Kondisi Kereta Tak Jauh Lebih Baik Dari Tong Sampah


Sampah di Gerbong Penumpang Kereta Api

Sampah di Gerbong Penumpang Kereta Api

Dunia perkereta-apian telah menjadi bagian hidup sebagian masyarakat di Jawa secara umum, terlebih bagi yang merantau sehingga terpisah dengan keluarganya yang dengan berbagai macam alasan harus tetap berada di kampung halamannya. Setiap pekan sekali, bagi beberapa orang yang merantau di Jakarta harus selalu rutin bolak balik ke kota-kota tempat tinggal keluarga mereka. Tak heran jika setiap pekannya sarana-sarana transportasi dipenuhi dengan ribuan penumpang yang mengantarkan ke kota-kota seperti Purwokerto, Kutoarjo, Tegal, Semarang, Yogyakarta, Solo, Madiun, Kediri, dan beberapa kota lainnya. Tak salah jika keberadaan kereta api telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan bagi sebagian orang tersebut.

Sementara aku, meskipun tidak seintensif beberapa kawan yang setiap pekannya bolak-balik Jakarta – kota asalnya, namun selama ini aku rutin pulang ke kota asalku selama-lamanya 2 bulan sekali. Transportasi yang menjadi andalanku pun sama dengan beberapa kawan di atas, Kereta Api.

Pertama kali aku naik kereta api, yang kubayangkan adalah sebuah ruang gerbong yang berisi para penumpang yang duduk di atas tempat duduk yang telah disediakan. Aku tidak membayangkan adanya banyak orang yang duduk di jalan (koridor) diantara dua sisi tempat duduk gerbong kereta api.

Namun saat naik pertama kalinya di kereta kelas ekonomi, tak hanya kursi dan koridor jalan lalu lintas penumpang yang dipenuhi sesak penumpang, namun ruang WC dan ruang lokomotif pun juga tak luput dari sesak penumpang. Jika digambarkan, hampir tidak ada satu space ruang kosong pun yang tak diisi. Kalau itu bukan orang, maka akan ada barang yang mengisi space itu.

Selanjutnya aku berfikir jika barangkali situasi seperti itu hanya terjadi dan ditemui di kereta api kelas Ekonomi saja. Dugaanku ternyata salah. Di kelas bisnis pun, situasi yang hampir sama juga terlihat sama dengan kelas Ekonomi. Dalam hatiku, “Kalau tidak ada bedanya gini, ngapain dibikin beda kelas? Toh, lama perjalanannya juga hampir sama waktunya. Kenyamanannya pun juga setali tiga uang…” Ah, toh aku selama ini enjoy-enjoy saja kok. Kubuang saja perasaan-perasaan itu.

Yach, memang begitulah situasi gerbong kereta api penumpang secara umum di Indonesia, Jawa khususnya karena aku belum pernah naik kereta di jalur Sumatera. Kondisinya kotor, penuh sesak oleh penumpang & para pedagang asongan, dan jauh dari kenyamanan. Situasi seperti itu aku yakin tidak bakal anda temui jika anda terbiasa naik kereta api kelas Eksekutif atau trayek-trayek kereta jalur menengah seperti Jakarta-Bandung atau Jakarta-Cirebon.

Jadi, jika anda naik kereta api penumpang kelas bisnis atau ekonomi, jangan terkaget jika melihat situasinya tidak jauh berbeda. Foto di atas kuambil sekedar untuk menggambarkan betapa kotornya gerbong kereta api hampir tak jauh berbeda dengan tempat sampah. DI sepanjang koridor jalan gerbong diantara kursi penumpang, benar-benar dipenuhi dengan puntung-puntung rokok, koran-koran bekas, serta aneka botol air mineral. Foto di atas kuambil dalam kereta Bisnis Sawunggalih Jakarta -Kutoarjo sesaat setelah para penumpang kereta meninggalkan gerbong setelah tiba di Stasiun Kutoarjo. Aku yakin kereta-kereta lain juga tidak jauh berbeda kotornya dengan foto di atas.

Meskipun demikian, situasi dan kondisi yang sepertinya buruk dan tidak sedap dipandang oleh mata oleh sebagian dari kita tersebut ternyata mampu memberikan kebahagian bagi sebagian kalangan tertentu. Tengoklah pada sekelompok saudara-saudara kita yang sering disebut dengan “pemulung”. Melihat sampah sebegitu banyaknya yang ditinggalkan begitu saja oleh para penumpang yang sudah kehilangan rasa kepekaan untuk menciptakan kebersihan di dalam gerbong-gerbong kereta, saudara-saudara hebat kita dari kalangan “pemulung” ini melihatnya sebagai emas atau minimal membayangkannya sebagai nasi dengan segenap lauk pauk yang mereka harapkan mampu untuk menyambung hidup mereka dengan menelan dari harta yang halal.

Demikianlah keadaan kereta api yang kita miliki di Indonesia. Bukan salah PT. KA tentunya telunjuk kita terarah. Namun kita patut merenungi bahwa tingkah laku kita dalam menjaga kebersihan lingkungan di sekitar kereta api yang kita tumpangi saja, kita masih sulit. Alih-alih untuk menyalahkan pengelola kereta api.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Budaya malu buang sampah sembarang kurang dimiliki oleh kita. apakah PERDA bisa menjamin ? kalau bisa sebaiknya ada PERDA. Tapi sekali lagi “Kita” gampang buat undang-undang tapi susah mengimplementasikannya serta komitmen dari atas sampai bawah. tapi sering yang di bawah jadi korban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: