Gerobak Sampah, Gayus Tambunan, dan Aparat Penegak Hukum


Gerobak Sampah "Pak Dhe"

Gerobak Sampah "Pak Dhe"

Anda pasti sering melihat sebuah benda yang terdapat pada foto di samping. Namun aku yakin tak banyak diantara kita yang memperhatikan apalagi menelaah lebih jauh atas benda yang sering kita sebut dengan gerobak sampah itu. Begitupula denganku, aku hanya ingat saat kecil ada seorang penarik gerobak sampah di kampungku bernama pak Muh. Sehingga, ia sering disebut dengan panggilan pak Muh Sampah dikarenakan profesi mulianya mengambil sampah-sampah rumah tangga dari rumah-rumah untuk selanjutnya dipindahkan ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sebelum diproses selanjutnya di tempat itu demi menjaga kebersihan lingkungan.

Sebutan sampah yang mengiringi nama pak Muh sehingga menjadi pak Muh Sampah rasa-rasanya tidak diharapkan oleh pak Muh-nya sendiri. Sekalipun pak Muh dan orang-orang tahu bahwa sebutan itu bukan bermaksud mengatakan bahwa pak Muh adalah Sampah (Masyarakat), namun secara makna bahasa sebutan itu bisa diartikan seperti itu. Aku meyakini pak Muh lebih suka disebut dengan nama lengkapnya atau dengan pak Muh begitu saja. Namun apalah mau dikata, orang-orang telah terbiasa menyebutnya demikian.

Pada foto di atas, kita bisa melihat sebuah Gerobak Sampah terparkir. Di sisinya terdapat tulisan Pak Dhe. Dugaanku mengatakan penarik gerobak itu sering dipanggil Pak Dhe. Kalaulah bukan, sebutlah demikian saja :). Pak Dhe juga berprofesi sama dengan pak Muh di kampung ku dulu. Seorang pemungut sampah-sampah yang mengganggu masyarakat dan bekerja demi menjaga kebersihan lingkungan.

Orang-orang semisal Pak Dhe dan pak Muh merupakan dua orang yang memiliki profesi mulia namun sering dianggap sebagai kaum buruh rendahan tak beda dengan barang-barang yang ada di dalam isi gerobak yang ditariknya. Gaji atau upah yang diperolehnya barangkali tak cukup untuk keperluan sehari-hari mereka. Aku menyebut keduanya memiliki profesi yang mulia dikarenakan tugasnya membersihkan sampah-sampah dan mengirimnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dikarenakan pekerjaan mereka itulah setidaknya banjir-banjir bisa sedikit tercegah, lingkungan lebih bersih, kesehatan bisa lebih terciptakan, dan situasi lingkungan yang nyaman bisa untuk diwujudkan.

***

Sedikit beralih pada hingar bingar perbincangan kasus dugaan korupsi di dunia Pajak Indonesia yang melibatkan seorang yang kini telah mendongkrak popularitasnya, Gayus Tambunan. Gayus adalah seorang pegawai pajak golongan IIIA.

Konon, gaji PNS golongan IIIA dengan masa jabatan 0 sampai 10 tahun hanya berkisar antara Rp 1.655.800 sampai Rp 1.869.300 per bulan. Namun angka ini belum memperhitungkan tunjangan menyusul adanya remunerasi di Ditjen pajak. Di kantor pusat pajak, Gayus sebelumnya memegang jabatan sebagai Penelaah Keberatan Direktorat Jenderal Pajak. Gayus diduga kuat berperan sebagai makelar kasus dan menggelapkan sejumlah dana pajak hingga ia berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 25 Miliar di dalam rekeningnya.

Gayus barangkali merupakan sebuah contoh yang keliatan di permukaan saja. Selain Gayus, aku meyakini masih banyak para petugas dan pegawai Pajak yang berperilaku seperti Gayus, kurang atau lebihnya. Banyak sebagian pegawai Pajak yang memungut iuran-iuran dari para wajib pajak yang notabene adalah rakyat, namun tidak menyalurkan iuran tersebut 100% nya ke dalam kas negara. Tak sedikit diantara mereka yang lebih memilih menjadi “sampah” dan menceburkan diri mereka ke dalam “bak sampah” demi mengejar kemuliaan di mata manusia sebagai seorang yang memiliki Kuasa dan Harta.

***

Sedikit meluas kepada aparat penegak hukum di Indonesia. Profesi Hakim, Jaksa, Polisi, dan Pengacara adalah beberapa profesi yang memiliki peran utaam sebagai penegak hukum sehingga mereka sering disebut sebagai aparat atau para penegak hukum. Sebagai aparat penegak hukum, semestinya mereka berupaya membersihkan ketidakadilan dan kejahatan-kejahatan yang terjadi sehingga lingkungan ini bisa bersih dari “sampah-sampah” tersebut. Namun apa yang kutemui saat aku berjalan-jalan di sebuah bangunan gedung bertuliskan Pengadilan Negeri dan menemui orang-orang didalamnya yang mulia di tengah masyarakat dengan sebutan aparat penegak hukum? Ternyata tempat itu sudah jauh dari namanya yang disebut sebagai Pengadilan. Tempat itu lebih pas disebut sebagai gedung Perdagangan Keadilan. Terlampau banyaknya oknum-oknum penegak hukum yang memperdagangkan keadilan di gedung itu sehingga aku sulit untuk menemukan sinar cerah yang muncul dari mutiara-mutiara yang belum terasah. Yah, sekali lagi mereka adalah oknum. Oknum mayoritas. Mereka lagi-lagi telah menceburkan diri mereka ke dalam sampah dan bahkan menjadi sampah itu sendiri demi meraih “kemuliaan” semu melalui Kuasa dan Harta.

Jika dibandingkan dengan beberapa orang yang sering mereka sebut sebagai “sampah-sampah masyarakat” karena beberapa perilaku kejahatan para pelaku tindak pidana dan kejahatan yang berhasil mereka jebloskan ke penjara, tindakan mereka pun tidak lebih baik dibandingkan dengan “sampah-sampah masyarakat” itu.

Tak sedikit “sampah-sampah masyarakat” yang keluar dari hotel buatan aparat penegak hukum itu telah melalui proses daur ulang sehingga mereka tidak nampak lagi seperti “sampah-sampah” sebelumnya. “Sampah-sampah masyarakat” itu bahkan kini telah menjadi sesuatu yang memiliki nilai dan kemuliaan baik di lingkungannya maupun di mata Yang Maha Kuasa. Sementara para aparat pembasmi “sampah-sampah masyarakat” itu justru semakin menjadi “sampah-sampah” dikarenakan perilakunya yang memperdagangkan keadilan dan kebenaran.

***

Belajar dari beberapa kisah di atas, kali ini aku memperoleh pelajaran bahwa sebagian orang yang sering dianggap rendah seperti “sampah” dan sebutan-sebutan buruk tak lebih dari “sampah” sebetulnya mereka justru merupakan orang-orang yang memiliki kemuliaan jauh daripada kita semua yang merasa lebih mulia. Begitupula sebaliknya, orang-orang yang memperoleh kemuliaan sehingga mereka memiliki Kuasa dan Harta belum tentu hakikatnya lebih mulia dibandingkan dengan “manusia-manusia sampah”. Namun terlepas dari itu semua, aku yakin tidak ada diantara kita semua yang mau dan ridho serta rela jika disebut sebagai “manusia-manusia sampah” tentunya. Oleh karena itu, mari kita menjadi seperti pak Muh dan Pak Dhe untuk terus berbuat dalam rangka membersihkan “sampah-sampah” di sekeliling kita.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

4 Tanggapan

  1. aduh..
    gayus lagi….
    mau baca, tapi. males denger nama gayus. hehehe

    • @Danu: its oke..
      it’s Your right !!

  2. gayus tambunan emang gak ada matinya ya.
    semakin terkenal nih orang. ditambah lagi dibuatin lagu sama mantan napi yang sudah tobat. 😀
    semoga terungkap semua kejahatan gayus dan orang dibaliknya. 🙂

    • @Kumpulan: yah begitulah….
      menyedihkan sekaligus menyesakkan dada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: