Mendirikan Usaha Itu Ternyata Tak Mudah


Jumat. Kalender menunjukkan tanggal 11 Juli 2008. Aku berencana memasang spanduk promosi PERSADA PRIVAT di beberapa sudut gang atau sudut kota Solo.

PERSADA PRIVAT (selanjutnya aku sebut Persada) adalah nama lembaga bimbingan belajar privat yang aku bangun bersama seorang kawanku bernama Zaki Setiawan (silakan lihat blognya kalau berkenan dengan klik di sini). Persada sebenarnya belum genap satu tahun berdiri. Lembaga bimbingan belajar privat ini mungkin baru berusia sekitar 9 bulan karena berdasarkan jurnal keuangan, baru tercatat transaksi pertama pada bulan November 2007. Aku masih ingat betul siswa pertama kami, namanya Hanif Isa Baraja. Dia seorang siswa SMU Al-Islam 3 kelas 1. Ia keturunan Arab.

Persada kami dirikan untuk merintis usaha mandiri. Cita-cita besar (kalau tidak mau dikatakan sebagai mimpi) kami adalah mendirikan sebuah perusahaan Holding Company (doakan ya kawan-kawan! Semoga Sukses! Amiin). Dengan kondisi waktu awal mula berdiri, sejujurnya kami belum dan memang tidak memiliki modal serupiah pun. Asumsinya, jika tidak memiliki modal, maka mustahil kami mampu mendirikan sebuah usaha sekalipun kecil. Tapi, alhamdulillah-nya, beberapa bulan sebelum kami sepakat untuk mendirikan usaha bimbingan belajar privat Persada itu, aku dan Zaki Setiawan (dipanggil mas Wawan) telah saling bekerja sama dalam bidang penerjemahan. Saat itu, aku membantu mas Wawan menjadi penerjemah teks-teks bahasa Inggris yang dimintakan untuk diterjemahkan. Aku hanya memperoleh sedikit bagian dari pendapatan penerjemahan.

Dalam menerjemahkan teks, aku paling-paling hanya memperoleh Rp. 2.000 – Rp 2.500 per lembarnya. Padahal, teks-teks yang aku terjemahkan saat itu merupakan literatur-literatur di luar bidangku. Beberapa teks yang aku terjemahkan merupakan literatur ilmu-ilmu kedokteran, psikologi, ekonomi, dan pendidikan. Sedangkan saat itu, aku hanya kuliah di Fakultas Hukum dan baru saja menyelesaikan kuliah D3 Bahasa Inggris UNS. Singkatnya, honor menerjemahkan itu terbilang sangatlah kecil. Ketika kemudian, mas Wawan mengajakku untuk mendirikan sebuah lembaga bimbingan belajar, aku agak ragu karena dari mana kita harus mengawali sementara kita saat itu tidak memiliki modal.

Setelah melalui obrolan berkali-kali, maka kami sepakat mendirikan bimbingan belajar privat Persada. Sementara usaha penerjemahannya, kami beri nama Cozy translation. Kedua istilah nama itu merupakan murni ide dan usulan mas Wawan. Aku hanya ngikut saja. Dalam mendirikan usaha Persada privat tersebut, kami hanya bermodalkan uang sekitar Rp. 50.000,- saja. Uang itu berasal dari tabungan keuntungan terjemahan yang dikumpulkan oleh mas Wawan sebelumnya. Ternyata, saat aku menerjemahkan dulu itu, sebagian uang honor hasil terjemahan yang dia peroleh itu, ia atasnamakan kami, yang selanjutnya menjadi modal Persada. Artinya ia memberikan kepadaku hak atas sedikit hasil penerjemahanku di luar hak ku yang Rp 2.000- Rp. 2.500 per lembar nya.

Modal uang sebesar Rp. 50.000,- itu kami gunakan untuk mencetak brosur atau pamflet atau leaflet. Untuk mengirit, kami mengerjakan sendiri semua hal-halnya. Aku mendesain pamfletnya, kemudian membuat print paper, membeli kertas satu rim untuk pamfletnya, dan kami sendiri pula yang mengurus pencetakannya (tentunya bukan kami yang mencetaknya karena kami tidak memiliki alat cetaknya). Nah, pamflet sebanyak 1 rim itu kami tempel dan sebarkan ke beberapa sekolahan dalam rangka promosi untuk mencari murid. Sekali lagi, kami sendiri yang menempelkan dan menyebarkannya. Berawal dari pamflet-pamflet itulah, kami ditelepon satu-dua orang yang memberikan amanah kepada kami untuk mendampingi belajar putra-putri mereka. Hingga saat ini, alhamdulillah, kami mampu eksis dan ada. Cucuran darah, keringat dan air mata kami selama 8 bulan itu seolah tidak keluar sia-sia (halah-halah J, maaf nih kalau terlampau hiperbolis, hehehehe).

Kita kembali kepada pemasangan spanduk!

Kami hanya memiliki 10 spanduk karena kondisi keuangan kita saat itu hanya mampu untuk membuat 10 spanduk saja. Rincian pemasangan 10 spanduk yang telah kami siapkan tersebut menurut rencana semula, akan kami pasang dua diantaranya di wilayah cabang Persada di daerah Banyudono, Boyolali. Sementara delapan spanduk lainnya rencananya akan dipasang di sekitar Solo.

Kami telah membuat rencana pemasangan spanduk yang antara lain akan kami pasang satu di wilayah perumahan tempat tinggalku, satu di wilayah perkampungan tempat tinggal mas Wawan (yang sekaligus berperan sebagai kantor pusat Persada), satu di wilayah perkampungan Sondakan dekat SD Islam Djama’atul Ikhwan, satu di wilayah perumahan Purbayan, satu di wilayah perumahan Fajar Indah, satu di wilayah perumahan Solo Baru, satu di depan SMU Negeri 7, dan sisa satu terakhir di depan SD-SMP Ta’mirul Islam. Kami memiliki alasan sendiri kenapa kami memasang di tempat-tempat tersebut yang tidak kami utarakan di sini.

Dari 10 spanduk yang akan kami pasang tersebut, kami hanya memintakan ijin dari pemkot setempat sebanyak dua spanduk saja. Perlu kami kasih tahu bahwa untuk pemasangan satu spanduk, kita diminta untuk membayar pajak totalnya senilai Rp. 6.000,- per meter dengan jangka waktu pemasangan hanya satu pekan. Kalau spandukku itu berukuran panjang 6 meter, maka aku sudah harus mengeluarkan uang Rp. 36.000,- untuk pajak untuk satu spanduk saja. Jika aku ingin memasang 10 spanduk tersebut semuanya dengan ijini resmi, maka aku harus keluar Rp. 360.000,-. Padahal untuk membuat 10 spanduk itu saja, tak kurang dari Rp 400.000,- telah aku keluarkan dari dompet kas Persada. So, 10 spanduk bernilai lebih dari Rp. 760.000,-. Setelah berpikir dan bermusyawarah bersama, maka kami putuskan untuk memintakan ijin 2 spanduk saja. Selebihnya, kalian tahu sendiri khan…?? 😀

Sore menjelang petang hari, aku dan mas Wawan menuju ke perumahan tempat tinggalku di kawasan Windan Baru, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo. Pukul 17.00, kami memasang spanduk. Akhirnya menjelang azan maghrib, kami sudah berhasil mengibarkan spanduk Persada di bumi Windan Baru. Spanduk Persada ini bukanlah spanduk pertama yang berkibar karena sebelumnya sudah ada spanduk Persada yang berkibar di bumi Nirbitan di depan SMP Al-Islam 1 Surakarta. Namun, untuk spanduk yang di Nirbitan itu, kami hanya meminta Ketua RT setempat yang ”menguasai” atau sing mbahurekso daerah setempat untuk memasangkannya dengan imbalan uang senilai tertentu. Setelah sholat maghrib, kami menuju ke wilayah perumahan Purbayan, sekitar 2 km dari lokasi pemasangan spanduk sebelumnya. Yang menarik, kami membawa tangga lipat yang akan kami gunakan untuk alat bantu memasang spanduk itu dengan naik motor. Aku mengemudi di depan, sementara mas Wawan mengangkat tangganya. Sepanjang perjalanan, hampir beberapa motor yang akan kami tabrak. Kalau mengenang itu, kami jadi terkenang dan seolah tak menyangka kenapa kami bisa melakukan hal itu.

Setelah sholat isya’, kami menuju ke arah Sondakan, untuk mengajak Adin, kawan kami yang juga memiliki andil dalam Persada karena dia adalah orang pertama yang membeli franchise (sebut saja seperti itu) Persada. Tujuan kami berikutnya adalah ke arah Fajar Indah. Kami bingung untuk teknis di lapangan mengenai pemasangan spanduknya karena setidaknya kami butuh satu buah tangga. Sementara tangga yang tadi kami gunakan untuk pemasangan sebelumnya kami tinggalkan di rumah kedua mas Wawan di Windan Baru.

Atas inisiatif Adin, ia mengusulkan untuk meminjam tangga dari seorang kawan Friendster dan YM-nya yang tinggal di kawasan Perumahan Fajar Indah. Kawan Adin tersebut juga kawan FS serta YM -ku yang kebetulan pula adik tingkatku di Fakultas Hukum UNS. Perlu kami informasikan bahwa aku dan Adin sama sekali belum pernah bertemu ngobrol dengannya. Namanya, sebut saja Bonita.

Ide meminjam tangga itu akhirnya tidak kesampaian karena tangga yang dimiliki Bonita ternyata bengkok. So, ga bisa dipakai. Lagian waktu itu hari sudah malam menunjukkan waktu pukul 21.00. Tidak enak mengganggu waktu istirahat Pak RT tetangganya Bonita yang sedianya akan mengantar kami meminjamkan tangga kepada Pak RT-nya. Tak kurang akal, maka aku inisiatif mencari masjid di wilayah perumahan fajar indah. Aku lupa nama masjidnya. Kebetulan saat itu sang penjaga masjid masih belum tidur karena saat itu, aku rasa masjid baru saja selesai acara pengajian. Alhamdulillah, kami dapat ijin meminjam tangga dari masjid. Singkatnya, spanduk pun berkibar. Tapi, ada cerita lucu saat pemasangan spanduk itu di sini. (Baca aja dengan klik di sini).

Selesai memasang spanduk di perumahan Fajar Indah, kemudian secara berturut-turut, spanduk pun berkibar di Sondakan -di depan SD Djama’atul Ikhwan atau (SD DJI); di depan SMU Negeri 7; dan terakhir di depan SD Al Azhar Solo Baru.

Dinginnya udara malam berdesak-desakan berlari menampar-nampar wajah sambil menyelinap di antara syal yang melingkar di leher dan jaketku. Mungkin mereka ikut men-delik dan mencari kehangatan dengan menyelinap di balik jaketku. Aku, mas Wawan, dan Adin merasakan gigil di balik rapatnya jaket, kaos kaki, syal dan celana yang menyelimuti tubuh kami. Kami tak kuasa menahan aliran hawa dingin yang sudah menyentuh tulang-tulang kami. Sebuah kehangatanlah yang kami butuhkan untuk mengusir dingin yang menyelinap itu.

Sebagai pelepas lelah, penutup acara, dan pengusir dingin, kami sepakat makan nasi kari panas ditemani segelas teh hangat, dan tempe goreng yang masih panas dari penggorengan di sebuah warung makan KARE MALAM pojok perempatan Pasar Kembang. Tepatnya, 200 meter sebelah utara SMU Al Islam 1 Surakarta atau Movie Time VCD Rental.

Pukul 00.30 WIB, aku pun nyampai rumah dan tertelap tidur. ZzzZzzZzz…..

(Ahmed Fikreatif)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

11 Tanggapan

  1. hmmm,,,Ruar biasa..:)
    oya mo nanya boss,,saat awal pendirian, manajemennya gmn?meliputi recruitment tenaga pengajar,bagi hasil(manajemen keuangannya),fasilitas apa ja yg diberikan,dll…
    yah,,klo boleh tau sih….bagi2 ilmu.^_^
    balesan/jawabannya lewat manapun,terserah…
    thx Pak Fikreatif….

    • @fitroh: dijawab via YM saja ya??

  2. wah…inspiratif…
    kbbetulan aq juga sedang merintis les privat…sedang disusun rencananya….
    pertanyaanku sm dengan fitroh…manajemen awalnya bagaimana?dst…
    n ini privat kan? brarti kan qt yang datang kerumah siswa…
    ditunggu jawabannya…
    makasih dah mau bagi2 ilmu..hehehe.moga makin sukses..

    • @Fiya: dijawab via YM saja ya??

  3. asalkan niatnya udah bulat, dibarengi dengan usaha dan ibadah, pasti semua dapat terlaksana. 😀

    • @Danu: insya Allah. amiin
      tp ini aq hrs terpaksa menjadi buruh dulu di ibukota je….

  4. well.. :). Memulai sesuatu dengan berani is very good.
    Sukses tidaknya sudah tergantung lah.. 🙂

    • @Luckman: sip..
      doakan bisa sukses.
      amiin

  5. assalamu’alaykum warohmatullah..
    wow salut liat usahanya 🙂
    terus sekarang gmn perkembangan usaha nya pak?
    pertanyaan ku gak jauh beda dgn tmn2 sebelumnya. bagaimana sistem usahanya.. bagi hasil.. rekrutmen pengajar.. dan bagaimana menentukan sistem bayaran siswa? terimakasih untuk share nya 🙂
    wassalamu’alaykum

  6. terimakasih atas share pengalamannya. saya jg sedang merintis ni, tapi takut kalau ndak dapat murid nanti jadi malu sendiri…….
    Doakan ya dapat murid seperti jenengan…

  7. Mengutip ” Padahal, teks-teks yang aku terjemahkan . Singkatnya, honor menerjemahkan itu terbilang sangatlah kecil” . kalau aku bilang sih Honor kecil tapi Ilmu dan kosa kata kefasihan bahasa Inggris jadi meningkat luar biasa, itu yang tidak bisa dihitung dengan uang. Bagus artikelnya….sangat menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: