Zahra, The Little Cute Child Girl


Waktu ke Bandung hari Sabtu-Ahad, 30-31 Januari 2010, beberapa hari lalu, ada beberapa hal yang menarik untuk kujepret via kamera Casio Exilim EX-Z75 ku. Meskipun kamera murah, tapi cukuplah kalau sekedar untuk jepret objek-objek menarik hati yang selanjutnya untuk di-share-kan melalui blog.

Zahra binti Isa, The Little Cute Child Girl

Foto di samping ini adalah foto puteri dari pasangan dokter yang menjamuku saat maen ke Bandung sekaligus menyediakan tempat untuk menginap selama satu malam. Dari pancaran wajah dan senyum serta celotehnya benar-benar mewarisi sifat kedua orang tuanya yang juga berwibawa, aktif, serta cerdas.

Saat berkenalan denganku yang dia panggil om, ia menyebut nama Zahra. Sebuah nama yang pantas dan tepat yang disematkan oleh orangtuanya. Zahra berati bunga. Mungkin orang tuanya berharap agar kelak Zahra kecil ini akan menjadi bunga yang mengharumkan dunia dengan akhlak-akhlaknya atau kebaikan-kebaikannya. Jika bukan karena itu, mungkin orangtuanya berharap ia bisa menjadi penerus Fatimah az Zahra, putri Rasulullah SAW.

Pribadi gadis kecil kelas satu bangku sekolah dasar ini terlihat cukup aktif. Dalam beberapa kesempatan, ia bercerita di depanku tentang berbagai macam mulai dari cita-citanya, permainannya, teman-temannya, saudara-saudaranya, dan pelajarannya serta banyak hal lainnya. Ia tidak terlihat canggung apalagi merasa takut atau malu berhadapan dengan orang asing, seperti aku. Bahkan, ia terlebih dahulu menanyakan namaku. “Om ini namanya sapa?” ujarnya dengan nada yang lurus mantap tanpa terbata-bata.

Dalam sebuah dialog percakapan diantara kami, ia bercerita tentang keinginannya untuk menjadi seorang Guru TK (Taman Kanak-Kanak). “Om, tahu ga.. aku tuh pengin jadi guru TK. Tahu ga kenapa? Karena aku suka dengan anak-anak. Om seneng ga dengan anak-anak?…” begitulah ia bercerita di depanku dengan lancar dan tanpa canggung. Ketika kutanya kenapa tidak memilih menjadi dokter seperti ayah atau ibu, ia hanya menjawab “males ajah, nggak mau”. Ia tetap keukeuh ingin menjadi guru TK dan deket dengan anak-anak.

Aku sebenarnya tersenyum mendengar celoteh segar dari Zahra. Ia yang masih juga anak-anak tetapi mengatakan menyukai anak-anak. Namanya juga anak-anak, demikian ucapku dalam batin. Imaginasi anak-anak memang menembus batas. Kebanyakan anak-anak termotivasi untuk melakukan sesuatu yang diimajinasikannya jika orangtuanya tidak membatasi atau melarangnya (baik dalam makna positif maupun negatif).

Saat aku SD, aku masih ingat imajinasi-imajinasi baik yang logis maupun yang sekedar fantasi semata yang menghinggapi otakku. Saat menonton acara Ksatria Baja Hitam, maka aku ingin menjadi Super Hero serupa dan menjadi penolong orang-orang yang butuh pertolongan (demikian pula saat membaca Komik Hatori, P-man, Spiderman, dan Superman). Sementara jika aku menonton film-film si Pitung, Perjuangan Kemerdekaan, dan bertema perang-perang lainnya (aku lupa judul film perang yang ditayangkan TVRI berlatar perang Sekutu vs Jerman) maka aku ingin berada di medan pertempuran memanggul senjata dan memuntahkan peluru melawan penjajah. Selain itu, yang bikin agak sedikit “rebel” adalah saat nontn film Street Hawk di TVRI, aku ingin menjadi pembasmi kejahatan di tengah kebobrokan sistem hukum.

Namun yang paling ekstrem adalah saat aku membaca (karena hobiku membaca) buku-buku sejarah perjuangan dari berbagai macam judul (namun yang sering kuulang-ulang adalah buku 30 tahun Indonesia Merdeka), aku ingin menjadi pemberontak DI / TII ketika membaca bagian-bagian yang membahas DI / TII. Padahal di dalam buku-buku itu DI / TII digambarkan sebagai sebuah gerombolan pengacau keamanan. Anehnya, aku justru bersimpati kepada mereka dari membaca buku itu. Dan itu terjadi saat aku masih duduk di bangku kelas 4 SD. Tak hanya itu, kawanku yang kini menjadi seorang marinir pun kuajak untuk membacanya. Responnya sama denganku. Ia pun juga bersimpati dengan SM. Kartoesoewirjo dan bendera Bulan Bintang. Puncaknya, kami pun sering membuat gambar-gambar dan simbol-simbol bulan bintang di berbagai media tulis. Kami juga sempet membuat sebuah bendera kecil yang kami gambar bulan bintang dan kami tulis Darul Islam, atau bendera kalimat Tauhid yang selanjutnya kami kibarkan keliling kampung naik sepeda bersama dengan kawan-kawan yang lain.

Dalam sebuah kesempatan, pernah gara-gara ulah kami itu, ada seorang kawan yang sampai dilabrak seorang warga aktivis Golkar (kala itu) yang sudah bapak-bapak (barangkali ketika itu usianya 40an tahun. Ia marah karena kami mengibarkan bendera-bendera “aneh” keliling kampung. Urusan itu pun sampai mempertemukan orang tua kawanku itu dengan bapak-bapak aktivis Golkar yang marah itu. Untungnya, semuanya berujung perdamaian.

Itulah imajinasi dan fantasi anak-anak. Entah salah atau tidak jika kita membiarkannya. Atau barangkali kontrol imajinasi sejak dini itu juga perlu?

Terakhir, aku hanya ikut berdoa agar gadis kecil di dalam foto bernama Zahra itu benar-benar bisa “bersinar” dan “mewangi” sesuai namanya. Dalam sebuah pendapat diungkapkan bahwa Zahra artinya ialah “yang bersinar” atau “yang memancarkan cahaya”. Imam Hasan bin Ali al-Askari meriwayatkan : “Salah satu sebab Sayidah Fathimah dinamai az-Zahra karena tiga kali pada setiap hari beliau akan memancarkan cahaya bagi Imam Ali AS.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 11). Memancarkan cahaya bagaikan matahari pada waktu pagi, siang dan terbenam matahari.

Beberapa hal lainnya yang menarik hasratku untuk kupotret dan berhasil kubidik antara lain:

  1. Bapak Penjahit di Tepi Jalan Perempatan Tugu Sepatu;
  2. Tugu Sepatu Menuju Cibaduyut;
  3. Persib Harus Nomor Satu;
  4. Stasiun Bandung;
  5. Kantor Gubernur-an;
  6. Pemilihan Ketua RW di Perumahan Sukamenak;
  7. Air Bersih Masih Dibutuhkan Meskipun di Perumahan;
  8. Jembatan Pasopati;
  9. Nasi Oseng Depan Stasiun Bandung;
  10. Siswi SMA Nyeberang Jalan;
  11. Sepasang Sejoli Naik Motor Erat-Erat;
  12. Anjing Dilarang Bermain Di Taman;
  13. Musisi Jalanan Bandung;
  14. Pasar (kaget) Buah-Buahan Sepanjang Jl. Otista;
  15. Tukang Mie Rebus Keliling;
  16. Zahra, The Little Cute Girl;

(ahmed fikreatif)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

2 Tanggapan

  1. emang anak kecil tu lucu,kadang apa yg mrk ucapkan sesuatu yg g kita sangka terlontar dr bibir mungil mrk….
    btw,ku n zahra sama tu…pengen jadi guru (tos ma zahra)

  2. Subhanallah, cakep banget. Cita”nya jg mulia di dasari kesukaan yang mulia. Semoga kelak benar” menjadi bunga. Dunia akhirat 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: