Kisah Lucu Pengamen Kereta


Kisah Lucu Pengamen Kereta

Musisi Jalan Bandung (ilustrasi)

Ada kisah lucu sekaligus membuat iba tentang seorang pengamen di atas gerbong kereta. Awalnya, ia mengamen dari gerbong pertama, kedua, dan seterusnya sambil menyanyikan lagu dan mengedarkan kotak kosong dengan lancar.

Tiba di gerbong kesekian, ada beberapa “rombongan” yang naik kereta melihat si pengamen ini. Si Pengamen ini kemudian dipanggil oleh koordinator “rombongan”. Si pengamen kemudian ditanya oleh koordinator “rombongan” berapa tarif satu lagunya. Si pengamen menjawab Rp. 500,-. Satu lagu disepakati dinyanyikan selama kurang lebih 5 menit.

Selanjutnya, koordinator “rombongan” ini kemudian mengerjai si pengamen dengan mengajak anggota rombongannya urunan Rp. 1.000,- masing-masingnya. Padahal jumlah seluruh rombongan ini mencapai 20 orang. Kalau dijumlah secara total, maka nilainya sebesar Rp. 20.000,-. Konsekuensinya, si pengamen harus menyanyikan lagu sebanyak 40 judul lagu karena perjanjian awalnya 1 lagu = Rp. 500,-. Dan jika dihitung-hitung, ia pun harus nggenjreng (memetik gitar) selama lebih dari 40 x 5 menit = 200 menit (lebih dari 3 jam non-stop).

Awalnya si pengamen itu ga nyadar kalau dirinya sebenarnya sedang dikerjai. Ia pun menyanggupi karena barangkali duitnya lumayan juga. Satu jam kemudian barulah si pengamen ini merasa letih dan capek. Sedangkan ia masih harus menyanyi dan memetik gitarnya lagi selama 2 jam. Dengan sedikit wajah memelasnya, ia pun memohon kepada koordinator “rombongan” itu agar diizinkan berhenti di 1 jam saja. Ia pun bersedia mengembalikan sejumlah uang yang telah diterimanya itu kepada si pengamen. Si rombongan tidak mau. Ia meminta si pengamen harus menyelesaikan kontraknya itu.

Singkat cerita, akhirnya si pengamen itu mau nggak mau menyanggupinya. Kurang lebih 3 jam ia nggenjreng, ia segera pamitan menuju gerbong berikutnya sambil berjalan sedikit sempoyongan. Maklum, 3 jam memetik gitar ya wajar kalau jarinya “kriting”. :D. Setelah itu, seisi penumpang gerbong itu pun ketawa terpingkal-pingkal. Mereka terhibur dengan lagu si pengamen dan juga oleh hasil “ngerjainnya” si koordinator “rombongan”. Anda tertarik, silakan mencoba. Barangkali dengan seperti ini, mereka akan kapok mengamen di lain hari. Hahahahahaha.

Beberapa hal lainnya yang menarik hasratku untuk kupotret dan berhasil kubidik antara lain:

  1. Bapak Penjahit di Tepi Jalan Perempatan Tugu Sepatu;
  2. Tugu Sepatu Menuju Cibaduyut;
  3. Persib Harus Nomor Satu;
  4. Stasiun Bandung;
  5. Kantor Gubernur-an;
  6. Pemilihan Ketua RW di Perumahan Sukamenak;
  7. Air Bersih Masih Dibutuhkan Meskipun di Perumahan;
  8. Jembatan Pasopati;
  9. Nasi Oseng Depan Stasiun Bandung;
  10. Siswi SMA Nyeberang Jalan;
  11. Sepasang Sejoli Naik Motor Erat-Erat;
  12. Anjing Dilarang Bermain Di Taman;
  13. Musisi Jalanan Bandung;
  14. Pasar (kaget) Buah-Buahan Sepanjang Jl. Otista;
  15. Tukang Mie Rebus Keliling;
  16. Zahra, The Little Cute Girl;

(ahmed fikreatif)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

5 Tanggapan

  1. wah, beneran itu???
    ndak sopan yag ngerjain, kan sama2 cari makan, kasihan toh ya…

    • hehehehehe…
      beneran kale…
      lah, khan sesuai perjanjian Far…
      😀

  2. Afwan…sepertinya dr kisah di atas ga ada yg lucu, malah sebaliknya…menyedihkan…kasihan….memang ada kejadian bagi sebagian org lucu, tp tdk utk org lain…afwan jidan

  3. Pengamennya juga terlalu murah sih. Masa’ satu lagu cuma 500. Parkir semenit aja 1000. Hehe..

    Kalau saya pernah ngerjai pengamen dengan cara menantangnya menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dengan tarif mahal. Blum ada yang bisa memenuhi tantangan saya. Termasuk sekelompok mahasiswa yang ngamen dadakan untuk pengumpulan dana acara kampus. 🙂

    • @Agung Pushandaka: Lha ya salah sendiri pasang harga segitu mas… hahahaha

      hahaha..
      Itu bukan ngerjain tapi menyindir
      mereka ternyata lebih familiar dg lagu2 band alay dan sdh byk lupa dg lagu nasional.
      Sy juga yakin klo suruh nyanyi Indonesia Raya pasti byk lupa tuh sya’irnya
      hehehehe

      krn aq sendiri jg sempet lupa syairnya pas diwisuda
      😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: