Ampyang; Peanut Biscuit ala Solo


Ampyang

Ampyang

Ceritanya sesampai kost sepulang dari kantor sekitar pukul 21.00 WIB, aku dan kawan-kawan satu kost-an, berlima kumpul bareng ngobrol-ngobrol / jagongan ngalor ngidul. Eee ternyata ada hidangan makanan tradisional khas Solo yang enak ini (lihat di foto). Mas Samsuri-lah yang bawa oleh-oleh ini karena rumahnya di Solo. Ngobrol berlima dengan bahasa Jawa serasa kami sedang berada di Solo saja. 😀

Ampyang, demikian setahuku nama makanan tradisional khas Solo ini. Dibuat dengan bahan utama berupa Kacang tanah dan gula jawa atau gula merah, makanan ini menjadi makanan tradisional anak-anak sekolah waktu itu, setidaknya di zaman aku masih duduk di Sekolah Dasar. Rasanya yang manis membuat anak-anak tuman (baca: ketagihan) menikmati makanan ini hingga gigis (Baca: ompong giginya).

Cara bikinnya juga terbilang tidak terlampau sulit. Gula jawa atau gula merah tinggal dilelehkan lalu diaduk dengan kacang tanah sangria lalu dikeringkan. Selesai. Untuk beberapa modifikasi, bisa dipadukan dengan madu, kacang mete, atau air jahe dan lain-lainnya.

Hasil penelusuranku kisaran harga Ampyang di Solo sekitar Rp. 4000,- sampai Rp. 5000,- per kotak plastiknya. Paling lengkap kalau mau beli makanan-makanan tradisional seperti ini bisa mengunjungi Pasar Gedhe.

Ampyang Dalam Makna Lain

Kosakata Ampyang dalam bahasa pergaulan sehari-hari di Solo khususnya dan Jawa pada umumnya juga memiliki pengertian lain disamping arti “salah satu makanan tradisional”. Dalam bahasa prokem Jawa, kosakata “Ampyang” bisa berubah menjadi kata sifat yang biasa dipakai untuk menggambarkan buruknya kondisi sebuah jalan.

Jika ada sebuah jalan atau jalan raya yang berlubang dan tidak rata, maka untuk mensifati kondisi jalan yang seperti itu masyarakat Solo sering menyebutnya dengan “jalan ampyang”. Pensifatan ini tentunya tidak lepas dari bentuk Ampyang itu sendiri yang tidak rata dan justru bergelombang. Maka, ketika ada seseorang mengatakan Dalan kok koyo ampyang!” (Indonesia: Jalan kok seperti Ampyang) maka maksudnya adalah “Jalan kok berlubang, bergelombang, dan tidak rata”. 😀

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

3 Tanggapan

  1. iki cemilan favoritku nang wedhangan mas 🙂
    legi tur asik nemenin teh anget plus udud.

    • walah, yen aku sih biasa senenge…
      paling enak ki konco wedange yen CIU
      hahahahaha
      *becanda

  2. ampyang…???? nek siji rasane kurang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: