Jumlah Rakyat Indonesia Pro Syariah Turun, Indikasi Melemahnya Dakwah Islam


Tikaman belati kelompok liberalisme pemikiran Islam mulai dirasakan menggerogoti kehidupan keislaman muslimin Indonesia. Keberadaan pemikiran kaum liberal ini menjadi kanker bagi Islam dan umat Islam. Indikasi ini, secara umum, bisa terlihat dari sedikitnya dukungan rakyat Indonesia terhadap capres-capres yang mengusung anti liberalisme baik secara kultur, ekonomi, dan keagaamaan.

Tim Mega-Pro yang mengusung konsep ekonomi kerakyatan dan menyatakan perlawanannya atas “penjajahan budaya barat” di Indonesia ternyata tidak memperoleh dukungan yang signifikan. Bahkan, mereka harus merelakan wilayah Solo yang terkenal dengan basisnya ke tangan capres terpilih, SBY.

Sementara tim Jk-Wiranto yang menelurkan isu jilbab dan anti-Ahmadiyah sebagai simbol pro-legalisasi syariah Islam (menurut para pendukungnya) memperoleh dukungan yang sepi, kalau tidak mau dikatakan gagal total.

Padahal, dalam sebuah survey, disebutkan bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat menghargai nilai-nilai relijiusitas. Indonesia merupakan negara yang 9 dari 10 orang rakyatnya menyatakan bahwa “Agama mempunyai sebuah peranan yang vital dan penting dalam kehidupan sehari-hari.” demikian ungkap sebuah survey.

Temuan itu sampai kini masih tidak berubah. Hanya saja, banyak sinyal-sinyal yang mengindikasikan bahwa negara dengan populasi muslim terbesar di dunia ini mulai mengalami proses penurunan ketaatannya dan kehilangan nilai-nilai religiusitasnya.

Pelan tapi pasti, berikut ini buktinya. Pada bulan Maret 2008, mayoritas penduduk Indonesia masih menyatakan hukum Islam harus diterapkan sebagai sebuah sistem kenegaraan yang formal.

Hasil Survey

Penegakan syariat Islam dianggap memberikan hal yang positif dan lebih baik daripada sistem hukum yang lain. Sebuah survey menyatakan bahwa 52 persen penduduk Indonesia dan 55 persen muslim Indonesia meyakini bahwa Hukum Islam atau Hukum Syariat harus diimplementasikan di Indonesia. Namun, pada kisaran bulan Juni 2009, jumlah persentase tersebut turun hanya menjadi 42 persen saja yang menyatakan bahwa Islam adalah pilihan terbaik dan 43 persen muslim saja yang berkeyakinan seperti ini.

Indikasi lain, terlihat pada Maret 2008. Sebanyak 45 persen menyetujui bahwa menjadi sebuah kewajiban bagi muslimah untuk mengenakan jilbab. Lima belas bulan kemudian, jumlah tersebut turun 2 persen menjadi hanya 43 persen.

Kemudian selain itu, 40 persen rakyat Indonesia yang sebelumnya meyakini bahwa pencuri seharusnya memperoleh hukuman potong tangan, jumlahnya kini menurun menjadi hanya 36 persen saja.

Indikasi lain yang dianggap berhubungan menyebutkan 24 persen muslim meyakini bahwa wanita lebih baik tinggal di rumah dan tidak bekerja. Namun, pada Juni 2009, mulai turun menjadi 20 persen.

Perolehan angka-angka survey ini berdasarkan pada Roy Morgan Single Source. Lembaga survey ini mengambil sebanyak 25,000 responden usia 14 tahun ke atas setiap tahunnya.

Responden diklaim menyasar daerah perkotaan, pinggiran, hingga ke pedesaan di seluruh wilayah Indonesia. Data tersebut di-update setiap 90 hari.

Setidaknya, hasil survey tersebut dapat memberikan sebuah sinyal bagi para aktivis dakwah Islam dari latarbelakang gerakan Islam apapun untuk mawas diri. Penurunan dukungan rakyat Indonesia yang pro-legalisasi syariat Islam ini diharapkan mampu memicu semangat para aktivis dakwah untuk bekerja dan berjuang lebih keras dan ikhlas.

Sangat masuk akal, penurunan ini disebabkan oleh masifnya gerakan dan pemahaman liberal ke seluruh lapisan masyarakat melalui media-media yang dioptimalkan mereka. Dan sangat masuk akal pula fenomena penurunan ini juga disebabkan oleh isu terorisme yang diangkat guna menakut-nakuti kalangan masyarakat luas untuk menjauh dari setiap gerakan dakwah.

Dan yang tidak mustahilnya adalah kesibukan para aktivis dakwah pada aktivitas-aktivitas yang tidak membangun dan kegiatan politik praktis dan perebutan kekuasaan semata sedangkan di sisi lain meninggalkan mad’u-nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: