Bemo Sayang, Bemo yang Malang


Bemo (si Kecil yang Tersisa)

Aku yakin anda sudah tahu foto apa yang nampak di samping. Sebuah mode transportasi yang dikenal dengan sebutan Bemo (Becak Motor). Aku mengambil foto itu saat tengah berjalan kaki menuju Mall Mangga Dua pada sebuah kesempatan.

Menarik bagiku untuk mengambil gambar Bemo yang masih tersisa di Jakarta karena setahuku mode transportasi umum ini sudah dilarang beroperasi di Jakarta oleh pemerintah Jakarta sejak diterbitkannya Instruksi Gubernur Nomor 33 tahun 1996 tentang Peningkatan Pelayanan dari Kendaraan Bemo menjadi Bus Kecil. Tapi nyatanya kendaraan tua ini masih menunjukkan “pemberontakannya” melawan kebijakan pemerintah yang tidak mendukung keberadaannya. Hingga kini berarti perlawanan mereka masih belum terpatahkan pemerintah. Mereka masih eksis berseliweran di ruas-ruas jalanan tertentu di Jakarta meskipun tidak memiliki surat-surat karena memang STNK sudah tidak diterbitkan lagi untuk Bemo. (*geleng-geleng. ) Konon, pelarangan Bemo ini disebabkan karena mencemari lingkungan dari asap yang dikeluarkannya.

Namun, bagimanakah perjuangan mereka ke depan? Menurut berita, Pemerintah DKI Jakarta akan membersihkan Jakarta dari keberadaan Bemo sebelum tahun 2011. Usaha pemerintah ini pun mendapat dukungan para anggota Dewan yang konon mewakili RAKYAT. Bahkan, dewan siap memberikan alokasi anggaran penertiban melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Perubahan sebanyak yang dibutuhkan untuk penghapusan Bemo. Lebih beratnya lagi, para pemilik-pemilik Bemo ini harus berjuang berhadapan dengan “musuh-musuh” yang bersekutu untuk “menghabisi” Bemo di Jakarta. Bersekutunya Dishub, Dewan, Satpol PP, Kepolisian, dan TNI siap “menghapuskan” keberadaan Bemo sebelum tahun 2011. Agaknya, melihat kekuatan yang sedahsyat itu, di atas kertas Bemo sudah sulit untuk melanjutkan “perjuangannya” di Jakarta.

Sedikit mundur ke belakang, berdasarkan penelusuranku ternyata diketahui bahwa Bemo pernah menjadi sarana transportasi yang populer dan favorit pada tahun-tahun 1970-1980an. Saking terkenalnya, Dono Warkop pun sering dipanggil Bemo karena kemiripan wajahnya yang dianggap mirip Bemo.

Menggantikan peran Becak yang dihapuskan oleh pemerintah Jakarta ketika itu, Bemo menjadi andalan transportasi anak-anak yang hendak pergi ke sekolah, ibu-ibu yang pergi ke pasar, pegawai-pegawai yang hendak ke kantor, dan lain-lainnya. Singkatnya, kebutuhan masyarakat terhadap bemo pada saat itu cukup besar karena ruang gerak bemo ada di banyak permukiman penduduk dengan jarak tempuh relatif pendek.

Keunggulan dan nilai positif lain dari Bemo adalah kemampuannya yang tidak bisa berjalan kencang. Hal ini justru dianggap menguntungkan karena secara otomatis ia relatif tidak bisa digunakan untuk acara ugal-ugalan di jalan dibanding dengan Kopaja atau Metromini (sekarang).

Titik balik kemunduran Bemo terjadi ketika Daihatsu selaku pabrikan produsen Bemo dan suku cadangnya menghentikan produksi suku cadang. Akibatnya, suku cadang Bemo akhirnya diambil dari hasil modifikasi kreatif para pemilik-pemilik Bemo itu. Lama kelamaan dan semakin tua, Bemo dianggap mulai sudah tidak ramah lingkungan. Selanjutnya bisa ditebak, pelarangan pun muncul untuk menghapuskan Bemo dari jalanan ibukota (dan kota-kota lain tentunya).

Sejarah Bemo di Indonesia

Bemo sebenarnya adalah salah satu produk dari pabrikan otomotif terkenal Jepang, Daihatsu. Dalam sebuah kesempatan, Daihatsu berinovasi mengembangkan kendaraan beroda tiga di Jepang. Hasilnya keluarlah mobil Daihatsu Midget yang mulai dipasarkan tahun 1957. Karena ukurannya yang kecil, maka ia diberi nama “midget” (kerdil). Sukses di dalam negeri, Daihatsu Midget pun diekspor ke beberapa negara Asia termasuk Indonesia. Meluncurlah kendaraan Daihatsu pertama di Indonesia: Daihatsu Midget yang kemudian lebih populer disebut dengan Bemo pada awal tahun 1962 di Jakarta untuk menyemarakkan even olahraga Ganefo. Setelah laku keras di Jakarta, bemo mulai merambah ke daerah-daerah lain di Indonesia seperti Bogor, Bandung, Surabaya, Malang, Padang, Denpasar, Solo, dll karena kendaraan ini sangat praktis dan mampu menjangkau jalan-jalan yang sempit, dan dapat melaju jauh lebih cepat daripada becak.

Evolusi Prototip Bemo (sumber: klik di sini)

Model DK mulai dijual 1 Agustus 1957. Kemudi berbentuk stang seperti sepeda motor. Ruang pengemudi dan ruang muatan memiliki atap dari kanvas. Ruang pengemudi tidak berpintu. Panjang keseluruhan: 2.540 mm, lebar keseluruhan: 1.200 mm, tinggi keseluruhan: 1.500 mm. Penumpang maksimum 1 orang. Mesin tipe ZA, dua langkah, berpendingin sistem kipas, kapasitas silinder 250 cc, bahan bakar bensin. Kekuatan maksimum 10 tenaga kuda. Kecepatan maksimum 65 km/jam (spesifikasi dari katalog). Maksimum muatan 300 kg, berat kosong 350 kg. Variasi model berdasarkan model DK: DKA (model awal), DKII, DSV (bagian belakang dibuat kotak), DSAP (kapasitas 2 tempat duduk).

Model MP mulai dijual bulan Oktober 1959. Bagian hidung sebelah dalam menjadi bagian dari ruang pengemudi, dan bentuknya lebih manis dan halus dibandingkan model DK. Model MP mulai menggunakan stir bundar sehingga lebih mudah dikendarai. Ukuran lebih besar dibandingkan model sebelumnya, panjang keseluruhan: 2.970 mm, lebar keseluruhan: 1.295 mm, dan tinggi keseluruhan: 1.455 mm. Kapasitas tempat duduk: 2 orang. Mesin yang digunakan adalah tipe ZA, dan tipe ZD untuk Midget tipe III (kapasitas silinder: 305 cc, kekuatan maksimum 12 tenaga kuda). Model yang diproduksi: Tipe II (mesin tipe ZA), Tipe III (mesin tipe ZD).

  • 1960 – Daihatsu memperkenalkan tipe MP4 dengan panjang keseluruhan ditambah 20 cm agar bisa mengangkut muatan lebih banyak.
  • 1961 – Midget mulai diproduksi di Pakistan dengan sistem produksi bongkar pasang.
  • 1963 – Daihatsu memperkenalkan tipe MP5 dengan ruang muatan yang diperpanjang 10 cm, dan maksimum muatan 350 kg. Tipe ini tidak lagi menggunakan bensin campur, melainkan bensin dan oli yang dipisah.
  • 1972 – Produksi Midget dihentikan dengan total kumulatif produksi 336.534 unit, dan separuh dari jumlah tersebut terjual di Asia Tenggara (termasuk Indonesia).
  • 1996–2001 – Daihatsu memproduksi mobil kompak beroda empat yang disebut Daihatsu Midget II

Bonus Informasi

Namun perlu juga ditambahkan, di negara asalnya, Jepang, konon bemo tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai angkutan manusia, melainkan sebagai angkutan barang. Akibatnya, ketika dipasangkan tempat duduk, ruangan yang tersedia pun sebetulnya sangat sempit. Biasanya bemo digunakan untuk mengangkut 8 penumpang, enam di bagian belakang, dua di depan, termasuk sang pengemudi. Karena itu penumpang di bagian belakang seringkali harus beradu dengkul (lutut), duduk berdesak-desakan. Akibatnya, denger-denger banyak yang bertemu jodohnya di bemo. Nah lho..?!?!?!

Info Source: berbagai sumber (main: Wiki dan AsUs)

(ahmed fikreatif)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: