Haruskah Umat Non-Hindu Ikut Tradisi Budaya Nyepi ???


Seorang provokator pluralis, Dawam Raharjo, pernah mengeluarkan pernyataan provokatif. ”Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim, seharusnya dipimpin oleh golongan non muslim yang minoritas, agar kontrol sosialnya mengena. Pasalnya, bila yang mengontrol lebih banyak, maka yang sedikit akan berfikir seribu kali untuk menyeleweng,” demikian kata pokrol aliran sesat Ahmadiyah tersebut.

Permulaan Maret 2008 dua tahun lalu, bertepatan dengan pergantian tahun Saka 1930. Setiap menyambut kedatangan tahun baru, warga Hindu Bali melaksanakan hari raya Nyepi. Ritual Nyepi memiliki empat inti, yang disebut Catur Brata, meliputi amati geni (tidak boleh menyalakan api atau lampu), amati karya (tidak boleh bekerja, berbuat gaduh, atau memukul-mukul), amati lelungan (tidak boleh bepergian, keluar pekarangan), dan amati lelanguan (tidak boleh makan). Di Bali, mematuhi Catur Brata bukan hanya kewajiban kaum Hindu, tetapi juga “dipaksakan” kepada umat penganut agama lain.

Minoritas warga non-Hindu di daerah itulah yang menjadi korbannya. Warga non-Hindu di Gianyar dan Denpasar misalnya, dilarang menyalakan lampu pada hari itu. Bila melanggar, tak jarang rumah mereka dilempari. Barangkali hanya oknum semata. Di lain kejadian, pernah seorang anggota TNI non-Hindu yang anggota keluarganya meninggal, terpaksa menunda pemakaman, demi memenuhi tuntutan ritual Nyepi. Bukan itu saja, seluruh penerbangan nasional maupun internasional ditiadakan karena Bandar udara ditutup.

Bahkan pernah terjadi ketika Nyepi jatuh pada hari Jumat, umat Islam yang hendak melaksanakan kewajiban syariat nya beribadah Jumat tidak diperkenankan mengumandangkan adzan. Kalao masalah ini mungkin tidak terlalu masalah. Untuk mencapai masjid mereka harus berjalan memutar agar tidak melewati pemukiman warga Hindu Bali. Kaum Muslim yang tinggal di tengah pemukiman kaum Hindu Bali bahkan tidak sedikit yang tidak bisa shalat Jumat. Mungkin terkecuali di daerah kampung Bali yang mayoritas Muslim (kampung muslim).

Tragisnya, perayaan Nyepi tahun ini beberapa tahun lalu jatuh pula pada hari Jumat (7 Maret 2008). Kenyataan ini dengan sangat jelas telah mengganggu hak asasi, menghambat ibadah umat Islam, yang suatu saat bukan mustahil menyuburkan benih-benih konflik horizontal.

Mengapa segala intoleransi ini tidak pernah dianggap sebagai bentuk diskriminasi, dan tidak pernah ada dari golongan pembela demokrasi, pembela HAM, atau pengumandang pluralisme yang menggugat ketimpangan tersebut, seperti saat mereka menggugat RUU APP dan RUU P yang nyata-nyata bertujuan demi kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia? Mengapa orang-orang itu tidak pernah mengatakan, ”Bali bukan hanya diisi oleh orang Hindu saja Bung…!” seperti saat mereka menolak penerapan Syariat Islam secara nasional maupun daerah di Indonesia dengan sering mengatakan dan berteriak, ”Indonesia bukanlah negeri yang berisi Islam saja. Indonesia bukanlah Timur Tengah. Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika dst…!” Aneh ……!!!!!

Munculnya Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) ”Kota Injil” di Manokwari bulan April tahun lalu masih bisa dimaklumi kemarahan mereka sebagai reaksi atas lahirnya perda-perda Anti Maksiat bernuansa Syariah Islam dan rencana pendirian Islamic Center, kendatipun alasan mereka juga kurang masuk akal. Lain halnya umat Hindu di Bali, alasan apa yang bisa diterima akal sehat sebagai pembenaran atas perilaku diskriminatif yang sudah berlangsung lama ini yang barangkali di negeri asalnya saja tidak se-arogan dengan memaksakan seluruh pemeluk agama untuk nyepi (kecuali beberapa petugas dan pecalang)?

Mereka tentu menyadari, sedang berdomisili di sebuah negeri, yang penduduknya mayoritas beragama bukan Hindu. Dan eksistensi negara ini lahir berasal cucuran darah para ulama dan laskar umat Islam, serta para santri. Tetapi mengapa masyarakat Bali bersikap “jumawa “dan tidak takut dituduh melangar hak asasi dan hak beribadah masyarakat non-Hindu? Perlukah tradisi budaya Nyepi ini dipertahankan seperti metodenya saat ini dengan “mematikan sementara” denyut nadi seluruh kegiatan di Bali tanpa pandang bulu para penduduknya yang berlatarbelakang heterogen meskipun mayoritasnya Hindu?

Pertanyaan di atas mencermati fakta bahwa hanya pemeluk Hindu Bali saja yang “memaksakan” ritual Nyepi dengan model seperti ini, sedangkan umat Hindu lain melakukan Nyepi di rumah sendiri-sendiri tanpa menganggu aktivitas orang dan pemeluk agama lain. Bahkan di India yang menjadi pusat kelahiran Hindu pun tidak dijumpai “Nyepi” massal ala Bali ini. Demikian yang kukutip dari Saras Dewi, dosen filsafat di Universitas Indonesia (UI) dan pengajar Filsafat Upanishad di Sekolah Tinggi Agama Hindu, Rawamangun Jakarta, dalam sebuah wawancaranya di sebuah media. Ketika menjawab pertanyaan: “Apakah ritual Nyepi ini adalah khas Bali?

Betul, walaupun mungkin ada beberapa hindu-hindu lain di India yang juga ikut merayakannya. Bali ini kan adatnya luar biasa banyak. Ada Galungan, Kuningan, Hari Raya Saraswati dan lain sebagainya, yang mungkin di India tidak dirayakan. Atau dirayakan dengan versi yang berbeda. Kalau Hindu di Bali versi perayaan penghormatan terhadap Tahun Baru Saka ya seperti ini. Mungkin Hindu yang lain berbeda lagi. Karena Hindu itu memiliki denominasi atau sekte yang luar biasa banyak.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

57 Tanggapan

  1. Kafirin dan Murtadin la’nat Allah. Tunggulah sampai Mujahidin mencapaimu, Insya Allah.

    • Banggalah Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim, pada ke majemukannya memiliki sesuatu yang unik. Saudara muslim yang di Bali saling menghormati adanya Nyepi.

      http://www.alimmahdi.com/2008/03/kekhusukan-sholat-jumat-di-hari-raya.html
      http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/16/nyepi-syariat-hindu-di-bali-dan-syariat-islam-di-aceh/

      • hmm,,,
        ya mungkin di sebagian ada yg bs tetep jumatan
        sebagian hrs bersitegang dg pecalang..

        masalahnya adalah Perlukan / Wajibkan Semua Umat Non Hindu harus ikut2an NYEPI ????
        itu saja
        klo Nyepi itu adl sebuah ritual ibadah agama, knp harus dipaksakan agar diikuti semua pemeluk agama non hindu??

        begitulah kira2..
        ini sekaligus sebuah kritik kpd org Bali yg kerap mengecam pemberlakuan syariat Islam bg umat Islam (bukan semua umat), atau UU Pornografi bg sluruh rakyat Indonesia

        sementara Bali justru dg arogan memaksakan semua umat harus menghormati ibadahnya (SUKA atau TIDAK SUKA).

    • mohon komentarnya menyesuaikan topik mas Lezard

    • elu kali yg dilaknat.

    • gado gado alias santok@klo protes suruh saudara anda pulang dari bali,dan jangan balik2 lagi,selamat mudik dan jangan balik lagi (PLEASE PLEASE)

    • wahem bahasamu gak ada yang ngerti,sok paling suci

  2. makin aneh2 saja memang …
    memang susye jelasin nya kalau dah begini …
    baca mereka yang tinggal di Bali rukun….aja.
    http://www.gatra.com/artikel.php?id=2120
    http://kabarmadura07.blogspot.com/2009/03/madura-hindu-merayakan-nyepi-2-habis.html

    • hmm,,,
      ah itu khan hny soal opini yg dibikin saja mas SObat..
      belum lgi jika drpd protes, mending mereka lbh suka diem.
      pdhal bs jd mereka tdk setuju krn hrs ikut2an ritual agama lain.

      ada juga kisah nyata seperti pd tulisan di atas kok
      krn tulisan ini jg timbul krn adanya kejadian seperti itu.

      baca juga di sini:
      http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/16/nyepi-syariat-hindu-di-bali-dan-syariat-islam-di-aceh/

      dan sekali lgi yg sy katakan pun hanya oknum (barangkali) dan di beberapa lokasi tertentu saja.

      permasalahan pokok yg penting disini adl PERLUKAH UMAT NON HINDU HARUS DIPAKSA IKUT2AN RITUAL IBADAH NYEPI ???? apakah bukan sebuah Pemaksaan Ajaran Agama bg non pemeluknya??

      • sama seperti puasa mas. buat apa teriak teriak setiap pagi bilang sahur-sahur. kalau memang mereka niat puasa ga usah diberitahu. bikin bising mas.

      • truzz knpa jg orang non muslim harus menghormati ibadah islam sgala ????
        Kami sebagai penganut agama mnioritas di indonesia turut menghormati kgiatan ibadah muslim
        Smentara bali adlah kbanyakan hindu.
        yng non hindu d bali jg hrus menghormati adat astiadat d bali donk
        Dulu wktu krjaan majapahit dipaksa, di tindas, diusir oleh islam & yang gk mau ikut islam lari ke bali.
        Dan Sekarang org muslim ikutan jg kebali, truz gak mau menghormati lgii..
        Inilah sifat MOMO ANGKARA
        Klo gak mau ikut nyepi ya gak usah tinggal di bali lah
        Islam gak ada untungnya di bali malahan membuat bali makin hancur

      • @gado-gado baca artikel nyepi di sini: http://simfoniketeduhan.wordpress.com/ moga2 ada manfaatnya, bahwa konsep nyepi dalam arti yang lebih luas untuk menekan efek dari pemanasan global

      • kalo muslim gak suki tolong jangan di bali,kami orang bali akan senang sekali

  3. sama saja, tiap hari kami dipaksa dengar speaker org lg sholat
    5 x sehari, bayangkan lho

  4. @Kayumas: Pertama,, tidak ada perintah dlm ISlam untuk berteriak2 Sahur-Sahur, apalagi jika pakai bunyi2an yg mbrebegi telinga.

    Kedua. Jika itu mengganggu pun bisa to dilaporkan ke kepala lingkungan setempat. Dan bila perlu dimusyawarhkan lbh lanjut dg masyarakat. Sy yakin tdk semua sepakat dibangunin jg dg cara2 klotekan seperti itu.

    Ketiga: Bedalah dg puasa. Analogi drmn kok bisa Perayaan Nyepi dg Puasa dianalogikan?
    Nyepi dilaksanakan dg melalui putusan RESMI PEMDA BALI agar semua manusia yg ada di BALI “ikutan” NYEPI” tanpa terkecuali.
    Sementara puasa, apa semua umat diharuskan puasa melalui UU atau aturan2 formal kenegaraan?? Tidak khan? itulah bedanya.

    @Vedestra: Jawaban sy tersirat pd jawaban mas Kayumas juga.
    Dipaksa krn suatu keadaan sosial masyarakat itu berbeda dg keadaan DIPAKSA melalui LEGAL FORMAL KEPUTUSAN PENGUASA (dlam hal ini pemda BALI).
    Kewajiban NYEPI khan turun dari Keputusan Pemda khan?? Sementara Azan khan anda tdk dipaksa untuk ndengrin to kalau mau… ketika denger anda mau tidur, nyanyi, atau ngapain terserah.
    Lha kalau nyepi, boleh kita saat nyepi di bali kita keluar rumah?? nggak khan? kita dipaksa ikut NYEPI khan??
    *sy rasa analogik anda terlalu memaksa.

    –aq hampir lupa jika bunyi lonceng gereja sebelah rumah cukup kencang berbunyi pd jam2 tertentu, tp lama kelamaan aku tdk mempermasalahkannya krn sdh biasa dan malah bersyukur krn juga dibangunin dan diingetin thd waktu-

  5. tulisan ini membuat saya merasa terhina….tidak seharusnya anda sebagai warga pendatang yang tinggal di bali memanas manasi mesyarakat dengan tulisan ini. kita di bali sudah di kasi numpang di sini. saya hormat pada orang bali, mereka baik dan ramah. tulisan tulisan seperti inilah yang sebenarnya akan membahayakan para pendatang di bali.demi keselamatan kami yang memang benar benar pendatang dan sudah di terima dengan baik di bali saya harap anda menghapus segala bentuk provokasi. coba kalo tulisan ini di baca oleh orang bali, mereka pasti sakit hati dan benci pada kaum pendatang, bakal di kiranya kaum pendatang semuanya gak tau di untung seperti anda…..

  6. Setuju mas arif, gw dah lama tnggal di bali. Orang bali to ramah2 pada pendatang. Tp orang2 yg tumben ke bali itulah yg sering memanas manasi warga pendatang tanpa berfikir konsequensinya. Pikir2 dulu kalo mau bicara, bisa mengganggu keamanan orang2 yg tinggal di bali.

    • @Desi + Arif Laksono: mas mas…, dan mbak mbak..
      sy tertawa melihat kebohongan kalian berdua
      pakai nama beda tpi yg komen satu orang..

      sy malu saja dg kalian
      knp mesti berbohong sih?
      ckckckckckckck

      klo mau komen, momen aja…

      dlm tulisan ini sy tdk mempermasalahkan perihal pendatang atau tdk pendatang.
      klo memang Bali adl bagian dr Indonesia..
      semestinya tdk ada kamus pendatang dan non pendatang.
      kecuali klo Bali memang ingin bikin negara sendiri..

      logika yg anda bangun sungguh membuat sy tertawa..
      mas, sy kasih tahu
      sebuah penelusuran sejarah menyatakan bhw penduduk BALI saat ini adl pendatang dari JAWA !!
      cam kan itu !
      dan pelajari klo mau !

      penduduk asli BALI, sdh habis ketika diserang majapahit dlm perang puputan.
      sebagian mereka kini terasing di pegunungan.
      dan mereka spt org Indian di Amerika Serikat.

      yg bahaya adl jika seseorang atau sekelompok masyarakat memaksakan KEYAKINAN nya kpd org lain..!

      • helooooo,sekali pendatang tetap pendatang,,,
        orang ga punya otak,beda pulau kq dibilang gak pendatang,psti gak tamat SD NIII

    • tul mas.golongan satu ini kalau mayoritas pongah.kalau minoritas bikin masalah.

    • Saya setuju dg komentar ini. Bukankah dmn bumi dipijak disitu langit d junjung? Setiap daerah pny adatnya masing” kn? Hindu dan Adat Bali berbeda. Ya, kalau nyepi d kata milik Hindu Bali, mungkin ada benarnya. Kalau begitu, adatlah yg bermain peran lebih besar. Maaf kalau aku salah penafsiran dibagian ini. Anggap saja, d mana km berpijak, pst ada adat yg harus di ikuti 🙂
      Umat Non Hindu, tidak dipaksa untuk ikut melakukan ritual Non Hindu bukan? Coba tanyakan pada mereka yg sudah lama tinggal di Bali 🙂
      Apakah selama ini umat Hindu di Bali memaksakan ritual Nyepi pda mereka? Coba bedakan mana dipaksa mengikuti ritual mana menghormati yg sedang beritual 🙂
      Tidakkah menyenangkan rasanya berdamai dengan alam 1 hari? Hanya 1 hari bukan tnpa listrik dan polusi? Bukankah membantu alam dan bumi untuk beristirahat sebentar?
      Coba lihat dari segi yg lebih postif. Sampai kapan masalah seperti ini harus diperdebatkan?
      Aku memang tidak berpuasa, aku tidak dipaksa berpuasa. Tp, aku jg tdk begitu saja membuka botol minum dan meminum dihadapan umat muslim yg sedang berpuasa. Aku tau diri dan mencoba menghormati. Sudahlah, siapa yg mayoritas, siapa yg pertama, siapa yg paling baik, apakah bisa dijawab dengan pemikiran manusia? Mengapa tdk berdamai saja dengan keadaan dan memanfaatkan apa yang ada dg lebih terbuka? Tidakkah menyenangkan hidup berdmpingan bersama dgn damai? Saling mensuport dan menghargai apa yang menjadi kepercayaan umat agama manapun, agama yg mereka pilih, agama yang mungkin tdk dipilihnya karena sejak lahir berada pada keluarga dg agama tertentu, atau ia yg berani memilih tdk beragama namun paham bahwa ada sesuatu yg besar d luar kekuatan manusia diluar sana. 🙂

  7. Saya asli Orang BALI mas…tapi saya besar dan tinggal di Pulau Seribu Mesjid…Jika anda bilang

    Haruskah Umat Non-Hindu Ikut Tradisi Budaya Nyepi ???

    Bagaimana denga Saya dan 30% umat hindu Di pulau Seribu mesjid dipaksa juga untuk tidak berjualan makanan dikala Bulan Ramadan selama 1 bulan belum Razia sana- sini..

    Dan kalo tiba idul fitri kita mengucapkan Selamat Hari Raya pada mereka Tapi tiba kita merayakan Nyepi tidak pernah diberikam selamat…

    Mestinya kita saling toleransi dong…jgn hanya sepihak aja..
    jika ingin negara tetap utuh…

    • ga bisa jawab dah dia :maho:

    • @Dude: anda orang Bali? oh ya??
      mana KTP nya?? 🙂 hehehee

      Pulau Seribu Masjid tuh mana ya??
      kok br denger…

      oke sy jawab mas…
      klau anda bc artikel2 sy secara kesulurahan, sy tdk berpendapat bhw dlm puasa romadhon tdk boleh jualan makanan. Justru malah sy mendukung org yg jualan wkt puasa krn membantu byk org yg sedang tidak puasa baik yg muslim (sdg tdk berpuasa) maupun yg tidak muslim.

      Dan coba tunjukkan mana daerah yg melarang secara resmi bhw pas Ramadhan dilarang Jualan Makanan ??
      Kalau ada, biarlah kukirimi masukan buat daerah yg nerapin perda itu.
      Ingat, NYEPI didukung pemerintah daerah (melalui perda dan surat edaran2) meskipun BALI bukan DAERAH ISTIMEWA lho..

      Kalao masalah razia, itu oknum. Dan kewajiban aparat untuk mengurusnya…Dan ajaran Islam pun melarang razia model seperti itu.

      Masalah ucapan selamat, dlm akidah/keyakinan kami mengucpakan selamat seperti itu dilarang. Ini prinsip Islam. Dan kami juga tidak membutuhkan ucapan selamat seperti itu juga kok. Jd, klo memang mau ngucapin selamatnya anda kepada kami ikhlas ya sy rasa tdk perlu harapan km membalas ucapan selamatnya khan? Krn kami dilarang untuk itu.

      Toleransi yg penting bukan dalam urusan TOLERANSI BERagama, tetapi TOLERANSI UMAT BERAGAMA. Artinya, urusan agamamu silakan urus kalian sendiri. Kami g mau campur tangan. Namun jng pula campuri urusan kami dlm prinsip keyakinan kami.

      persoalannya, NYEPI realitanya ‘memaksa’ umat lain untuk merayakannya secara legal. Itu saja. Kalo dilakuakn hny untuk kaum HINDU saja, silahkan2 saja. No matter

      • BALI itu lebih dari istimewa , aragttt… lo tu org sirik , pnh ke bali gaa loe ? cetek bgt pemikiran lhoo. muslim di Bali aja ga bermsalah . loe koar” ga jelas

      • NYEPI SUDAH DISETUJUI SEBAGAI LIBUR NASIONAL OLEH PEMERINTAH RI.
        ITU ARTINYA NYEPI SUDAH MENDAPAT PERSETUJUAN DARI PEMERINTAH RI.
        BUKAN SEKEDAR DARI PEMERINTAH DAERAH.
        KALAU MAU PROTES, SONO PROTES KE PAK PRESIDEN.
        DUNGU X NIE ORANG.
        JIKA TIDAK TERIMA ISLAM BERADA DI BALI, KAMU TARIK AJA SEMUA ISLAM DI BALI KE JAWA.
        ANDA MUDIK, KAMI TENTRAM.
        WAJAR SAJA EVENT2 INTERNASIONAL DI ADAKAN DI BALI, KARENA DI BALI TENTRAM, GAK KAYA DI JAWA.

    • dude@maav kami dari bali tidak mengakui anda sebagai orang bali
      trimakasih

  8. penulis artikel ini memang aneh, apa yang terjadi dengan ritual agama islam di jawa dipikirnya sudah biasa dan sepertinya tak bisa merasakan apa yang dialami kaum minoritas diluar islam, begitu terjadi sebaliknya di bali yang mayoritas umat hindu jadi wajar kalau bingung sendiri. ASilahkan sekali-sekali ke singapore, dan cobalah mengamati bagaimana seluruh masjid disana tidak diperbolehkan pasang toa pengeras suara yang dihadapkan keluar, bukan karena islam disana ditindas, tetapi karena mereka memberlakukan setiap agama disana sama. yang mayoritas dapat libur hari raya cuma 1 hari sama dengan yang lain, bukan karena mentang-mentang mayoritas terus memaksakan ajaran agama mereka ke setiap lini hidup negara, ya pasti rusak seperti di Indonesia.

    • @Setiadi: justru and ayg aneh…
      apakah NYEPI menurut anda tidak memaksakan kehendaknya???

      klo hari raya model NYEPI di BALI itu dianggap tidak memaksa, mk justru anda yg aneh.
      Anda paradok dg pemikiran anda sendiri yg menyatakan bhw Singapura semua agama diperlakukan sama.

      Coba tengok ke negara2 lain juga mas biar lebih objektif dalm menilai ya.. 😉

      Selain itu, Indonesia tetaplah Indonesia. Singapura Singapura. Amerika ya AMerika
      tidak bisa disamakan mas. Analogi anda terlalu memaksakan.
      Pada kesempatan ini sy menyoroti “PEMAKSAAN” RITUAL NYEPI di BALI untuk UMAT NON HINDU.
      dan sy tdk membicarakan perayaan NYEPI UMAT HINDU DI LUAR BALI yang sy lihat juga wajar2 saja dan bisa mereka lakukan dg cukup khusyu’ tanpa harus meminta org2 disekelilingnya untuk ikutan NYEPI atau menuntut pemerintah untuk mewajibkan seluruh rakyatnya ikutan NYEPI seperti di BALI.

      Indonesia rusak itu klo mas baca sejarah, justru setelah adanya kemerdekaan lho mas. Setelah lahirnya NKRI melalui Proklamasi.

      Di Zaman kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Demak, Mataram, Negeri justru maju lho mas…., knp? Karena mereka Negara (bc: kerajaan) yg berAGAMA.
      Sriwijaya dg HINDU nya. Mataram ISlam dengan ISLAMnya. So, sekali lagi argumentasi mas setiadi ahistoris alias tdk berdasar pd fakta. Namun hny berdasarkan asumi pribadi yg tidak berdasar.

      So, ada lagi pertanyaan yg lain mas? 🙂

      mohon jgn keluar dr semesta pembicaraan mas..

      kita sedang bhas NYEPI Yang MEmaksa Seluruh Pemeluk AGAMA di BALI untuk ikutan NYEPI.

      😉

      • penduduk bali yg datang ke bali memang sebagian besar berasal dr pulau Jawa. tapi yang beragama HINDU…
        jadi karena kebudayaan hindu di Jawa sudah menjadi minoritas, maka mereka datang ke Bali yg notabene masih menganut ajaran Hindu.
        dan untuk Nyepi merupakan “pemaksaan” bg agama lain; saya tidak merasa seperti itu. nyepi bukan merupakan perayaan biasa d bali. jgnkan Indonesia, duniapun sudah mengakuinya. tidakkah anda bangga sebagai orang indonesia yg memiliki saudara dengan adat dan budaya yang menjadi “contoh” di mata dunia??
        di seluruh dunia, hanya hari raya Nyepi yg bisa menghentikan kegiatan untuk “merenung” sehari akan apa yang sudah kita perbuat pada diri sendiri, keluarga, lingkungan bahkan pada bumi kita ini. pada hari raya nyepi kita hanya “meng-istirahatkan” bumi ini sehari dari polusi…
        dan bagi yg merasakan “pemaksaan” terhadap budaya ini coba mengerti sedikit tentang falsafah hari raya ini. justru klo kita ikut d dalam perayaan ini berarti kita juga telah minimal “membebaskan” bumi sehari dari polusi yg kita buat.
        the last: thanks for your opinion about our culture! hope our brotherhood will able to guide us as one big nation in the world!

      • kalo gak mau dipaksa jangan tinggal di Bali,gampang,wisatawan banyak datang ke Bali karena pengen lihat Nyepi juga,wisatawan aja gak ada protes,orang numpang makan aja bnyak yang protes

      • Bwat mas gado2 ngaca dong mas…. hindu nyepi cuma satu hari yang tujuannya membersihkan diri dari keduniawian dan lingkungan dri pencemaran. Seharusnya ada postingan juga yg berjudul “Haruskah umat non muslim ikut budaya puasa ramadan dlm rangka idul fitri” puasa ramadan yg dilakukan selama 1 bln jauh amat berbeda waktunya dengan hindu selama 1 hari. Dan selama 1 bulan itu banyak toko, warung, kafe2 di P. Jawa yang dipaksakan di tutup, padahal pemilik toko, warung, kafe dan para konsumennya bukanlah muslim semua. Para non muslim sipaksakan harus mengikuti hal tersebut, kalo tidak FPI swiping melakukan tidakan kekerasan. Kalo anda mengelak hal tersebut brati anda termasuk orang yang perlu dikasihani karna kurang informasi dan tdk pernah nonyon tv. Apalagi di aceh diwajibkan seluruh warganya memakai jilbab bagi perempuan padahal penduduk aceh terdapat non muslim juga. Mngkanya sekali tambah ilmu tu bukan hanya dari dlm kandang sendiri, sekali2 tengok kandang orang lain, bgaimana keadaan umat non muslim lain. Jadi jngan nganggap muslim yg dizolimi aja…… umat hindu jauh banyak dan sering dizolimi…..

  9. Mereka ‎​Ɣªήğ tahu tidak berbicara, mereka ‎​Ɣªήğ berbicara sesungguhnya tidah tahu. Salam damai

  10. kalau andatidak bisa menghormati kami silahkan menjelang nyepi tinggalkan bali..dan kembali kebali jika sudah selesai hari raya nyepi..

    • langsung suruh jangan balik sekalian

  11. kalau kita berprinsip yg mayoritas jangan belagu yg minoritas jg musti tahu diri.saya kira toleransi umat beragama akan terjaga.kalau masalah hak asasi terganggu,saya kira suara adzan subuh jg sangat mengganggu warga nonmuslim yg sedang asyik ngorok.tp mereka mau tau diri sebab mereka minoritas.coba kalau 50-50 bs perang.makanya yg mayoritas jg belagu yg minoritas jg musti tau diri.enak kan.

  12. Untuk saat ini saya tidak bisa mendukung post Anda. Orang Hindu baik-baik, cinta damai dan sangat ramah. Tingkat kejahatan di Bali juga sangat kecil. Walaupun saya bukan beragama Hindu, namun saya sangat menghormati umat Hindu. Tidak ada salahnya dalam setahun kita memberikan mereka kebebasan untuk menjalankan ibadahnya. Toleransi sedikitlah.. Indonesia juga dapat banyak pemasukan dari Bali. Sebaliknya, kalau umat Hindu sudah mulai jarah menjarah, bakar2 tempa ibadah lain, dan membunuh orang yang tidak seiman, maka mau tidak mau saya akan mendukung post Anda.

  13. wah dasar orang islam banyak alasan untuk membenari dirinya ( makan aja babi enak to ) fuck

  14. bung, anda itu berpikir sempit sekali.
    apa anda tahu apa tidak mau tahu,
    kami yang non muslim jg ikut merasakan ibadah puasa,
    ketika umat muslim menjalankan ibadah puasanya di bulan ramadhan..
    kami sadar kami berada di lingkungan mayoritas mereka.
    karena itu kami turut menghormati ibadahnya,
    walaupun itu turut menyiksa kami,
    karena kami memang bukan muslim.
    tapi kami memegang teguh nilai toleransi.

    tapi mengapa ketika umat hindu di bali menjalankan ibadah nyepi,
    anda malah mengeluh dan marah – marah.
    apa anda sadar hidup di negara bhineka tunggal ika?

    negara ini bukan milik anda sendiri atau golongan anda !!!
    tapi milik semua orang.
    negara ini didirikan dengan modal darah pejuang yang terdiri dari beragam agama, etnis, maupun golongan.
    kalo ada saja semua orang yang berpikiran macam anda yang tengik ini,

    LEBIH BAIK BUBARKAN SAJA NKRI & DIRIKAN NEGARA – NEGARA PECAHAN YANG BERDASARKAN GOLONGAN MASING – MASING DI “EKS-WILAYAH NKRI” !!

    tapi bukan berarti saya tidak cinta NKRI.
    tapi saya cinta NKRI yang tetap menjunjung tinggi PANCASILA, UUD1945, SERTA BHINEKA TUNGGAL IKA !!!

  15. DAN SATU HAL LAGI.
    JIKA SAYA SEPERTI ANDA PEMIKIRAN BODOHNYA,
    MAKA KETIKA KAMI NON-MUSLIM YANG BERADA DI LINGKUNGAN / WILAYAH MAYORITAS MUSLIM,
    MAKA BISA SAJA SAYA MAKAN KETIKA MEREKA MENJALANKAN IBADAH PUASANYA.
    TOH SAYA JUGA MANUSIA,
    YANG BENAR BENAR KELAPARAN DAN BUTUH MAKAN.

    TAPI INGAT,
    SAYA JUGA TAHU DIRI.
    BAGAIMANAPUN SAYA JUGA WAJIB MENGHORMATI UMAT YANG SEDANG MENJALANKAN IBADAH PUASANYA.
    DAN TERUS TERANG SAJA,
    KADANG TOLERANSI SAYA TERHADAP UMAT LAIN JUGA MEMBUAHKAN HASIL.
    WALAUPUN SAYA NON-MUSLIM,
    NAMUN REKAN KERJA SAYA YANG MUSLIM MENGAJAK SAYA BUKA PUASA BARENG.
    DAN SAYA TIDAK FANATIK KOK.
    DENGAN SENANG HATI SAYA TERIMA AJAKANNYA MEREKA.
    BUKAN MAKANAN/MINUMANNYA YANG SAYA CARI,
    TAPI BUAH NILAI KEINDAHAN TOLERANSI LAH YANG SAYA PEROLEH,
    WALAUPUN HANYA BUKA PUASA BARENG.

    KALAU MEMANG KAMU TIDAK SUDI MENGHORMATI UMAT HINDU YANG MERAYAKAN IBADAHNYA DI HARI RAYA NYEPI,
    SEBAIKNYA KAMU KELUAR BALI SAJA DAN BISA KEMBALI LAGI SEUSAI NYEPI.
    ATAU BILA PERLU,
    KALAU SARAN INI KAMU TIDAK TERIMA,
    JANGAN TINGGAL DI BALI AJA !!!
    TOH KAMU TIDAK BAKAL TERGANGGU LAGI GARA – GARA IBADAH NYEPI UMAT HINDU,
    KALAU KAMU TIDAK TINGGAL DI BALI LAGI.

    INGAT !!!
    KEEGOISANMU ATAU KEEGOISAN GOLONGANMU BISA MENIMBULKAN PERPECAHAN NKRI,
    YANG SUDAH DIPERJUANGKAN PARA PENDAHUILU KITA DARI BERAGAM ETNIS, GOLONGAN, DAN AGAMA DENGAN SUSAH PAYAH !!

  16. saya bukan orang bali, tapi saya kok simpati dengan adat dan ritual orang bali. Bahkan orang manca negara menganggap bali sebagai tempat yang paling indah dan diberi nama Land of paradise. Pernah saya tidak dapat ke tempat ibadah karena acara nyepi toh saya tidak merasa dirugikan karena saya yakin Tuhan mengerti semuanya.

  17. wahai orang2 yg berkomentar..!! sudahilah komentar kalian dan jalanilah hidup sehari-hari kalian dengan keyakinan kalian masing-masing……..salam perdamaian !!!

  18. wah postingan apa ini??
    klo gk suka hari raya nyepi ya gk usah tinggal di bali,,
    KITA ORANG BALI TIDAK ADA UNTUNGNNYA KLO ADA PENDATANG SPERTI ANDA,,KITA TIDAK PERNAH BERHARAP ANDA TINGGAL DI BALI,,KENAPA ANDA TIDAK TINGGAL DI LUAR BALI??
    APA YANG ANDA CARI DI BALI??
    DASAR ENTE UMAT KAOR”,UMAT ONTA,TIDAK TAU DIRI,,
    EH KALO DI TANYA SEJARAH,,TDK SADARKAH BAHWA DULU YANG MAYORITAS DI INDO HINDU??,,
    MKNYA BNYAK DUNIA,TERUTAMA BARAT,,BENCI AGAMA LOE,,SETIAP DTANG KETEMPAT LAIN,PSTI KPNGINNYA MENGUASAI DAERAH TRSBUT,,
    TRUS<<SETIAP NEGARA MAYORITAS AGAMA ISL** PASTI SENGSARA,TIDAK MAJU,BNYAK TERORIS,MISKIN,SIAL..FAKTA..

    INGAT!! SEMAKIN DIKIT PENDATANG KE BALI,SEMAKIN DIKIT KRIMINAL DAN BEBAN BALI..

  19. KALO mau bebas jangan tinggal di bali dong,gampang kan,gaa ada yang nyuruh kan anda tinggal di Bali,simple dan praktis,
    selamat mudik dan jangan kembali lagi

  20. Pemikiran penulis dalam topik ini sangat bagus, tetapi harus di perjelas apakah yang anda tulis ini bersifat pertanyaan, atau protes.seperti tercatat dalam sejarah satu satunya daerah di indonesia yang masih alami menjaga kelestarian dari adat, tradisi dan agamanya adalah pulau bali,penerapan ajaran agama hindu khususnya yang ada di bali adalah menggunakan konsep keseimbangan,yaitu keseimbangan antara alam manusia dan Tuhan.semua ini di ambil dari ajaran kitab suci hindu yaitu wheda.sesuai dengan sifatnya yang di tekankan dalam ajaran wedha itu adalah nilai kesadaran, bagaimana manusia sebagai mahluk yang paling sempurna diantara ciptaan tuhan mempunyai suatu kesadaran yang tinggi di dalam hatinya untuk melakukan kewajiban sebagai manusia.penyelenggaraan hari raya nyepi dengan berbagai aneka ritualnya adalah sudah menjadi warisan dari para leluhur orang bali yang memiliki tingkatan spiritual yang sangat tinggi dengan memohon kepada kebesaran Sang Hyang Whidi Wasa bagaimana seharusnya pulau bali ini diperlakukan. maka setelah diterjemahkan secara spiritual jadilah hari raya ini dengan berbagai macam proses sejarahnya.dari pertama kali diterapkan sampai saat ini terbukti hari raya nyepi bisa memberikan manfaat yang fositif bagi keseimbangan antara alam, manusia dan Tuhan, sehingga masih lestari sampai saat ini.
    Ajaran agama hindu mengajarkan kepada pemeluknya untuk bisa bersikap toleransi terhadap pemeluk agama lain , ini tidak hanya menjadi suatu ungkapan kosong tapi di wujudkan secara nyata bagi pemeluk hindu di dalam pikiran, ucapan dan perbuatan. karena begitu nyatanya ajaran hindu khususnya yang ada di bali sehingga berpengaruh bagi umat agama lain untuk tidak melakukan ajaran dan tradisi agamanya dari daerah asalnya, sehingga masalah ajaran agama adalah hak asasi setiap manusia untuk memilih tetapi harus juga menghormati tempat mereka berada, seperti kata pepatah dimana tanah di pijak disana langit di junjung,walaupun ajaran agama hindu berasal dari india tetapi kami mempunyai tatacara tersendiri dari warisan ajaran para leluhur kami tetapi tidak berbeda dalam tujuan utama ajaran agama hindu itu sendiri.
    Kerukunan umat di bali sangat baik, dan kalaupun ada yang jelek masih jauh lebih baik dari yang ada di tempat lain di wilayah indonesia, ini bisa terjadi karena tanah balilah yang mempengaruhi sikap mereka untuk mempunyai sikap yang sama, dengan adanya forum kerukunan umat beragama, dan dengan forum ini kami secara bersama sama menjaga dan melestarikan yang sudah di wariskan oleh para leluhur orang bali sebelumnya, dengan adanya niat yang baik dan kesadaran yang tinggi dari semua penduduk bali terlepas dari ajaran agama yang di anut segala aturan dalam perayaan nyepi bisa berjalan baik,ini sudah di akuai oleh semua umat beragama yang ada di bali dan satu satunya di dunia sebagai tradisi yang paling unik. bahkan banyak orang yang ada didunia bermimpi ingin merasakan suasana hari raya nyepi yang ada di bali.
    ini adalah pandangan dasar yang saya sampaikan bagi penulis,agar tidak berfikir secara sempit dan berasumsi sesuai dengan pendapat anda, jika ingin berbagi tentang pengertian, tujuan dan hubungan hari raya nyepi saya banyak waktu untuk berbagi dan berdiskusi, dan saya akan jelaskan secara lengkap agar anda mendapatkan suatu pengertian sehingga tidak menafsirkan suatu yang negatif terhadah warisan yang suci hari raya nyepi, jika perlu hubungi hp saya 082144154216 atau 087756935899 terima kasih.

  21. Dimana bumi dipijak,disana langit dijunjung..nyepi dibali sangat kental dengan percampuran agama,adat,budaya bali..sama halnya dengan aceh yg kental dengan keislamannya atau daerah lainnya diindonesia…menghargai keadaan tersebut merupakan bentuk toleransi dan penghormatan atas keyakinan kami umat hindu dibali dalam pelaksanaan nyepi yang sudah berpuluh2 tahun bahkan berabad2 dilaksanakan dibali seperti saat ini…mungkin anda perlu belajar lg tnt budaya bali sehingga bisa menghargai keyakinan kami..

  22. Semuanya bersatu bro
    Bantai para KORUPTOR…!!!!

  23. Saudara2 sekalian yang ganteng2 & manis2 …..
    Membaca komen2 kalian semua cukup menarik untuk dibaca,
    saya sdh baca dari atas sampai bawah ( baca : komen dari I made juliana)
    klo saya perhatikan ternyata terdapat 2 kubu yang bersebrangan pendapat, yang saya rasa menjadikan perbincangan ini menjadi panjang lebar
    kubu pertama (saudaraku Goda-Gado) VS kubu kedua yang diwakili lebih dari satu orang ( itu juga klo orang nya berbeda-beda) ada Okoh, AIM, agus Simon Peres dkk.
    Saya setuju dengan pendapat Goda-Gado, knp? karena :
    1. saya seorang muslim, “Setiap Orang Orang Muslim adalah bersaudara “.
    2. Saya berfikir bahwa, klo di bali dengan jumlah mayoritas penduduknya beragama hindu dan dalam setiap perayaan Nyepi dikeluarkan perintah dari Pemda setempat untuk melarang setiap orang yang berada di sana untuk “tidak mengikuti” Nyepi / wajib mengikuti perayaan Nyepi, saya rasa itu sudah merupakan pelanggaran HAM dalam beragama ( dilarang untuk adzan dsb), karena apa? di setiap wilayah di Indonesia yang memiliki umat islam yang mayoritas maka akan kita temui dalam setiap perayaan tidak pernah memaksakan kepada warga yang memiliki agama minoritas.
    3. Indonesia memiliki pemimpin (baca : pemimpin daerah / pusat) yang beragama islam maka kita mungkin tidak akan menemukan perda yang dapat merugikan / melanggar HAM dalam beragama bagi masyarakat minoritas dalam menjalankan agamanya, karena Islam adalah agama yang menjadi bagi rahmat seluruh alam.
    maaf hanya perlu anda2 ingat ( baca: kubu kedua), bahwa islam adalah agama mayoritas di Indonesia, saya rasa bisa saja di perlakukan syariat islam bagi para pemeluknya ( bagi anda yang bukan beragama islam, saya rasa anda tidak akan menolaknya bukan/ berkomentar yang tidak baik).
    4. Kalo seandainya Pemimpin di negeri ini beragama Hindu maka saya rasa akan di berlakukan Peraturan yang sama dengan Perda di Pulau Bali dalam rangka perayaan Nyepi, memang saya bukan orang bali dan saya tidak tinggal di bali tapi saya bisa merasakan bagaimana perasaan orang2 islam di sana, bagaimana mereka mau menolak sedangkan mereka di sana hanya minoritas, jadi bukan menjadi alasan bahwa mereka (orang2 muslim) mau menerima Perda tersebut karena mereka diam, akan tetapi karena mereka akan di intimidasi bahkan mungkin akan dikeluarkan dari pulau bali bila mereka menolak perda tersebut ( bukan begitu bung Okoh id & Cs)

    Kesimpulannya : Perayaan Umat beragama di manapun berada alangkah indahya di ikuti tanpa adanya pemaksaan kepada umat beragama lainnya, karena umat islam sangat menhormati kebebasan beragama bagi umat yang lainnya ( Bagi kami Agama kami, dan bagi kamu Agamamu )

    Terima Kasih sdh membaca.
    Bung Goda-Gado tetap semangat perjuangkan akidah islam dimanapun dan dengan sarana apapun

    • ini posting karna protes apa bertanya?

      biar saya jelaskan
      muslim dibali ketika hari raya nyepi tepat hari jumat tetap dbolehin kmasjid dengan syarat meminta ijin dkantor desa tersebut sebelum hari raya nyepi dan tidak membuat keributan, seperti menyalahkan speker, jika tdak percaya anda boleh bertanya kepada muslim yang tinggal ddaerah bali selatan, apa mereka dilarang kmasjid? tidak ada pemaksaan buat anda tidak boleh kmasjid ketika jumatan yg tepat hari raya nyepi, jika anda tdk percaya silahkan bertanya dwarga muslim djalan dponogoro bali yang deket masjid dan anda boleh bertanya kepada ustadnya dmasjid tersebut

      oyaaa saaya pernah dengar ada orang muslim dtangkap djalan waktu hari raya nyepi karna memainkan suara knalpot motor djaalan sehabis pulang dari mesjid.
      jika itu anda, jng salahin adatt istiadatnya tpi salahkan anda sendiri…

      jng samakan hindu di indonesia dengan di india karna pengaruh kental adat istiadat dari 2 negara berbeda

      note: ingat kita negara beragama berlandaskan pancasila, Masyarakat yg sangat menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa dan hidup damai.

  24. Bung sy mau tanya,,, apa memang kbodohan, fanatik yg sempit n suka cari masalah di situasi yg sebenarnya g ad masalah tu udah mndarah dging y d muslim. Krn dr bnyk pristiwa org muslim tu kbnykan sprti itu gtu lho

  25. wah wah ati ati buat tulisan seperti ini, mengacu ke sara.
    agamaku ya agamaku, agamamu ya agamamu.
    kalau kamu masih menghargai agamaku marilah kita saling rukun.
    Jika kamu benci dengan agamaku ,silahkan kamu pergi dari pulauku.

    kuliner di bali

  26. sudahlah .. jangan diperdebatkan lagi. Saya sendiri agama Hindu dan saya hidup dan lahir di Bali. Seperti nyepi di tahun 2015 ini, bukankah sudah diperingatkan jauh2 hari oleh aparat pemerintah bahwa pada saat hari raya nyepi seluruh masyarakat yang ada di Bali untuk memadamkan lampu, televisi tidak ada siaran dan menjaga ketenangan, jadi logikanya gini, ketika sudah ada peringatan demikian berarti bagi masyarakat yang non-Hindu dan merasa tidak bisa beradaptasi dengan keadaan ini dibebaskan untuk meninggalkan pulau Bali sementara mungkin sehari atau dua hari jadi tidak ada unsur paksaan sifatnya disini. Kalau memang anda siap menghadapi kondisi ini silahkan hormati kami dan kalau tidak bisa menghadapi kondisi ini ya dipersilahkan untuk mencari tempat lain dulu bukannya menghujat, mencemooh kami warga Hindu yang memang kami sadari bahwa kami adalah minoritas di Indonesia. Namun dimanapun hukum berlaku bahwa Minoritas juga memiliki hak yang harus dihormati.

    Jujur saja, saya pribadi merasa disakiti dengan adanya postingan ini karena saya merasa kami warga Hindu Bali selalu menghargai seluruh masyarakat luar yang datang ke Bali tanpa memandang ras, suku dan agama mereka asalkan tujuan mereka baik karena semua agama adalah sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa itulah ajaran kami umat Hindu.

    Jika saya salah bicara mohon diingatkan karena pada dasarnya saya hanya menginginkan kedamaian umat beragama di seluruh dunia bukan hanya di Bali maupun Indonesia. Thanks.

  27. Umat beda agama di Bali memiliki toleransi yang tinggi. Mereka saja tidak protes dan ikut serta melaksanakan upacara nyepi mengapa anda yang berkomentar hingga menyebabkan perpecahan di luar. Di Bali kita sudah damai jangan buat artikel yang memancing amarah umat lainnya terhadap Bali. Mereka wajar kalo hari raya mereka diutamakan disana karena mereka asli sana yang numpang harusnya mengalah. Kalo anda merasa dirugikan jangan tinggal di Bali.

  28. Sudahlah jalani saja, saya sangat prihatin dengan anda nampaknya hanya anda yang memiliki pendapat seperti ini dapat dilihat dari setiap komentar anda yang mendapatkan unlike terbanyak salut. Apapun yang anda lakukan tradisi tetap tradisi. Trus mau kamu apa?. Umat beda agama boleh bepergian ? Mau pergi kemana orang semua toko tutup. Kalo masalah ke masjid sih its oke aja, asal jangan ribut.

    • Aksi saling pukul antara Abdullah dengan Warta berawal saat Abdullah dihentikan ketika hendak menuju ke masjid untuk menunaikan shalat dzuhur.

      http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/03/28/onizyg361-salah-paham-pecalang-pukul-mualaf-yang-sedang-shalat

  29. Aksi saling pukul antara Abdullah dengan Warta berawal saat Abdullah dihentikan ketika hendak menuju ke masjid untuk menunaikan shalat dzuhur…….

    http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/03/28/onizyg361-salah-paham-pecalang-pukul-mualaf-yang-sedang-shalat

  30. Keduanya sepakat membuat kesepakatan damai dengan membuat surat pernyataan. Namun kesepakatan itu dilanggar oleh terduga pecalang. Rumah Putu Abdullah dilempari batu oleh seseorang yang tidak dikenal pada Selasa (28/03/2017) sekitar pukul 22.19 WITA.

    http://metrobali.com/2017/03/29/pasca-damai-dengan-pecalang-rumah-malah-dilempari-batu/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: