City Walk Solo, The Truly Pedestrian Precinct


City Walk Solo

City Walk Solo

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menghabiskan rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga.

Setelah kemaren bertutur tentang Hot Spot-an sambil nglesot di taman sepanjang city walk Solo, kali ini aku ingin bertutur tentang City Walk di Solo yang miturut greneng-grenengnya merupakan satu-satunya kota di Jawa Tengah yang punya city walk. City Walk merupakan salah satu bentuk ruang publik bebas. Di kota Solo, City Walk ditempatkan di hampir sepanjang sisi selatan jalan utama kota Solo, Jl. Slamet Riyadi -jalan raya paling lurus dan simetris terpanjang di Indonesia (barangkali). Konsep city walk Solo memanjang sejauh kisaran 6-7 KM dengan lebar trek lebih dari 3 meter. City Walk Solo dibangun menggantikan / mengambil alih trek jalur lambat khusus sepeda. Dengan adanya sebuah pedestrian yang lebih populer disebut dengan City Walk ini jalur lambat khusus sepeda dan becak hanya menyisakan satu sisi saja (dari sebelumnya yang ada dua sisi jalur lambat).

Konon, sejarah pembangunan city walk di Solo ini dilangsungkan sekaligus dalam rangka menunjukkan kepedulian pemkot Solo terhadap isu global warming. Oleh karenanya, pemkot Surakarta membuat sebuah area pedestrian dan jalur hijau yang populer dengan nama City Walk. Sejak tanggal 8 maret 2008 yang merupakan soft launching atau soft opening city walk, hingga sekarang yang berarti telah 2 tahun eksis, fungsi city walk masih terbilang sesuai dengan peruntukan semula meskipun kejahilan oknum-oknum warga Solo meninggalkan jejak seperti vandalisme, kerusakan tempat duduk, atau tempat sampah yang hilang, dll.

Sebagai area pedestrian dan dibebaskan dari lalu lintas kendaraan baik yang bermesin maupun yang tidak bermesin, city walk memang dimaksudkan untuk menjadi tempat rekreasi murah warga Solo khususnya dan tentunya tempat bersantai. Aku pernah membaca blue print penataan city walk Solo, jalur trek city walk (kalau tidak salah ingat) sebetulnya dibagi menjadi beberapa jalur / jenis trek dengan filosofis tertetu. Sayangnya, aku lupa detail falsafah-falsafah yang nilai-nilainya disimbolkan dengan perbedaan corak model ubin yang digunakan pada setiap trek nya. File-file blue print-nya sempat kucari-cari di folder-folder laptopku tidak (belum) ketemu.

Efek dan pengaruh dari pembedaan falsafah setiap trek jalur city walk, maka suasana yang ditampilkan di setiap treknya pun berbeda-beda. Ada kalanya di trek tertentu memang sengaja diisi oleh para pedagang kaki lima yang menjual aneka macam makanan. Sementara di trek lainnya, para pedagang dibatasi untuk berjualan karena mungkin lebih ditujukan untuk kegiatan-kegiatan pameran-pameran budaya dan bisnis. Seingatku, saat aku masih tinggal di Solo, beberapa pameran toko batik dan budaya Solo sering digelar di sepanjang trek jalur city walk.

Jika anda mengunjungi Solo, jangan lewatkan untuk berjalan-jalan di sepanjang City Walk saat pagi atau sore hari. Jangan takut akan panasnya terik matahari karena di sisi city walk telah dipayungi pepohonan yang cukup rindang. Jika anda merasa capek atau haus, maka anda bisa membeli aneka minuman yang dijual di sepanjang city walk sambil duduk di taman sisi jalur city walk. Jika anda berjalan dari arah Timur menuju ke Barat di sepanjang city wal, maka anda akan menyaksikan beberapa bangunan yang cukup bernilai sejarah di Solo. Pertama, start dari kawasan gapura Gladag, maka anda akan melewati Kampung batik Kauman, Kawasan Ngarsopuran Mangkunegaran, Museum Batik Kuno Nasional Danarhadi, Museum Radya Pustaka, Taman Sriwedari (yang didalamnya ada Gedung Pentas Wayang Orang), Stadion R. Maladi (tempat penyelenggaran PON I di Indonesia), Rumah Dinas Walikota Loji Gandrung, dan di ujung barat berakhir di Rumah Lowo (Kelelawar). Aku sarankan jika jalan-jalan di City Walk lebih enak dari timur ke barat. Karena dengan demikian, jika kita sudah selesai atau merasa capek dan ingin kembali ke tempat start, maka kita tinggal naik bus kota yang melewati Gladag.

Demikian ceritaku tentang salah satu sudut area di Kota Solo yang layak anda kunjungi. Berikutnya, akan kuulas hal-hal lainnya seputar Solo di kesempatan lain (insya Allah).

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan

Iklan

4 Tanggapan

  1. wah,, akhirnya maen ke City walk juga kang..

    • luih tepate nulis tentang citywalk ..
      yen dolan nang citywalknya sdh sejak dr dulu je..

  2. wuih asyik y ada city walkx , bs jd contoh ni bwt yg lainnya

  3. nahh ini info yang aku cari cari, tingkatkan broo 😀
    mampir balik yahh 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: