta berbicara bahwa mayoritas manajer dan hampir secara keseluruhan memilih profil GIMAN dibanding Gimin.

(kisah di atas kuperoleh dari atasanku dalam sebuah obrolan ringan di kantor)

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

12 Tanggapan

  1. wah gitu ya, trus gimin dikemanain??

    salam

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/12/p-s-i-love-you/

    • @Thomas: gimin disimpen dulu aja ya.. 🙂

  2. stujuuu lahh..
    saia juga milih giman.. ^^

    • @Chiekebvo: (susah amat nulis namanya) 😀
      hmmm,, alasannya kenapa?

  3. Sangat setuju dengan opininya mas, pilih saja giman, saya seringkali mendapati orang-orang seperti gimin giman, ketika awal-awal trining terlihat giman kalah dengan gimin, tetapi seiring waktu berjalan giman terlihat lebih unggul. Kuncinya keikhlasan dan motivasi untuk terus belajar. Just my opinion.

    • @Nurhayadi: hmmm,, kmu benar2 mengetahui maksud tulisan sya klo gitu. 🙂
      Nanti akan muncul tulisan bahwa harapan dri situ kita akan memperoleh tdk lagi GIMAN namun GUMUN.
      bagaimanakah profil GIMAN?
      *msh ditulis

  4. Salam kenal dari Malaysia……

    http://ibnismail.wordpress.com

    • @Abu Musaddad: salam balik pak Abu Musaddad

  5. Umm… opini aja yah kk. Soalnya saya belum pernah terjun ke dunia kerja yang sebenarnya… Jadi klo salah, mohon dimaafkan…

    Adalah wajar ketika seseorang menginginkan penghargaan “lebih” ketika apa yang dikerjakannya memang “lebih”.
    Dan adalah wajar pula ketika seseorang mengetahui ““untuk apa”, “kenapa”, dan “apa urgensi” pekerjaan yang sedang dikerjakan. Kalo sudah tahu memang seharusnya tidak ditanyakan… tapi kalo belum tahu? ya wajib diberi tahu kan?
    Kalo saya lihat sih sebenarnya intinya ada pada manajer nya tuh… kenapa harus menganak emaskan salah satu? bukannya semua nya adalah pegawainya yang memiliki kedudukan yang sama di perusahaan?
    Tugas manajer kan harus me”manage” anak buahnya kan? Bukannya terima jadi doank… mendidik anak buahnya sesuai yang dibutuhkan… Kalo kurang skill ya didiklah skillnya, klo kurang mental ya didiklah mentalnya… Disinilah tugas sebagai seorang manajer diuji… Jangan cuma enak milih doank… Hahaha…

    Tapi klo emang disuruh milih salah satu, saya sih juga milih si Giman…
    Lebih enak ngasih tahu orang bodoh ketimbang orang yang sulit dikasih tahu… ^_^

    • @Puri: wah jawabanmu benar-benar bagus dan memiliki logika yang masuk akal dek..
      😀 gak percuma aku berguru padmu
      heheehe
      gak percuma juga kmu suka menjawab di Yahoo Answer hingga berada di peringkat Ketiga
      😀

      –kalau tdk salah, mengubah mental itu datangnya tdk bs dr orang lain secara langsung. Ia harus datang dr diri sendiri.–
      misalnya sikap malas, jika seseorang sedang malas mau kita motivasi bagaimanapun ia akan cenderung tetap malas.
      Tapi jika org tidak bisa, kita ajari sedikit demi sedikit maka minimal ia akan bisa suatu saat nanti.

      Mental lebih susah dibanding kemampuan untuk dibina.
      seorang manajer yg efektif tentunya tdk mau membuang waktuny untuk sesuatu yang lebih sulit khan dan lebih memakan waktu??

      Dan ternyata banyak buku yg membahas betapa pentingnya memperbaiki Mentalitas kita. namun mayoritas pembaca sulit untuk mengubah mentalitas karakternya.
      wallahu a’lam

      Itu hak kamu Pur, untuk berpendapat…
      heheheehe 😀

  6. Berarti…. mental orang itu susah dirubah ya.. 🙂

    • @Asop: katanya sih gitu…..
      relatif lebih sulit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: