“Persib Harus Nomor Satu”


Waktu ke Bandung hari Sabtu-Ahad, 30-31 Januari 2010, beberapa hari lalu, ada beberapa hal yang menarik untuk kujepret via kamera Casio Exilim EX-Z75 ku. Meskipun kamera murah, tapi cukuplah kalau sekedar untuk jepret objek-objek menarik hati untuk selanjutnya untuk di-share-kan melalui blog.

Jika kamu sampai di Stasiun Hall Bandung (Stasiun Bandung utama), lalu berjalan ke arah depan stasiun melalui pintu utara, lalu dongakkanlah kepala kamu ke arah kiri atas, maka kedatangan anda di Bandung langsung disambut dengan ucapan Selamat Datang di Kota Bandung dan sapaan motivasi beraroma fanatisme ala sepakbola.

Tak tanggung-tanggung, yang menyapa kamu langsung Walikota Bandung (saat aku menulis postingan ini), Dada Rosada, lengkap dengan atribut Persib Bandung. Persib Bandung dulu terkenal dengan sebutan Pangeran Biru dan terkenal sebagai klub yang “Anti Pemain Asing”. Namun agaknya Persib Bandung tak bisa terus ber-idealisme seperti itu hingga akhirnya pun Persib merekrut legiun asing juga. Seingatku yang membuat istimewa adalah bahwa Persib merupakan klub Perserikatan utama tingkat level Divisi Utama yang paling akhir menghalalkan rekrutmen pemain asing. Persib terkenal dengan “fanatisme” serta “kepercayaan” terhadap para pemain-pemain lokalnya. Bahkan pada Liga Indonesia pertama, Persib Bandung mampu membutikan bahwa kekuatan 100% pemain lokal mampu mengalahkan dominasi klub-klub lainnya yang disupport legiun-legiun asing.

Jujur, baru kali ini aku melihat baliho atau billboard yang cukup besar yang mempromosikan sebuah klub sepakbola lokal. Dan “bintang iklan” papan promosi tersebut adalah sang walikota setempat. Aku tidak tahu jika ternyata kota-kota lainnya juga memiliki billboard serupa, ya mohon maaf atas ke-kuper-anku :D.

Namun, hal ini sebenarnya menimbulkan pro-kontra tersendiri di kalangan masyarakat sepakbola maupun umum. Di Indonesia, dalam sejarah sepakbola, terdapat dua kutub sepakbola yang dikenal dengan sebutan Perserikatan dan Galatama. Sebelum adanya Liga Indonesia (dulu awalnya bernama Liga Dunhill), Indonesia memiliki dua kompetisi yang terpisah. Pertama, kompetisi sepakbola perserikatan. Kedua, kompetisi sepakbola Galatama.

Kompetisi sepakbola perserikatan diisi oleh klub-klub sepakbola yang tergabung dalam klub Perserikatan. Klub-klub perserikatan ini adalah klub sepakbola yang dananya disokong oleh Pemda setempat. Ciri-cirinya, rata-rata (mungkin malah semuanya) nama klub diawali dengan huruf “P” atau kata “Per”. Sebagai contoh, di Jakarta ada Persija (Persatuan / Perserikatan Sepakbola Indonesia Jakarta), Persijatim (Persatuan / Perserikatan Sepakbola Indonesia Jakarta Timur); di Bandung ada Persib (Persatuan / Perserikatan Sepakbola Indonesia Bandung); di Solo ada Persis (Persatuan / Perserikatan Sepakbola Indonesia Solo); di Makasar ada PSM (Persatuan / Perserikatan Sepakbola Makassar); dll. Klub-klub perserikatan ini dibiayai sepenuhnya oleh Pemda setempat menggunakan dana RAPBD.

Sementara kompetisi Galatama dimeriahkan oleh klub-klub profesional yang dibiayai oleh swasta atau perusahaan tertentu. Dulu beberapa klub Galatama yang terkenal adalah antara lain Pelita Jaya, Mastran Bandung Raya, Arseto Solo, ASGS Surabaya, Arema Malang, dll. Beberapa klub Galatama yang masih tersisa hingga kini hanya beberapa saja antara lain Arema Malang dan Pelita.

Seringkalinya, para pemain dari kedua kompetisi tersebut sering saling sentimen. Para pemain Galatama dianggap lebih condong kepada uang dan kurang memiliki jiwa kedaerahan atau nasionalisme di dalam timnas PSSI, sementara para pemain perserikatan sering dianggap berdedikasi tinggi terhadap semangat kedaerahan dan nasionalisme (jika tidak ingin dikatakan dengan fanatisme)

Maka, demi jiwa persatuan dan kesatuan (barangkali) disatukanlah dua kompetisi itu menjadi Liga Indonesia Utama. Pertandingan pertama pembuka adalah Persib Bandung (sebagai juara terakhir kompetisi perserikatan) versus Pelita Jaya (sebagai juara terakhir kompetisi Galatama). Hasil pertandingan itu seingat saya berakhir imbang (draw). Dan kompetisi awal Liga Indonesia Pertama itu pada akhirnya mempertemukan Persib Bandung vs Petrokimia Gresik. Persib Bandung kala itu menjadi juara nya melalui gol semata wayang Sutiyono (kalau tidak salah_agak lupa je..). Di liga berikutnya, klub Bandung lagi-lagi menjadi juara Liga Indonesia kembali. Namun kali ini bukan Persib, tetapi Mastrans Bandung Raya. Pemain yang kuingat dari Bandung Raya yang paling kesohor adalah Peri Sandria. Ia lah yang menjadi top scorer Liga Pertama. Sekarang aku tidak tahu kabarnya. Kini setahuku Bandung Raya telah bubar.

Biasanya, klub-klub Galatama memiliki suporter yang relatif lebih sedikit dibanding dengan Perserikatan. Mungkin hanya Arema Malang, Petrokimia Gresik, dan Arseto Solo saja yang dalam sejarahnya memiliki suporter-suporter fanatik mengalahkan klub perserikatan di kotanya.

Persoalan yang menjadi perdebatan adalah perlukah sebuah klub sepakbola dibiayai oleh rakyat setempat melalui Pemda berdasar RAPBD setempat? Beberapa pihak menyetujuinya karena hal itu sebagai bagian dari tanggung jawab Pemerintah Daerah mengembangkan bibit-bibit pemain lokalnya. Namun sejak disatukannya kompetisi Perserikatan dan Galatama, ternyata klub-klub Perserikatan yang sebelumnya mengambil pemain-pemain dari daerah lokal dan sekitarnya justru lebih suka membeli pemain daerah lain yang siap pakai. Transfer pemain menjadi hal tabu di dalam Perserikatan. Dengan demikian, buat apa uang rakyat yang banyak hanya untuk hiburan dan justru kurang memberi kesempatan kepada masyarakat daerah setempat?

Beberapa pihak lainnya tidak menyetujui jika sebuah klub harus meminta Pemda untuk membiayai klub sepakbola. Kelompok ini cenderung melihat agar klub-klub sepakbola itu mampu mandiri dan hidup secara mandiri dengan mencari cara menghidupi klubnya sendiri tanpa bantuan pemerintah dan PSSI. Harapannya, klub akan menjadi profesional sebagaimana layaknya klub-klub di kawasan Eropa.

Sekarang, konon klub-klub sepakbola Indonesia harus berbadan hukum sendiri. Klub sepakbola tidak boleh hidup dari “mengemis” kepada Pemda. Ia harus rajin mencari sponsor dan iklan serta pemasukan lainnya. Setujukan kamu dengan sistem baru itu? Silakan berpendapat sendiri.

Beberapa hal lainnya yang menarik hasratku untuk kupotret dan berhasil kubidik lainnya antara lain:

  1. Bapak Penjahit di Tepi Jalan Perempatan Tugu Sepatu;
  2. Tugu Sepatu Menuju Cibaduyut;
  3. Persib Harus Nomor Satu;
  4. Stasiun Bandung;
  5. Kantor Gubernur-an;
  6. Pemilihan Ketua RW di Perumahan Sukamenak;
  7. Air Bersih Masih Dibutuhkan Meskipun di Perumahan;
  8. Jembatan Pasopati;
  9. Nasi Oseng Depan Stasiun Bandung;
  10. Siswi SMA Nyeberang Jalan;
  11. Sepasang Sejoli Naik Motor Erat-Erat;
  12. Anjing Dilarang Bermain Di Taman;
  13. Musisi Jalanan Bandung;
  14. Pasar (kaget) Buah-Buahan Sepanjang Jl. Otista;
  15. Tukang Mie Rebus Keliling;
  16. Zahra, The Little Cute Girl;

(ahmed fikreatif)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: