Kenangan “Nyuri” Belimbing di Halaman Tetangga


Seorang Anak Tersenyum di Balik Daun

Seorang Anak Tersenyum di Balik Daun

Masa kecil memanglah masa yang penuh kenangan indah dan masa ceria untuk kebanyakan manusia yang hidup standar di dunia ini. Namun demikian, aku juga tidak menutup mata atas perjalanan hidup beberapa orang yang justru sangat suram di masa kecil mereka dikarenakan beraneka macam alasan dan latar belakang. Bagi anak-anak yang saat ini hidup di Palestina, Irak, dan Afghanistan, kita tidak menutup mata betapa beratnya perjalanan hidup mereka sejak mereka sebelum lahir dan entah sampai kapan, meskipun dalam beberapa kesempatan senyum dan tawa khas anak kecil di beberapa negara tersebut dan daerah konflik lainnya yang terekam kamera masih bisa mereka tunjukkan.

Keceriaan anak-anak yang memang tidak dan belum memiliki perasaan berdosa benar-benar keluar dari perasaan mereka yang ikhlas, tulus, dan tanpa beban serta apa adanya. Tawa dan seyum mereka bisa sedikit terlukiskan dalam foto di samping yang kupotret dari balik bayang dedaunan pohon.

Bocah itu tengah memanjat sebuah pohon yang dulu kukenal dengan sebutan pohon talok. Pohon itu menghasilkan buah kecil berwarna merah kekuning-kuningan jika telah masak saat tengah waktunya berbuah. Rasa buah itu manis sedikit kecut (masam). Dulu, jika kawan-kawanku memanjat pohon-pohon itu untuk mengambil buah talok yang selanjutnya dimakan bareng-bareng, maka aku adalah orang yang paling tak berminat. Nggak tahu kenapa aku ngerasa buah talok nggak enak saja di lidahku.

Dulu, kalau aku lebih suka manjat pohon belimbing di sebuah rumah kosong (lebih sering kosong karena hanya dijadiin sebagai gudang saja). Rumah kosong itu berada di depan showroom Rumah Batik Gunawan Setiawan Kampoeng Batik Kauman. Aku tidak tahu apakah rumah kosong itu masih ada berikut pohon belimbingnya atau sudah berubah. Hampir setiap pulang sekolah, aku sering manjat pohon belimbing itu untuk kuambil buahnya lalu kumakan begitu saja tanpa dicuci pakai air segala.

Jika kebetulan tengah bareng-bareng banyak kawan, kami sering manjat pohon itu untuk “menghabisi” seluruh buahnya yang telah masak dan layak untuk dimakan. Jika sudah terkupul berkilo-kilo belimbing, kami biasa membuat sambal untuk dibikin lotis-an bersama. Atau jika memang ingin dimakan begitu saja, biasanya kami menikmatinya di serambi Langgar Winongan.

Alasan kami ketika itu mengambil belimbing yang sebenarnya juga kami sadari bukan milik kami adalah “daripada busuk dan dimakan kodok, mendingan dimakan manusia seperti kita”. Atau kalau tidak demikian, alasan keberadaan buah yang ada di atas jalan meskipun akarnya di dalam area rumah kosong itu menjadi alasan kedua. Prinsip kami ketika itu, “Segala sesuatu yang berada di atas jalan adalah milik umum dan bersama, maka otomatis setiap orang berhak memilikinya”. 😀 hahahahaha

Alasan terakhir jika kami masih ditanya oleh guru ngaji kami jika secara kebetulan beliau lewat di saat

Seorang Bocah Tengah Memanjat Pohon

Seorang Bocah Tengah Memanjat Pohon

kami manjat pohon adalah “kami sudah minta izin sama yang punya rumah kok pak kyai..”. Padahal sebenarnya izin itu hanya sekali saja kami ungkapkan kepada si pemilik rumah kosong yang kadang-kadang mengunjungi rumah kosong itu. Atau jika tidak, yang penting kami sudah minta izin dengan “penghuni” rumah kosong itu namun tanpa jawaban boleh tidaknya. Hahahaha :D. yachhh.., namanya juga anak-anak. Ada saja alasan yang dikemukakan untuk melegalkan perbuatannya, sebagaimana aku dan kawan-kawanku dulu. So, jika ada orang dewasa yang memaksakan kehendaknya atau menghalalkan segala cara maka sebenarnya yang bersangkutan tak ubahnya anak kecil seperti kami dulu. 😀

Lalu, bagaimana dengan masa kecil anda????

Lalu, bagaimana dengan masa kecil anda????

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

3 Tanggapan

  1. Xixixi kreatif bgt postinganx 😀

    dulu wktu msh kecil, sya juga ****$&%$# wkwkw

    • terima kasih…

      mbok jangan muji terus…
      kalau ada kekurangan dikritik saja…….
      biar sekaligus sbg koreksi agar lbh baik.

      “dulu wktu msh kecil, sya juga ****$&%$# wkwkw”
      >> juga apaan Ka??? malah nulis tulisan acakadut kyak gitu?

  2. kalau saya sih belum pernah nyuri….
    (bukannya gak mau, cuma gak ada pohon yang bisa dijadiin target pencurian :p)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: