Misteri Rel Bengkong Slamet Riyadi Solo


Rel Bengkong Slamet Riyadi Solo

Rel Bengkong Slamet Riyadi Solo

Rel Bengkong Slamet Riyadi Solo

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menghabiskan rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga. Sambil jalan-jalan bawa kamera Casio Exilim Ex-Z75, kupotret beberapa hal yang menarik perhatianku. Salah satunya adalah foto “Rel Bengkong Slamet Riyadi Solo” di samping ini.

Jalur rel kereta api yang melintas di tepi jalan raya utama kota Solo ini memang istimewa. Keistimewaan pertama adalah karena memang konon hanya Solo yang memiliki jalur rel kereta api yang aktif melintas di tengah pusat kota dan terletak di tepi jalan raya utama pula. Dan keistimewaan itu akan dibahas lain waktu saja. Saat ini yang ingin kubahas adalah seputar keistimewaan (atau yang lebih tepatnya mungkin misteri) “rel bengkong Slamet Riyadi” yang sering bikin warga Solo khususnya dan pengguna jalan Slamet Riyadi lebih spesifiknya misuh-misuh karena sering tergelincir di perlintasan “rel bengkong” tanpa pintu ini. 😀

Sudah berapa pengendara motor yang terjatuh di perlintasan rel kereta tanpa pintu yang lebih terkenal disebut oleh masyarakat Solo dengan “rel bengkong Slamet Riyadi” atau “rel bengkong Purwosari” ini. Jika dalam cuaca tidak hujan, “rel bengkong” secara umum tidak bahaya. Namun, jika hujan sudah turun cukup deras maka “rel bengkong” akan mengeluarkan misterinya. Mungkin, setiap kali turun hujan, aku berani memprediksi pasti ada saja pengendara motor meskipun hanya seorang yang bakal jatuh saat melewati “rel bengkong”. Apalagi jika hujan turun cukup deras dengan kondisi jarak pandang yang pendek dan jalan aspal di “rel bengkong” tertutup genangan air, maka pengendara yang jatuh bakal bertambah lagi. Umumnya, mereka yang terjatuh biasanya adalah newbie di kota Solo atau pengendara-pengendara motor yang tidak terbiasa melewati jalan Slamet Riyadi Solo terutama saat hujan turun (apalagi cukup deras), meskipun tidak menutup kemungkinan warga yang biasa lewat namun karena kurang hati-hati.

Alhamdulillah, selama ini aku belum pernah terpelanting jatuh saat melewati “rel bengkong” di kala cuaca cerah maupun saat hujan turun dengan deras. Hanya saja, aku pernah hamper terpelanting meskipun sudah cukup berhati-hati melewatinya. Untungnya ketika itu aku hanya sedikit slip dan berjalan pelan, sehingga sempat menumpukan kakiku di atas jalan sebelum terjatuh. 😀

Pernah aku dan seorang kawanku coba mengamati para pengendara motor yang melintasi “rel bengkong” saat hujan turun sangat deras dimana jarak pandang tidak terlampau jauh. Duduk berdua di seberang sebalah barat posisi rel mengenakan mantel selama kurng lebih 10 menit, dugaan kami tidak terlalu salah. Sebelumnya kami menduga dan memprediksi sedikit bertaruh (tanpa uang) bahwa nantinya selama 10 menit pasti akan ada minimal 1 (satu) orang pengendara yang bakal terjatuh saat melintasi “rel bengkong”. Bukan bermaksud mendoakan keburukan bagi para pengendara yang lewat, ternyata dugaan kami tak salah. Belum semenit berselang, dua pengendara motor terpelanting jatuh. Aku lupa berapa pengendara yang jatuh saat melewati “rel bengkong” ketika itu. Hanya saja, prediksi kami sudah terbukti itu saja sudah cukup. 😀

Mungkin mengingat banyaknya film-film bertema horror ndak jelas dan menjurus ke arah film porno seperti Hantu Jeruk Purut, Hantu Kamar Mandi, Hantu Kamar 13, Hantu Suster Keramas, dll, aku sempat berniat mengusulkan agar dibikin film berjudul “Misteri Rel Bengkong Slamet Riyadi” atau “Misteri Rel Bengkong Purwosari Solo” atau “Hantu Rel Bengkong Slamet Riyadi” atau judul-judul lainnya karena banyaknya kejadian-kejadian “misteri” di perlintasan rel kereta api tersebut :D. Sayangnya tidak ada produser yang membaca postingan ini sih… 🙂 dan aku juga tidak memiliki kenalan seorang produser film. (lebayyy..).

Sebenarnya, banyaknya kejadian para pengendara motor (khususnya) yang sering terpelanting saat melewati “rel bengkong” disebabkan oleh rel yang bengkok (jw: bengkong) itu sendiri. Dan bukan disebabkan oleh alasan-alasan misteri, hantu atau alas an supranatural lainnya. Dikarenakan posisi rel yang melintang di atas jalan terposisikan sedikit miring mencipatakan sudut yang tidak sempurna atas jalan raya (maksudnya tidak tegal lurus; bersudut siku-siku) maka secara otomatis jika rel dan jalan basah oleh hujan, rel menjadi licin. Dengan demikian ketika ada motor dengan kecepatan cukup tinggi melintas di atas rel yang basah tersebut, membuat ban / roda motor tidak mampu mencengkeram rel dengan baik dan kuat. Persinggungan antara roda ban motor dan rel yang licin itulah yang kemudian membuat banyak motor terpelanting jika tidak hati-hati saat melewati “rel bengkong”.

Oleh karena itu, sekelompok warga mencoba membuat rambu peringatan kepada para pengendara motor agar lebih hati-hati saat melewati “rel bengkong”. “Waspada, Rel Licin..!!” demikian sebuah papan cukup besar yang terpampang di sudut perlintasan rel (bisa dilihat di foto atas) lengkap dengan petunjuk cara melintasi “rel bengkong” agar tidak mudah terpelanting atau terpeleset.

Demikianlah sekilas kisah tentang “Rel Bengkong Purwosari” yang cukup terkenal bagi pengendara motor Jalan Slamet Riyadi Solo dan warga Solo umumnya. Btw or ngomong-ngomong, sudahkan anda terpelanting di “rel bengkong”? Jika belum pernah, silakan anda mencoba dan merasakan sensasinya..! hahahaha 😀

(ahmed fikreatif)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

14 Tanggapan

  1. Alhamdulillah… belum pernah terpeleset di rel tersebut, krn emang jarang lewat rel tersebut. hehe.. 😀
    pengen juga sekali2 pas hujan, duduk di deket rel tersebut dan membuktikan “misteri”nya. 😀

    • hahahaha
      coba aja deh ….
      pasti asyik ngeliat org jatuh.. 😀

  2. haha,,,,,,allhamdulillah saya dereng nate kepleset :p ting mriku,,,,,mugi” para pengendara motr jdi lebih hati” setelah membaca tulisan diatas,,,,matursuwun

    • @Ilham: wah alhamdulillah… 🙂
      sami2

  3. Alhamduilillah aku blom pernah naek sepeda ke sana hehehe… kayak-e rel itu untuk kereta jurusan k wonogiri yaaa…

    • @Yuni: Yup ke wonogiri. belum pernah ke sana kemana?
      lho kok tahu klo mau ke Wonogiri? :-s

  4. alhamdulillah, belum pernah dan tidak akan pernah 🙂 . emang banyak banget yang jatoh disitu. selama aku makan jagung bakar disamping rel aja udah 3 orang yang jatoh pas hujan. hummmm. resiko bgt.

    • @Diany: hehehehe
      baguslah… klo belu pernah

  5. msok tho yoooo……..misteri…….

  6. kok aq blm prnah tau tntng itu ya.emg ad ap sich.kok misteri……

  7. .Kapan ya rel bengkong itu di bwt.?
    .panjang rel tsb dr mana dan berakhir di mana ya.?

  8. mksud’a rell bengkong apa chh??

  9. ternyata banyak korbannya ya. baru tahu saya. saya kalo lewat situ juga ngeri… merinding banget deh. takut kalo kepleset. saya pernah cuma kepleset sedikit

  10. Udh pernah kehilangan keseimbangan krn terpeleset di rel itu,tp alhamdulilah tdk sampai jatuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: