Setengah Malam di Yogyakarta


Source Foto: Husnawanmedia

Source Foto: Husnawanmedia

Sekitar pukul 15.30 setelah sholat Asar berjamaah di masjid Frobel Sondakan Laweyan Solo, aku berangkat dari Solo menuju Yogyakarta yang terkenal sebagai kota Pelajar dengan mengajak seorang kawan, sebut saja namanya Adin.

Singkat cerita, aku telah memasuki Yogya tepatnya di daerah Janti yang saat itu jalannya sedang dalam perbaikan. Tujuan awalku ke shopping terlebih dahulu. Namun karena jam pada HP menunjuk pukul 17.00 aku memutuskan untuk mengubah arah tujuan awal tersebut. Aku kemudian mengalihkan tujuan ke Jogjatronik tempat lokasi service center laptopku yang kemungkinan akan tutup sekitar pukul 19.00.

Sesampai di Jogja tronik, laptop kemudian aku service dan sekitar pukul 18.30 selesai. Aku dan kawanku segera ke lantai basement gedung. Keluar dari arah pintu lift kemudian belok kanan menuju mushola Jogjatronik. Setelah sholat maghrib – isya dengan dijamak, aku mengirim sms ke teman yang sedang liburan di Yogyakarta.

“Sekarang saya telah di Yogyakarta”

Dia menjawab

”Saya di Jogokaryan ……………….”

Sesaat kemudian dia telpon

“Kamu mau kesini?” tanyanya.
”Bolehlah” jawabku.

“Ya, saya tak mandi dulu” katanya lagi.

“Ya silakan” jawabku menutup pembicaraan.

Segeralah aku dan kawanku meluncur ke Jogokaryan.

Sesampainya di perempatan pojok benteng kraton ke arah Parangtritis, aku minta Adin, kawanku yang kebetulan mengemudikan motor untuk terus ke arah Parangtritis. Sekitar 1-2 kilometer dari perempatan, di sebelah kananku tepat di ujung pertigaan Jogokaryan aku lihat pom bensin. Aku minta Adin agak berada di tengah jalan karena pada gang masuk pertama nantinya kami harus ambil jalan masuk ke kanan. Aku lupa membaca nama jalannya apa karena saat itu gelap sedangkan di sekitarnya tidak ada penerangan yang mampu menerangi tulisan aksara nama jalan atau gang tersebut. Yang aku ingat sebelum masuk ke gang itu di ujung gang ada lima tiang bendera yang menjulang tinggi.

Seratus meter kemudian di sebelah kanan jalan ada papan bertuliskan ”Terapi Batu Giok”.

”Ah ini dia” pikirku.

Segera saja aku melangkah masuk halaman yang cukup besar. Mungkin tidak hanya cukup tapi memang sangat besar. Rumahku mungkin hanya seluas sepersekian halaman rumah ini.

Melihat begitu luasnya halaman rumah yang aku tuju itu, tiba-tiba nyaliku jadi ciut. Mungkin penyakit bawaan sejak lahir bila datang ke rumah seseorang yang besar karena aku sendiri lahir dari orang tua yang hanya memiliki sepetak rumah kecil di pinggiran kota Solo. Sempat terbesit dalam hati ketakutanku untuk mengurungkan niat masuk ke rumah ini.

”Bukan seorang yang jantan jika hanya dengan seperti ini saja saya menyerah.” hiburku dalam hati.

Dengan mengucap kalimat salam aku goyangkan lonceng kecil yang terantai di kusen pintu gerbang besi yang saat itu aku lihat berwarna merah. Semoga aku tidak salah dan tidak sedang rabun karena sekali lagi pada saat itu malam hari. Sebuah kertas yang berwarna putih pun bisa saja tampak hitam agak terang.

Dua kali aku mengucap salam, akhirnya keluar seorang ibu yang aku rasa beliau adalah bulik (tante-bibi) seseorang yang akan aku temui itu. Sepintas aku lihat rambutnya yang hanya sepundak telah beruban. Beliau menyapa dengan kalimat halus,”Maaf, cari siapa..?”

”Mmmm, maaf bu, saya mencari Angel yang dari Jakarta.” jawabku dengan berusaha pelan dan lembut pula.

”Ooo, yang dari Solo ya..? Ayo silakan masuk! Silakan duduk sebentar ya, Angel baru mandi” katanya.

”Oiya bu.” jawabku lirih.

Sesaat kemudian, dari arah belakang rumah dari balik mobil sedan berwarna gelap yang merknya aku lupa, muncul dengan mengembangkan senyum ke arah kami seorang wanita berjilbab berkemeja bercelana panjang yang berwarna terang seraya mengatakan, ”Ini temennya mbak Angel yang dari Solo itu ya..? Duduk dulu aja ya..! Mbak Angel-nya sedang mandi.”

”Oh, iya mbak. Nyantai aja.” jawabku.

Kemudian dia pamit ke belakang karena kurasa ada urusan yang harus dilakukannya di dalam rumah. Mungkin saat itu dia sedang menyaksikan pertandingan final bulutangkis piala Thomas di Trans TV secara langsung dari dari Istora senayan antara Korea Selatan dan China.

Menunggu di luar rumah dengan duduk di atas dipan kayu jati yang berplitur halus membuatku agak merasa gemetar. Saat itu aku merasa bingung untuk nantinya mau mengawali ngomong apa.

Biasanya kami (aku dan Angel) hanya saling menyapa melalui untaian kata per kata kalimat per kalimat yang terbaca di depan layar laptop. Ya, kami hanya terbiasa bertutur melalui chatting, sebuah cara komunikasi yang terhitung paling mutakhir dan paling murah. Sesekali, kami gunakan fasilitas VOIP dalam Yahoo Massenger untuk menyapa lewat suara.

Apapun itu dan selama apapun kami telah berkomunikasi, aku merasa itu adalah dunia maya. Dunia yang banyak orang mengatakan termasuk kebanyakan temenku juga sebagai dunia yang penuh dengan ketidakjujuran, kedustaan, dan kepalsuan. Benar atau tidak bagiku tidak masalah dan tidak menjadi persoalan.

Dan sebentar lagi, satu menit atau lima menit lagi aku akan bertemu dengan seseorang yang meskipun telah lama ku kenal di dunia maya, tetapi sama sekali belum pernah bertatap muka. Jarak fisik yang sebelumnya terpisah sejauh kurang lebih 350 km yang memisahkan kota tempat tinggalku dan tempat tinggalnya (antara Solo – Jakarta) sebentar lagi hanya akan berjarak dua meter atau satu meter saja.

Sambil menghilangkan rasa tegang yang mulai naik dari jari kaki menuju ke atas hingga setidaknya berhenti di dada yang aku rasakan, aku ajak kawanku ngobrol ngalor ngidul kemana saja. Sesaat kemudian, suara sandal yang berserak kudengar dalam indera telingaku mulai mendekat dari arah dalam. Langkah itu aku dengar tidak terlalu dalam namun juga tidak terlalu luar, tidak terlalu kuat dan juga tidak terlalu lembut, tidak terlalu cepat namun juga tidak terlalu lambat.

”Ini pasti langkah seorang perempuan” bisikku dalam hati.

Sejurus kemudian, dari arah kiriku ada suara menyapa yang keluar dari seseorang yang aku yakin seorang perempuan. ”Betul juga dugaanku tadi” kataku dalam hati. Dan yang aku lebih yakin lagi adalah suara dari Angel yang pernah kudengar jika aku chatt VOIP via YM.

”Assalamu’alaikum…” sapanya dengan lembut.

”Wa’alaikum salam wa rahmatullah” jawabku dan Adin nyaris serempak seraya beranjak dan berdiri dari dipan kayu berplitur yang kami duduki.

Ya, ini dia Angel yang selama ini ku tahu dari foto yang kulihat di friendsternya saat dia mengajukan request friend pada friendsterku. Tidak salah lagi” jawabku dalam hati.

Dia angkat kedua telapak tangannya ke atas dengan melekatkannya satu sama lain seperti orang yang akan salaman sambil mengucap salam dengan lirih ke arah temanku dan tentunya aku juga. Mulutnya tersenyum menyambut (mungkin juga sebenarnya terpaksa menyambut J ) kedatangan kami. Membalas senyumnya, kami pun juga tersenyum sebagai bentuk adab dan sopan santun seorang tamu.

Tangan atau ujung jari jemari kami tidaklah saling bersentuhan sama sekali karena aku tahu bahwa hal ini tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam sekalipun dalam masalah salam-salaman antar jenis semata yang bukan mahramnya.

Pertama kali aku memperoleh informasi larangan ini saat aku masih duduk di SMP. Saat itu guru bahasa Arabku mengatakan dengan cukup lantang bahwa besi atau pasak alias paku yang ditancapkan pada tubuh kita adalah lebih baik daripada apabila kita menyentuh kulit lawan jenis secara sengaja. Demikian kurang lebih kata-katanya.

Saat itu aku lihat Angel mengenakan pakaian blus muslimah yang longgar berwarna kuning (warna yang sebenarnya aku benci) dengan jilbab besar berwarna hitam rapi dan rok longgar panjang gelap terlihat anggun dan pas dikenakannya. Baju yang dikenakannya terlihat terbelah pada ujung lengan tangannya. Sementara itu, sepasang decker (aku sebenarnya bingung mengatakan istilah yang tepat untuk itu. Sepasang asesoris yang biasa dikenakan wanita muslimah yang melingkar di ujung tangannya memanjang hampir mendekati siku yang berfungsi menutup aurat tangan para wanita muslimah) melingkar di ujung lengannya. Oya, yang hampir terlupa adalah sebuah kacamata menghias di wajahnya melengkapi.

Kami pun dipersilakan masuk ke ruang tamu. Sesaat aku dan temenku saling pandang, bingung untuk duduk di sebelah mana. Satu kursi berada berseberangan terpisah oleh meja persegi panjang. Sementara kursi yang agak panjang yang mungkin bisa diduduki 3 orang berada di sisi meja.

Karena takut keburu berdiri lama dan terkesan aneh, aku langkahkan kakiku untuk segera duduk di kursi kecil yang berada di ujung. Sementara kawaku berada di seberangku terpisah meja. Sedangkan Angel duduk di kursi panjang yang berada di sebelah sisi meja.

Setelah menyambut kami sejenak, dia beranjak masuk ke dalam rumah. Kemudian, aku dan Adin mengambil keputusan untuk duduk saja di kursi panjang agar nantinya kalau ngobrol tentang sesuatu bisa bareng-bareng. Perlu diketahui, kawanku sebelumnya tidak mengenal Angel. Biarlah Angel duduk pada salah satu kursi kecil.

Kemudian berselang lima menit, Angel kembali ke ruang tamu membawa dua gelas kecil berisi kopi yang dibawa di atas baki. Ia menaruh dua gelas kopi yang kulihat masih panas itu di atas meja.

Kopi, bagiku adalah minuman favorit. Awal kesukaanku pada kopi bermula pada saat kegiatan camping masa SMA. Di pegunungan merbabu, aku diminta untuk shift jaga tenda waktu malam hingga dini hari. Udara yang sangat dingin menyentuh tulang dan menghambat aliran darah karena ikut kedinginan, membuatku mencari teman penghangat sepanjang malam. Yang kulihat di tenda dapur saat itu hanya kopi. Maka, kubuat saja kopi seadanya. Ternyata rasanya harum dan cukup membuat teman hangat sepanjang malam. Sejak saat itulah aku mulai agak keranjingan kopi.

Apabila aku bertamu dan ditanya mau minum apa, aku seringkali menjawab “kalau boleh, kopi aja ya!” Maka dari itu, kawan-kawanku seringkali menyebutku sebagai manusia kopi lah, orang tua lah,, dan seterusnya.

Saat akan meletakkan kedua gelas kopi ke atas meja, serasa senyum dan mencoba berbahasa jawa lembut ia mengatakan, ”monggo..!”

Habis itu, kami tersenyum. Aku agak tertawa kecil mendengar kalimat ”monggo” itu. Terkesan lucu karena diucapkan oleh seorang yang biasa berbahasa bahasa Indonesia dan bukan orang asli jawa. Tapi saya hargai percobaannya itu.

”Silakan diminum lho, ini kopi mix plus gingseng.” katanya.

”Oya, gingseng? Wah pengalaman baru nih. Ya terima kasih, ntar tak cobanya” jawabku dengan bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar.

”Gimana, sudah nyampai mana saja jalan-jalan liburannya?” tanyaku mengawali obrolan.

”Kemaren malam ke malioboro. Sampai pukul 11.00. Nyampai sini agak dimarahin sama bulik. Katanya besok jangan sampai malam-malam kayak gini. Terus tadi, kita ke kraton dan ke borobudur.” ceritanya.

”Wah bener-bener enak ya di Jogja. Busnya nyaman, enak, ga terlalu ramai, ga ada kemacetan. Pokoknya kita ngerasa nyaman deh.” tambahnya.

Begitulah seterusnya, kita ngobrol-ngobrol kesana-kemari, sharing ini-itu seraya menyeruput kopi hangat yang ada di atas meja sesekali sedikit-sedikit. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil (aku lupa mobil jenis apa dan merek apa) masuk ke halaman rumah bulik Angel terlihat dari balik jendela ruang tamu. Kemudian, tak berapa lama, HP Angel berdering tanda ada telepon masuk.

”Ya, bentar lagi.” kudengar kata-kata itu yang keluar dari mulut Angel.

”Eh, temen yang di mobil ya? Ya udah deh, kami mohon ijin pulang aja kalau gitu.” kataku kepada Angel karena memang sebelumnya Angel sudah merencanakan untuk pergi ke Sleman malam itu bersilaturrahmi ke teman lama, katanya sebelumnya.

”Maaf ya, terpaksa terusir nih.” Kata angel agak kurang enak hati.

”Ah ngga apa-apa. Biasa aja lagi. Kita nggak ngerasa keusir kok.” jawabku di lisan sambil membatin sebenarnya di dalam hati. “Ah, ngga tahu lagi ngobrol bentar nih orang. Ngganggu aja! Nunggu 10 menit lagi ngapa?” begitu kataku dalam hati agak gusar dan sebel. Namun, kata-kata itu sebenarnya hanya terucap sedikit saja di hati.

Waktu itu, aku sebenarnya agak sedikit jengkel sih sedikit, tapi karena memang Angel telah ada janjian lebih dahulu dengan teman-teman yang menjemput pakai mobil yang tengah menunggu di depan halaman rumah apa boleh buat. Akulah sebenarnya yang salah.

”Mari mbak, mas, kami pulang dulu. Terima kasih atas semuanya. Mohon maaf jika ngrepotin dan agak ngeganggu. Jazakumullah. Assalamu’alaikum.” begitu kataku saat pamitan.

Kemudian, Adin menghidupkan mesin motor. Lalu kami beranjak pelan berjalan keluar halaman rumah bulik Angel tersebut. Dalam perjalanan pulang kami, kami menyempatkan mampir ke rumah bulikku yang bertempat tinggal di daerah Mlati Sleman. Kalau dari arah perempatan Ring Road jalan Yogyakarta-Magelang, belok kiri ke arah Wates sampai di perempatan dekat sebuah kampus yang aku lupa namanya. Kemudian belok kanan dan jalan lurus hingga sampai sampai notok pertigaan lalu belok ke kiri melewati jembatan dan lurus hingga ada sebuah lapangan yang di sampingnya terdapat SD. Di daerah itulah tempat tinggal bulik-ku.

Saat mampir di rumah bulik, kami dijamu dengan semangkuk mie bakso hangat. Setelah bersilaturahmi dan ngobrol-ngobrol selama beberapa saat sekitar 75 menit, kami mohon pamit. Tentunya juga karena sudah kenyang J dan sudah malam. Bisa-bisa nyampai Solo dini hari kalau tidak segera pulang.

Dalam perjalanan pulang tepatnya di perempatan monumen Yogya Kembali ring-road utara Yogyakarta, motor yang saat itu aku kendalikan tiba-tiba agak oleng ke kiri. ”Hei, apa nih? Siapa yang nabrak motorku nih?”

Dalam hitungan sepersekian detik ada seseorang pengemudi motor di belakang kami berteriak. ”HEI…!!!”

Dan kemudian dalam waktu sekejab mata. Gubrak…Gubrak.

Aku palingkan kepala ku ke arah belakang. Seorang pengendara motor dan motornya (NSR kurasa waktu itu) sudah terjatuh mencium aspal. Sekian detik kemudian, aku dan Adin menghampirinya. Dan tanpa rasa berdosa, Adin menghardik si pengendara yang jatuh itu setelah ia mampu berdiri dan menepikan motornya.

”Hei mas, ngapain nabrak motorku?” kata Adin

”Hei, jangan diam aja! Ayo jawab!” tambahnya.

”Din, udahlah. Kita tinggal aja dia. Biarin. Toh motor kita juga tidak kenapa-kenapa kok!” sahutku menyudahi masalah karena aku capek ngurusin masalah seperti ini.

Sebagai sedikit informasi, saat itu sang pengendara motor yang terjatuh itu sedang merintih agak sakit dan terduduk di pojok tembok tepi jalan. Namun, dengan tanpa dosa, kami hampiri ia dan kami tegur dengan nada yang cukup keras. Saat itu dia terlihat kesal namun hanya diam seribu bahasa. Semoga dia tidak tuli atau bisu.

Sebenarnya, aku menghampiri dia itu hanya untuk membantu dia saja jika terjadi apa-apa meskipun sebenarnya kami nggak merasa bersalah dalam kecelakaan kecil tersebut karena motor dia lah yang tiba-tiba menyundul slebor dan knalpot motorku. Rasa kemanusiaan saja yang mendorong kami. Namun, tanpa kami sangka, muka si pengendara motor itu memperlihatkan rasa benci kepada kami dan rasa kesal yang dalam. Rasa kesalnya itu sempat dia visualisasikan dengan menendang sandalnya ke arah kami.

Melihat reaksi dia yang kurang bersahabat itu, Adin agak terpancing emosinya. Kemudian dia tanya si pengemudi ”bodoh” itu. Sudah salah, nggak ngerasa salah, malah nglemparin rasa kesal kepada kami yang sebenarnya korban. Benar-benar ngga tahu diri nih anak. Mungkin itu yang ada di pikiran Adin.

Melihat wajahnya yang agak memelas dan bertambah kesal setelah ”diceramahi” Adin, aku merasa agak iba saja meskipun sebenarnya aku patut marah kenapa motorku dia tabrak. Wajah sangarnya yang berhias anting besar di telinga sisi kirinya seolah tertutup kesal dengan reaksi kami. Tanpa pikir panjang, kami tinggalkan saja orang ”bodoh” itu.

Sepanjang perjalanan pulang menuju Solo, aku sempat terngiang-ngiang pada pribadi Angel yang kurasakan aura keistimewaan yang luar biasa darinya. Pertemuan itu adalah pertemuan pertama kami berdua. Namun, aku merasakan bahwa muslimah yang satu ini sungguh istimewa. Dalam bertutur, ia berkata halus, sopan laksana perempuan Jawa yang berkebalikan dari aku yang orang Jawa ini. Aktivitas kesehariannya yang banyak menyita waktu ia isi dengan aktivitas yang bermanfaat. Bekerja dari sejak pagi buta hingga malam hari adalah rutinitas pekerjaan sehari-harinya bekerja di sebuah perusahaan swasta dari hari Senin hingga Jumat. Hari Sabtu dan Ahad, ia habiskan waktunya untuk aktivitas-aktivitas sosial masyarakat dan dakwah serta mencari ilmu agama. Demikian setidaknya yang kudengar dari hasil obrolan kami sebelumnya.

Satu hal istimewa yang aku rasakan lagi dari Angel adalah sikapnya yang tidak gampang menerima pinangan dan lamaran dari sosok lelaki begitu saja sebelum mengetahui akhlak agamanya.

Padahal biasanya, apabila ada seorang wanita yang hingga usia 35 belum menikah, maka dia akan segera melakukan apa saja untuk segera mendapatkan sesosok pria entah dengan memasang iklan di biro jodoh atau mungkin memasang iklan baliho yang melintang di atas jalan protokol 😀 atau kalau dia seorang akhwat maka akan membuat ratusan salinan biodata untuk diberikan kepada murabiyah dan sejawat serta ikhwahnya.

Ia cenderung akan lebih menerima siapa saja lelaki yang tertarik padanya agar segera melamar dan meminangnya biar tidak keburu tua. Kalau perlu, menikah dengan lelaki beristri atau seorang duda pun ia terima tanpa terlalu pikir panjang karena kalau ia pikir dengan panjang justru ia akan kehilangan lelaki tadi. Tapi, muslimah yang satu ini tidaklah demikian. Kendatipun hingga usia hampir kepala empat, ia tetap konsisten memilih dan memilah kehadiran seorang pria yang saleh dan mulia akhlak agamanya sebelum ia putuskan sang pria untuk menjadi malaikat pendamping baginya. Di dunia dan di surga.

Di tengah bayangan slide-slide bercerita tentang Angel di benak mata jiwa, tak terasakan olehku, ternyata butiran air lembut sudah mulai banyak yang hinggap jatuh di atas pipiku. Ternyata perjalanan pulang kami harus dihibur oleh musik alam yang cukup deras menampar mukaku dan oleh rasa dingin air hujan yang merasuk ke tulang mengalir ke dalam nadi idera peraba.

Aku sampai di rumah pukul 11.30 dan aneh kurasakan mataku belum terlihat berat untuk segera mengatup. Mungkin ini karena segelas kopi gingseng yang tadi kuminum atau karena ketakjubanku bertemu dengan dengan sesosok muslimah istimewa itu. Pukul 12.30, aku terlelap dalam dunia lain. Beberapa saat, aku mati untuk bangun kembali menyambut subuh yang penuh barokah. (18 Mei 2008)

Ahmed Fikreatif

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: