Ejaan Salah pada Rambu Larangan di Kampus Universitas Sebelas Maret


Rambu Tulisan Larangan Salah Ejaan Bahasa di UNS

Rambu Tulisan Larangan Salah Ejaan Bahasa di UNS

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menguras rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga. Sambil jalan-jalan bawa kamera Casio Exilim Ex-Z75, kupotret beberapa hal yang menarik perhatianku. Salah satunya adalah foto di samping ini. Adakah yang menarik dari hasil pandangan mata anda?? Coba tengok kembali dan baca dengan baik-baik! Adakah yang terasa janggal?

Pada rambu / tulisan larangan dalam foto di atas, terdapat sebuah kalimat yang secara lengkapnya tertulis, “DILARANG MENEMPEL SELEBARAN DIGAPURA”. Rambu / tulisan larangan ini kupotret secara langsung dari TKP (lokasi). Adapun TKPnya berada di depan Pintu Gerbang Utara (Belakang) Universitas Sebelas Maret Surakarta (kampusku juga :D). Aku melihat setidaknya sebuah kejanggalan pada kalimat larangan itu, yaitu penulisan kata “DIGAPURA”.

Setahuku, penulisan sebuah kata yang berawalan di- memiliki dua aturan di dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau salah, mohon koreksinya. Maklum, aku bukan seorang sarjana Sastra Indonesia atau FKIP Pendidikan Bahasa Indonesia. Pertama, kata di- yang menunjuk sebuah kata kerja seperti dipukul, dijilat, dicelup, dan lain-lain, model penulisannya harus disambung secara langsung tanpa spasi. Kedua, kata di- yang menunjukkan sebuah kata tunjuk seperti pada kata di Jakarta, di rumah, di pasar, dan lain-lainnya, maka model penulisannya harus dipisahkan dengan kata sesudahnya dengan spasi. Jadi kalau menurutku, penulisan “DIGAPURA” pada tulisan larangan itu tentunya salah dan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia.

Sayangnya, kesalahan itu justru terdapat pada sebuah institusi lembaga pendidikan yang tertinggi, yaitu Universitas, yang juga memiliki fakultas pendidikan dan keguruan. Tak hanya itu saja, universitas ini pun tergolong merupakan universitas yang cukup tua di kota Solo dan bahkan berstatus NEGERI pula. Tentunya, hal ini merupakan sebuah kesalahan yang tidak seharusnya dilakukan oleh institusi ini.

Dengan ini, aku sebagai salah satu alumni universitas ini berharap agar kesalahan ini bisa diperbaiki dan dikoreksi. Terutama oleh para pimpinan dan pejabat kampus yang terhormat.

Sebagai tambahan lainnya, tepatkah menurut anda pemilihan kata “SELEBARAN” dalam larangan tersebut ?? Sepemahaman awamku, “SELEBARAN” adalah sebuah kertas (biasanya promosi atau iklan) yang disebar-sebarkan, bukan ditempelkan. Betul ngga sih? Maturnuwun.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

9 Tanggapan

  1. hehe, harusny yag bener dimana? tulisan DIGAPURA menjadi di GAPURA begitu? hehe. mungkin memang yg nulis itu disuruh, jadi bukan institusinya yang menulis. namanya juga disuruh, jadi seadanya. hehe,

  2. yang disuruh salah gpp je…
    lha kalu yg masang atau yg memerintahkan ga nge-cek lagi brati kerjaannya ga bagus dong..

  3. Ya-ya-ya… saya setuju klo tulisan “DIGAPURA” itu adalah salah. Seharusnya adalah “DI GAPURA’ kan?

    Tapi klo “SELEBARAN” nya sih boleh-boleh aja tuh kk klo menurut saya…
    Kan tertulis “DILARANG MENEMPEL SELEBARAN….”
    Maka akan menjadi sah-sah saja ketika yang dimaksud adalah : dilarang untuk menempel kertas yang seharusnya untuk disebar-sebarkan… (Tapi nempelin upil, permen karet, ataupun poster peterpan adalah boleh… Hahahaha)

  4. eh eh,,, tadi di blog nya si Asop baca yg seperti ini juga…
    mirip tema postingannya 😛

    hohoho,,, harusnya tulisannya di pisah yak… jadi menunjukkan tempat… 😀
    harusnya biarpun nyuruh orang tapi di cek lagi ya… udah bener ato belum yg dikerjain :d

    HIDUP!!! ^_^

    • @Kika: iya.
      ini posting Februari

  5. Hehehe… Ini juga yang lucu, “digapura”… Udah jadi kata kerja pasif aja nih ya… 😆 😆
    Kalo selebaran…. hmmmm…

    mungkin benar juga, selebaran itu adalah kertas yang disebarkan. Tapi, gak ada salahnya kan menempel selebaran? :mrgreen:

    Ato mungkin yang benar “DILARANG MENEMPEL TEMPELAN POSTER DI GAPURA”. Gimana? 😀

  6. seharusnya di larang menenmpel “di tembok” ya.. hehe… (mulai ngaco lagi) haha.. salam kenal.,…

  7. mungkin DIGAPURA itu nama merk??

    jadi maksutnya: selain merk DIGAPURA boleh ditempel di sana
    bisa aja kan, ada konspirasi marketing disana? mungkin aja biaya cat gapura tersebut ditanggung saingannya DIGAPURA

    ada yg mau keisengan ngecek?? 😆

  8. oalah,,saya kira banguan batu itu namanya DIGAPURA… hehee….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: