Nostalgi[L]a Maen Karet Gelang (Permainan Tradional)

Nostalgia Maen Karet Gelang

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menghabiskan rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga. Sambil jalan-jalan bawa kamera Casio Exilim Ex-Z75, kupotret beberapa hal yang menarik perhatianku.

Seorang Bocah Menghitung & Memisahkan Karet Gelang

Seorang Bocah Menghitung & Memisahkan Karet Gelang

Ada sebuah pemandangan yang kulihat di depan mata yang membuat teringat kenangan masa kecil di Kauman. Di depanku ada seorang bocah menghitung sejumlah karet gelang yang barangkali ia peroleh dari memungut di jalanan. Kulihat-lihat ia asyik menghitung berapa jumlah karet gelang yang telah ia peroleh. Ia pun kemudian memisah-misahkannya menurut warnanya. Merah ia pisahkan dari hijau dan kuning.

Dulu saat aku berada di bangku TK hingga kelas 3 atau 4 SD, salah satu permainan musiman yang sering kami mainkan adalah permainan karet gelang. Dengan cara keluar masuk toko-toko besar macam Mac Mohan, Matahari, Obral, Prabu, dan beberapa toko lainnya di Solo; menyusur jalan-jalan, trotoar-trotoar, bahkan mengais-ais sampah-sampah, aku dan beberapa kawanku mengumpulkan karet gelang. Jika ada sedikit uang saku yang tersisa, terkadang aku membeli di warung kelontong yang jualan karet gelang. Jika sudah terkumpul, segeralah kami memainkannya bersama-sama dengan kawan-kawan. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: