Asbak Ber-Relief Wanita Tanpa Busana di Warung Wedangan Panjer Sore Solo


Wedang Susu Jahe di Warung Wedangan Panjer Sore (Mangkubumen-Solo)

Wedang Susu Jahe di Warung Wedangan Panjer Sore (Mangkubumen-Solo)

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menguras rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga. Sambil jalan-jalan bawa kamera Casio Exilim Ex-Z75, kupotret beberapa hal yang menarik perhatianku.

Kala itu tiba-tiba hujan turun cukup deras mengguyur Kota Solo. Sambil menghindari hujan, aku menepi dan ngiyup di sebuah warung wedangan (orang Solo lebih akrab menyebutnya dengan warung hik_sejenis angkringan di Jogja). Warung itu terletak di belakang semu samping bangunan yang sedang dibangun sebagai apartemen gedung tertinggi di Solo, Paragon. Warung hik / wedangan ini menyebut dirinya “PANJER SORE”. Kupesan dua gelas wedang susu jahe untuk menghangatkan tubuh dan suasana yang dingin. Satu gelas untuk aku, sementara yang satu gelas lainnya untuk kawanku yang menemaniku keliling Solo, sebutlah namanya AFSAD.

Tiba-tiba kami disodori sebuah asbak oleh yang punya warung. Mungkin dikiranya kami ini mau ngerokok. Kuperhatikan baik-baik bentuk asbak yang kulihat unik. Sejurus kemudian baru aku menyadari bahwa asbak itu memang unik sekaligus “kontroversial”.

Asbak yang disodorkan oleh bapak yang punya warung wedangan atau hik itu ternyata ada relief wanita telanjang yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Aku amati sesaat ternyata memang benar asbak itu terukir relief bentuk seorang wanita telangjang yang sedang menggeliat. Aku dan kawanku hanya tersenyum. (Lihat lebih lanjut pada foto).

Seremnya lagi, asbak itu menyisakan bekas-bekas dan sisa-sisa orang yang mematikan rokok-rokok atau puntung-puntung mereka di area-area tabu wanita. Bekas gosong berwarna hitam gelap yang membekas itu justru terlihat nyata di bagian dada wanita telanjang itu dan daerah sekitar bawah pusarnya. Hmmm….. Apa yaa yang dipikirkan orang-orang perokok saat mematikan rokoknya ketika itu di asbak “unik” itu? :

Asbak "Unik" & "Kontroversi" di Wedangan Panjer Sore (Mangkubumen-Solo)

Asbak "Unik" & "Kontroversi" di Wedangan Panjer Sore (Mangkubumen-Solo)

Aneh-aneh saja para seniman dan pengrajin asbak ini pikirku. Apa tidak ada kreasi bentuk lainnya untuk menampilkan sebagai karya seni? Ah, namanya juga seni. Selama kuliah di Fakultas Seni Rupa, “kreativitas-kreativitas” model-model semacam ini telah lebih banyak kujumpai. Namun sering juga para seniman itu juga tidak mengerti mengenai apa yang mereka kreasikan itu. Mereka hanya sekedar membuat sesuai mood hati saat itu saja. Lagian, aku juga tidak paham seni itu seperti apa. 😀

Sebagian orang (mungkin termasuk aku) ada yang menganggap bentuk-bentuk karya cipta seperti asbak pada foto di atas adalah bukan produk seni meskipun lahir dari karya cipta seorang seniman. Sebagian mereka (mungkin juga aku di dalamnya) lebih melihat asbak hasil karya cipta seseorang itu sebagai bentuk pornografi karena dengan jelas menggambarkan keadaan potret wanita telanjang.

Namun sebagian orang akan melihatnya sebagai karya seni yang dianggap mengikuti para seniman zaman dahulu yang membuat relief-relief serupa dan mungkin lebih HOT sebagaimana bisa dilihat di Candi Cetho / Ceto / Cetha – Karanganyar Solo atau candi Khajuraho India yang menggambarkan metode persenggamaan hubungan suami istri ala Kama Sutra pada relief-relief dindingnya.

Namun, aku dan kawanku memiliki penilaian praktis dan sederhana sat merespon bentuk asbak itu. Kami sepakat bahwa karya ini justru menjadi bentuk pelecehan terhadap wanita itu sendiri. Seorang wanita diibaratkan hanya menjadi media pelampiasan “perokok” yang dengan begitu saja mematikan bara rokok di atas relief wanita telanjang pada asbak itu. Lebih-lebih, area “favorit” yang diselomoti oleh rokok adalah area-area privat wanita.

Bagaimana pendapat anda ???

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

5 Tanggapan

  1. ya Allah… keejjjammmm…

    • apanya yg kejam Cempaka????
      ya begitulah,,,

  2. Ingat hik, ingat ketika kuliah di Solo 17 th lalu. Wah, tapi kini hik sudah dilengkapi aksesoris kaya gitu, ya?

    • hmmm sejauh sy keliling2 HIK di SOlo baru ini pak yg hik nya ada asbak model aneh2 kayak gini

  3. aaaannnnneeeeeeccccchhhh…
    ..plecehhan bkn c?????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: