BAD DAY IN SATURDAY


Hari Sabtu kemaren (25 Oktober 2008), aku berencana ke luar kota untuk refreshing dan melihat cakrawala-cakrawala yang berkembang di luar kota Solo yang selama ini telah mengisi sisi ruang di hati dan menorehkan suka, luka, dan duka. Rencana pergi ke luar kota memang sudah sejak lama kurencanakan sengaja setelah aku menempuh ujian pendadaran skripsi. Hal itu kumaksudkan untuk membuka cakrawala berpikir dan pengetahuan serta apapun yang kulihat nantinya di perjalanan sebelum aku memutuskan untuk ke arah mana aku harus melangkah setelah wisuda yang insya Allah akan dilaksanakan pada bulan Desember 2008.

Kota tujuan kali ini adalah Temanggung, sebuah kota yang sebelumnya tidak terlalu akrab di telingaku. Kenapa aku ingin ke sana? Ceritanya, hal itu berawal dari kawan lama ku yang dalam pembicaraan via sms mempersilakan aku untuk datang ke Temanggung kalau memang aku ingin ke sana. Kebetulan dia tinggal di kota yang saat kulihat di peta ternyata diapit oleh beberapa gunung. Lalu aku tanyakan ke kawan lamaku tersebut ada apakah di negeri Temanggung tempat-tempat atau objek-objek yang menarik untuk dinikmati sebagai refreshing terutama yang objek alam. Lalu dia jawab ada objek Dieng yang cukup terkenal, meskipun letaknya agak jauh dari Temanggung. Konon oleh kawanku itu, lamanya waktu perjalanan ditaksir sekitar 2 jam dari Temanggung. Rasa kangenku akan pegunungan dan bau basah tanah yang hampir setiap hari tersirami air hujan serta bayangan sejuknya udara pagi, membawaku untuk segera terbawa diantara kenikmatan alam tersebut. Singkat cerita, aku pun akhirnya mengirim sms ke kawanku itu kalau aku (insya Allah) akan ke Temanggung hari Sabtu-Ahad (rencananya dua hari).

Waktu berjalan, hari Sabtu tanggal 18 Oktober 2008 yang seharusnya menjadi plan ku ke Temanggung ternyata menghambat kekangenanku akan suasana gunungiah. Saat itu, kawanku yang sedianya menyambut kedatanganku di Temanggung justru akan ke Solo untuk sebuah keperluan. Akhirnya kutundalah niat ku tersebut. Kemudian aku kirim sms ke dia kalau begitu aku akan ke Temanggung hari Sabtu pekan depannya tepatnya pada tanggal 25 Oktober 2008.

Selanjutnya pada tanggal 14 Oktober 2008 (kalau tidak salah) aku nanya kepada kawanku itu tentang rute menuju ke Temanggung yang paling deket dan cepat. Setelah aku dapatkan rute nya aku tuliskan di secarik kertas.

Singkatnya hari itu tiba. Hari dimana aku akan menuju Temanggung untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku di dunia fana. Hari dimana aku akan menlepaskan kerinduanku dengan dinginnya air pegunungan, sejuknya udara pegunungan, hiijaunya tanaman teh, wortel, dan aneka pohon cemara, serta dekapan udara yang senantiasa memelukku dan terkadang mengelus pelan wajahku. Hari dimana aku ingin mendapatkan pengalaman baru dan pelajaran baru dari perjalanan yang nantinya akan kupertimbangkan sebagai sebuah keeputusan setelah wisuda. Hari dimana aku (mungkin) akan bertemu dengan kawan lama yang sudah terpisah waktu selama 4 tahun. Hari dimana aku ingin melihat seperti apakah Dieng yang selama ini kukenal dalam buku dan acara televisi.

Disamping harapan dan alasan-alasan di atas, ada beberapa alasan lainnya kenapa aku memutuskan untuk mengunjungi kawanku di Temanggung. Sebelumnya, aku diceritakan oleh ibunya bahwa kakak kawanku itu punya usaha peternakan sapi dengan program penggemukan (Penggemukan Sapi). Sebelumnya, dia (kakaknya kawanku) itu juga pernah menggeluti usaha kerajinan tangan dari bathok (Kulit Dalam Kelapa) untuk diekspor. Usahanya itu terpaksa tutup karena ada sedikit salah manajemen. Demikian dikatakan oleh ayahnya. Nah, pengalamannya di bidang wiraswasta yang cukup tersebut itulah yang membuatku ingin juga belajar dan ngangsu kawruh (menimba ilmu_pen).

Tak hanya itu, adiknya (maksudnya, kawanku itu sendiri) juga memiliki rintisan usaha sendiri di Temanggung dengan membuka usaha toko pakaian atau butik kecil-kecilan yang menjual aneka baju batik khas Solo, serta pernak-pernik lainnya. Jiwa-jiwa entrepreneurship seperti inilah yang selalu memacu adrenalinku untuk senantiasa belajar dan berbagi pengalaman dalam rangka menigkatkan cakrawala pengalaman kehidupan yang (pasti) tidak kita peroleh dari bangku-bangku kuliah.

Singkatnya, 3 jam perjalanan dari Solo melalui pemandangan-pemandangan perbukitan di lereng Merbabu serta alam wilayah Kopeng memanjakan mataku untuk tidak terpejam dan menggerakkan lisanku untuk tidak bisa menolak mengucap ”Subhanallah. Masya Allah. Allahu Akbar.”

Namun, antusiasme ku menyambut gembira semua harapan yang kutulis di atas mulai sirna ketika aku mendapati sms dari kawanku di ujung seberang.

”Hah, koq yo g blg to fik, jd ksna, I mlh d solo..duh py ix?”

Kurang lebih kuterjememahkan dalam bhs Indoesia dengan, ”Hah, kok kamu tidak bilang dulu sih Fik kalau kamu jadi Ke Temanggung, Soalnya aku sekarang justru berada di Solo. Lha terus gimana nih..?”

Dari sini, harapanku bertemu dengan kawan lama yang terpisah waktu 4 tahun tertunda (kalau tidak ingin kukatakan musnah). Habis itu, di rumahnya juga tidak ada keluarganya yang setidaknya aku kenal. Sehingga percuma aku ngobrol dengan mereka. Akhirnya kuputuskan untuk tetap melanjutkan misi menuju Dieng. Dengan motor Belalang Tempur Hitamku, aku segera terbang menuju ke Dieng yang kata kawanku akan ditempuh selama 2 jam perjalanan dari Temanggung. Di dekat perbatasan Kab. Temanggung, aku mengisi bensin sebagai persiapan untuk menuju Dieng. Sebelumnya aku nanya kepada petugas di pom bensin berapa lama perjalanan menuju Dieng dari situ. Dia menjawab 2 jam. Saat itu, waktu telah menunjukkan waktu pukul 15.00. Segera saja aku minta Adien (kawan yang menemani perjalanan ku kali ini) untuk memacu Motorku. Memasuki wilayah Wonosobo, aku dan kawanku dibuat bengong dengan pemandangan yang kami lihat jauh di depan kami, sehingga kami pun terpaksa menghentikan laju motor untuk bermusyawarah. Saat itu kami saksikan langit di depan kami sudah berwarna gelap dan benar-benar gelap. Padahal saat itu waktu baru menunjukkan pukul 15.00, namun langit di depan kami seperti telah menyambut datangnya malam. Rintik hujan sudah mulai aku rasakan jatuh di pipi kami. Setelah musyawarah, kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Alasannya, motor yang kami tumpangi aku rasa kurang siap pada saat itu menghadapi perubahan cuaca ekstrim di depan kami. Kampas Rem motorku sempat terbakar dalam perjalanan. Belum lagi kondisi jalan menuju Dieng yang dari informasi kawanku yang pernah ke sana mencapai derajat kemiringan yang cukup tinggi. Sementara kalau kami meneruskan perjalanan, kami meyakini bahwa cuaca di sana pasti sudah hujan deras disertai dengan kabut yang sudah pasti mengganggu pandangan mata. Kondisi jalan yang tidak beraspal baik juga ikut menjadi pertimbangan kami. Selain itu, kalau kami melanjutkan perjalanan, lantas pada jam berapa kami akan nyampai di sana dan jam berapa pula kami harus pulang hingga sampai ke Solo. Kalaupun, harus menginap, menginap dimanakah kami seharusnya. Sedangkan aku dan kawanku hanya membawa pakaian seadanya dan aku melupakan sleeping back yang sedianya sudah aku siapkan untuk persiapan nantinya.

Akhirnya, pupus lagi harapanku ke Dieng. Keinginanku menimba ilmu dari kakak kawanku tentang semangat berwirausaha juga kandas karena kawanku bilang bahwa kakaknya tinggal di desa agak jauh di atas lereng gunung. Sebagai peredam rasa kesalku aku akhirnya mengambil beberapa foto pemandangan-pemandangan yang kurasa bagus untuk kuambil dalam perjalanan pulang menuju Solo.

Ternyata, bad day-ku belum sepenuhnya hilang karena aku harus menghadai hujan deras di Magelang. Untungnya, hujannya hanya berlangsung sesaat sekitar ½ jam saja. Akhirnya aku sampai di Solo sekitar pukul 18.30 WIB mendekati waktu Isya’. Sholat maghrib, aku jama’ ta’khir dengan Isya’.

Sabtu malamnya (malem mingguan), aku sedianya ingin sedikit rehat dengan makan dan minum kopi di angkringan di dekat Balaikota Solo, sekalian ingin ngobrol dengan calon marketingku. Aku tunggu sampai pukul 22.00 WIB, dia tidak datang-datang. Saatnya datang, waktu telah menunjuk pukul 23.00 WIB. Bersamanya, dia bawa pacarnya.
”Ampun Ya Allah. Gimana mau fokus ngobrol kalau di sisinya ada pacarnya.”
”Ah, aku pulang aja lah. Paling-paling kalau ntar ku ajak ngomong juga nggak bakalan bisa fokus. Belum juga nantinya dia faham apa yang kubicarakan.” begitu kataku dalam hati.

Lebih-lebih kondisiku saat itu sudah benar-benar ngantuk. Aku pun bersitegang dengan dua orang yang juga ikut nongkrong di situ. Waktu dia melototin aku, aku arahkan mataku ke arah matanya. Ingin rasanya ku pukul kepalanya yang besar. Dasar ga bertanggung jawab. Gelas pecah akibat ulahnya, malah marah-marah.

Rasa penat dan bete yang kurasakan sudah tak tertahankan. Aku pun pamit pulang. Sampai rumah, aku mandi, wudhu, dan menutupkan selimut menutup ke sekujur tubuhku. Aku tidur.

Akhirnya aku bisa tidur juga setelah semalamnya, aku diajakin kawanku (blognya di sini) untuk menemani dia sampai pukul 00.00 di Asrama Mahasiswa UMS. Sementara sebelumnya aku belajar bahasa Arab di Ponpes Assalam. Siang harinya, aku tidak sempat memejamkan sejenak mataku. Energikupun habis membujuk Adien (lihat Profilnya di sini) agar mau menemaniku ke Temanggung. Mulutnya yang bicara seenaknya seperti tidak pernah disekolahkan memerahkan kuping dan memecahkan hati ku yang sudah kutahan agar bisa tetap bersabar menghadapinya. Inilah my trully Bad Day in Saturday.

”Kawan, doakan ku agar bisa memiliki sifat sabar dan lemah lembut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: