Museum [Tertua di Indonesia] Radyapustaka Surakarta Hadiningrat


Museum Tertua di Indonesia

Museum Radya Pustaka - Museum Tertua di Indonesia

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menguras rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga. Sambil jalan-jalan bawa kamera Casio Exilim Ex-Z75, kupotret beberapa hal yang menarik perhatianku. Salah satunya adalah Museum Radyapustaka.

Museum Radyapustaka terletak di kawasan Taman Sriwedari di depan Gedung Pengadilan Negeri Surakarta. Museum tua ini berada di tepi jalan raya utama kota Solo, Jl. Slamet Riyadi. Didirikan sejak 1890 di zaman pemerintahan Pakubuwono IX, Museum Radyapustaka pada awalnya berada di dalem Kepatihan. Kangjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV lah yang mendirikannya pada tanggal 28 Oktober 1890. Selanjutnya pada 1 Januari 1913, Radyapustaka dipindahkan di Jalan Slamet Riyadi atas prakarsa Pakubuwono X sebagaimana lokasinya sekarang, yang kala itu merupakan gedung museum milik seorang Belanda bernama Johannes Busselaar. Gedung plus tanah milik Busselaar dibeli seharga 65 ribu gulden. Radya Pustaka berasal dari kata radya yang berarti keraton atau negara. Sedangkan pustaka berarti perpustakaan.

Radya Pustaka mempunyai arti perpustakaan keraton atau perpustakaan negara. Luas bangunan seluruhnya 523,24 meter persegi. Dengan luas sebesar itu, museum ini tidak tergolong museum yang luas. Ruangannya terdiri dari ruang pameran tetap, ruang perpustakaan dan ruang perkantoran.

Di teras gedung kita akan menemukan koleksi arca dan meriam serta beberapa batu peringatan ulang tahun museum ini. Ada tiga ruang utama pada gedung tersebut. Di ruang pertama kita akan menemukan patung Sosrodiningrat IV sang pendiri museum tepat berada di depan pintu masuk.

Di ruang utama ini kita akan menemukan berbagai macam koleksi wayang. Ada wayang gedgedhog, wayang purwa, wayang krucil, wayang golek, topeng, dan koleksi senjata. Menyusuri lorong yang menghubungkan ruang pertama dengan ruang kedua, pada ruang sisi kiri kita akan menemukan ruangan dengan berbagai koleksi piring, gerabah, dan sebuah piala porselen yang merupakan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Sri Susuhunan Pakubuwono IV. Porselen inilah yang menjadi “bukti prasasti” adanya sebuah hubungan baik antara Mataram (Pakubuwono) dengan Napoleon Bonaparte (Prancis). Demikianlah gambaran umum yang dilukiskan oleh Koran Jitu. Membaca gambaran ini, aku jadi sedikit tertarik untuk setidaknya sekali saja masuk mengunjungi museum ini.

Sewaktu masih SD, aku dan beberapa kawanku cukup sering main-main ke sini, namun tidak maen ke dalam museumnya. Meskipun sering maen-maen di Taman Sriwedari dan halaman Museum Radyapustaka, hingga saat ini aku belum pernah sama sekali menginjakkan kakiku ke dalam ruangan museum. Padahal, harga tiket masuknya sangat terjangkau sekali. Terakhir, yang kuketahui, harga tiket masuknya hanya Rp. 5.000,-. Kemalasanku untuk masuk museum Radyapustaka ini dikarenakan banyaknya informasi-informasi dari beberapa kawan, saudara, paman, dan atau bibi saya yang mengatakan Museum Radyapustaka hanya memiliki koleksi yang sedikit. Bahkan pamanku menyebut museum ini hanya berisi patung-patung batu biasa. Hal inilah yang membuatku tersugesti untuk malas mengunjungi museum tertua di Indonesia (barangkali) ini.

Sejak 1951, keberadaan Museum Radyapustaka tidak berada di bawah naungan Dinas Purbakala maupun Dinas Pariwisata Pemerintah Daerah setempat meskipun Kantor Dinas Pariwisata Solo berada di belakang gedung Museum ini. Namun, museum berada di bawah naungan sebuah yayasan bernama Yayasan Paheman Radyapustaka Surakarta. Sebagai tugas pelaksanaan, dibentuklah semacam presidium yang pertama kalinya diketuai oleh Go Tik Swan atau K.R.T. Hardjonagoro tahun 1966.

Sejak beberapa tahun silam kisaran tahun 2007, museum ini sempat menjadi pusat perhatian dan obyek pemberitaan serta liputan media nasional saat Kepala Museum Radya Pustaka saat itu, KRH Darmodipuro (Mbah Hadi) ditahan pihak kepolisian dalam kasus hilangnya sejumlah koleksi museum abad ke-4 dan 9 yang dijual kepada pihak lain dengan harga Rp 80 juta-Rp 270 juta per arca.

Mau berkunjung di museum ini? Jangan lupa ajak-ajak saya yang belum pernah masuk ke sana. Dan jangan lupa bayarin tiketnya ya??? 😀

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

9 Tanggapan

  1. Hmmm.. pengen bgt ke solooo 🙂

    • kalu ke Solo, mampir rumah saya saja..

      :mupeng:

  2. Pak, aq wis rolas taun nang Solo sekalipun rung tau nyambangi tempat ini..hiks. Pengen jg sih, apalagi pas heboh2nya banyak arca yang ilang..
    aq malah seringnya nyangkut di sriwedari hihi

    • @Darin: kowe rolas tahun…
      lha aku malah 20 tahun punjul, yen mlebu njerone rung tahu blas. paling banter di serambine…
      lha kapan???

      :payah:

  3. beuh,,, kalo mampir dikasih ap? *ngarep 😀

    • ya kalao aku pas di Solo,
      syikasih sing murah-murah wae lah…

      makanan khas Solo koyo: Ampyang, Brambang Asem, Grontol, Cengkaruk, atau Brem.

      :sok apikan:

      • nek brem…nang nggonku wes akeh mas kekkekke

        wahh ternyata link ku sampean pasang yoww… suwun yoww… segera di back link 🙂

  4. Weleh, saya ketinggalan. 5 th di Solo hingga dpt istri di sono kok malah belum pernah mampir di Museum itu.

    • @ Mursyid: Wah lha kok br 5 tahun..
      sy yg 20 th lebih saja juga belum pernh masuk pak…
      hee;………

      @Cempaka: emang Brem nya sama po?
      Brem disini bentuknya seperti kue warna putih.
      sebagian kuning.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: