Krisis Sepakbola di Italia & Indonesia (bag 1 bersambung)


Krisis Sepakbola di Italia (Tulisan Tentang Bola – bag 1 bersambung)

Lama sudah aku tak menulis tentang dunia bola, khususnya Sepak Bola. Kekalahan Juventus oleh Fulham semalam (19/03/2010) dinihari dengan skor 4-1 lah, yang memancingku untuk menulis tentang sepakbola (secara asal saja). Jujur aku bingung mau menulis dari mana untuk mengawalinya. Hmmm,,, mungkin dari kekalahan Juventus itu saja aku akan memulainya.

Juventus makin terpuruk. Mereka tersingkir dari Liga Eropa dan harus menerima kenyataan tanpa gelar pada musim ini. “Si Nyonya Tua” ditekuk Fulham 1-4 (agregat 4-5) pada leg kedua perdelapan final Liga Eropa di Stadion Craven Cottage, Kamis atau Jumat (19/3/2010).

Kekalahan ini cukup menyakitkan bagi Juventus. Sebabnya, pada leg pertama Juve sukses mengalahkan Fulham 3-1 di Olimpico. Apalagi, pada laga itu, Juve sempat unggul terlebih dulu. David Trezeguet mencetak gol saat laga baru berjalan dua menit. Penyerang Perancis itu berhasil memaksimalkan bola rebound tendangan Diego.

Praktis dengan kekalahan ini, Serie-A Italia tinggal menyisakan satu klub saja, Internazionale Milan (lebih dikenal dengan INTER MILAN) di Liga Champions sebagai perwakilan Liga Italia di kancah kompetisi Eropa. Inter tidak hanya menanggung beban berat sebagai penyelamat muka Italia semata, namun juga sebagai penyelamat jatah kontestan Liga Italia di kompetisi Liga Champions musim selanjutnya.

Saat ini, Liga Serie-A Italia memang masih memperoleh jatah 4 klub di Liga Champions. Namun dengan kembali gagalnya klub-klub Liga Italia di kancah Eropa selama beberapa tahun terakhir, menjadikan Liga Italia terancam kehilangan jatah 1 kursi-nya di kompetisi Liga Serie-A.

Namun demikian, Inter Milan sekalipun merupakan satu-satunya klub Italia yang lolos ke babak perempat final Liga Champions, klub ini justru dianggap tidak mewakili Italia. Demikianlah yang diungkapkan secara terbuka oleh Marcello Lippi, pelatih timnas Italia sekaligus mantan pelatih Inter Milan.

Ya memang benar di satu sisi pernyataan Lippi tersebut. Namanya saja klub Liga, secara otomatis tidak mewakili Italia dalam urusan sepakbola. Dimana-mana juga klub liga tidak pernah mewakili negara atau representasi timnas nya. Semua orang juga paham itu. Namun, melihat arah pembicaraan Lippi sebagai reaksi yang kurang simpatik atas kesuksesan Inter Milan ke babak perempat final Liga Champions musim ini, pernyataan Lippi seharusnya tidak pantas diucapkan oleh seorang pelatih timnas.

Sebagai seorang pelatih timnas, seharusnya ia lebih memikirkan bagaimana ia harus mencari para pemain yang akan dijadikannya sebagai pengisi skuad untuk kembali mempertahankan Piala Dunia yang hampir di depan matanya. Terlebih lagi, prestasi Inter Milan yang menjadi satu-satu wakil liga Italia di kompetisi Eropa musim ini merupakan sebuah hal yang patut disyukuri oleh para klub Serie-A karena bisa menjadi penjaga jatah klub peserta di kompetisi Eropa serta mengembalikan pamor liga Italia ke dalam rel kejayaannya. Lippi juga diharapkan mampu memilih para pemain Italia yang berprestasi dan menghindari pola memanjakan timnas untuk satu klub saja, sebutlah Juventus. Sudah bukan rahasia umum jika Lippi lebih suka memanggil para pemain yang bermain di Juventus dibanding dengan klub-klub lainnya untuk mengisi skuad timnas ITALIA.

Selain itu, sebagai seorang pelatih yang telah lama melatih di Liga Italia, seharusnya Lippi sudah tahu karakter Inter Milan sebagai sebuah klub yang bermain di Liga Serie-A yang memang dari awal tidak mengistimewakan pemain tertentu berdasarkan asal atau kebangsaan para pemainnya. Oleh karena itulah Inter Milan lahir dengan nama INTERNAZIONALE MILAN.

Dengan menggunakan nama INTERNAZIONALE, aku melihat bahwa klub ini berusaha menjadi klub yang bersifat internasional dan universal dengan melatih serta mendidik para calon-calon pemain bola profesional. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya pesepakbola yang lahir dari rahim primaveranya Inter Milan dan berasal dari berbagai macam negara. Sebut saja Andrea Pirlo, Obafemi Martin, dan Balotelli. Mereka adalah beberapa nama yang dididik dari sekolah sepakbola Inter Milan dan mereka berasal dari latar belakang ras, agama, serta negara yang berbeda-beda. Semangat yang diusung Inter Milan ini juga semacam bentuk perlawanan atas rezim di Italia di zamannya dimana Italia terkenal dengan semangat FASISME mereka. Sehingga tak salah, faham itu masih menjangkiti para suporter-suporter (tifosi) klub-klub Liga Serie-A hingga saat ini. (lihat kasus Balotelli yang dihina oleh suporter Juventus serta dihambatnya kesempatan bermain di timnas Italia karena kulitnya yang hitam negro.

(BERSAMBUNG)

Krisis Sepakbola di Indonesia (Tulisan Tentang Bola – bag 2 Selesai)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

4 Tanggapan

  1. terserah Lippi mau blang apa, yang jelas sayat tetap fans setia Intermilan

    • @Tendangan Bebas: yowes,,
      Viva La Beneamata

  2. Wahh bola lagi.. heheh
    izin menyimak aja ya… 🙂

    salam kenal

    • @Delia4ever: cuman nyimak doang??
      hmmm diizinin mah kalo itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: