Pelajaran Dari Penjahit (Jalanan)


Waktu ke Bandung hari Sabtu, 30 Januari 2010, beberapa hari lalu, ada beberapa hal yang menarik untuk kujepret via kamera Casio Exilim EX-Z75 ku. Meskipun kamera murah, tapi cukuplah kalau sekedar untuk jepret objek-objek menarik hati untuk selanjutnya untuk di-share-kan melalui blog.

Bapak penjahit di dalam foto di samping ini kupotret saat berhenti sejenak menunggu lampu hijau yang terpancar pada traffic light perempatan tugu Sepatu Cibaduyut. Aku tidak mengetahui nama bapak tengah baya itu. Hanya saja sekilas aku melihatnya, muncul rasa takjub sekaligus bangga dengan tekad yang dimiliki bapak penjahit itu.

Kenapa aku memotretnya? Aku hanya ingin mengabadikan sebuah fenomena sosial yang ada di lingkungan masyarakat kita betapa hidup di dunia ini tidak semudah yang kita bayangkan. Tak sedikit yang harus mencari sesuap nasi untuknya dan keluarganya di atas trotoar, aspal jalanan, atau keluar masuk pintu bus kota.

Kata “jalanan” dalam makna umum lebih sering diartikan secara konotatif. Sehingga hasil perkawinan sebuah kata dengan kata “jalanan” lebih sering bermakna konotatif. Sebut saja misalnya musisi jalanan, anak jalanan, dan lainnya. Bapak penjahit ini pun kutemui saat aku menyusuri jalanan kota Bandung.

Aku menangkap sinyal perjuangan dan kreativitas serta bentuk ikhtiar dan ketawakkalan dari seorang Bapak Penjahit Mobile (aku berusaha menghindari kata Jalanan, tapi bingung menggantinya dengan istilah yang lebih tepat). Mungkin, penghasilan melalui menjahit di tepi jalan tidak lebih besar daripada menjadi pengamen perempatan. Namun ia memilih memanfaatkan bakatnya sebagai penjahit di tepi jalan. Sebuah kreatifitas dan tentunya tekad kuat untuk berikhtiar mencari penghidupan yang halal.

Sebuah mesin jahit pun serta merta merupakan kebutuhan primer bagi Bapak Penjahit itu sebelum ia mempraktikkan bakatnya di dalam menjahit. Oleh karenanya, ia pasti membutuhkan modal atau setidaknya menyewa atau meminjam mesin jahit dari seseorang. Sekali lagi, aku tidak tahu siapa bapak itu, siapa namanya, berapa anak-anaknya, dan latar belakang pribadi lainnya

Orang-orang semacam bapak penjahit inilah yang memberikan pencerahan dan pelajaran bagiku betapa sesulit apapun dan sekeras apapun mencari penghidupan, kehalalan dan menghindari meminta-minta adalah prinsip utamanya. Mungkin Bapak penjahit ini lebih memiliki jiwa dibanding para pejabat atau anggota dewan yang tak malu menghabiskan harta bukan miliknya untuk sebuah hal yang tidak berujung pangkalnya.

Sebetulnya, andai orang-orang seperti bapak ini lah yang memperoleh bantuan dari lembaga-lembaga zakat (LAZIS) setempat, maka ekonomi rakyat itu akan lebih bisa berjalan dan tepat sasaran (maaf, aku tidak menyebut pemerintah karena sepertinya hal-hal seperti ini barangkali tidak masuk di dalam RAPBN atau RAPBD atau tersisa tetesan-tetesannya saja).

(Ahmed Fikreatif)


Beberapa hal lainnya yang menarik hasratku untuk kupotret dan berhasil kubidik antara lain:

  1. Bapak Penjahit di Tepi Jalan Perempatan Tugu Sepatu;
  2. Tugu Sepatu Menuju Cibaduyut;
  3. Persib Harus Nomor Satu;
  4. Stasiun Bandung;
  5. Kantor Gubernur-an;
  6. Pemilihan Ketua RW di Perumahan Sukamenak;
  7. Air Bersih Masih Dibutuhkan Meskipun di Perumahan;
  8. Jembatan Pasopati;
  9. Nasi Oseng Depan Stasiun Bandung;
  10. Siswi SMA Nyeberang Jalan;
  11. Sepasang Sejoli Naik Motor Erat-Erat;
  12. Anjing Dilarang Bermain Di Taman;
  13. Musisi Jalanan Bandung;
  14. Pasar (kaget) Buah-Buahan Sepanjang Jl. Otista;
  15. Tukang Mie Rebus Keliling;
  16. Zahra, The Little Cute Girl;

(ahmed fikreatif)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: