Berbohonglah! Karena Bohong Bikin Terbengong


(Kisah Bodoh Saat Pemasangan Spanduk)

Pemasangan Spanduk promosi PERSADA PRIVAT ini disebut sebagai Criminal Job oleh Adin (Blognya beralamat di sini). Betapa tidak, pemasangan spanduk yang seharusnya dimohonkan ijin sebelum pemasangannya ke pemerintah daerah kota atau kabupaten setempat, tidak kami lakukan sepenuhnya. Dari sepuluh spanduk yang akan kami pasang, hanya dua spanduk saja yang kami mohonkan ijinnya ke pemkot Solo. So, Adin said that it is a criminal job! He added, “I like criminal job!” ::)

Kali ini kami berada di kawasan perumahan Fajar Indah. Secara administratif geografis, wilayahnya berada di bawah kekuasaan Kabupaten Karanganyar Tentram. Setelah melihat-lihat dan memperhatikan secara acak lokasi yang tepat dan “aman” (maksudnya aman dari penurunan paksa) untuk pemasangannya, kami memutuskan untuk memasang di lokasi perempatan sebelah utara Masjid. Asumsi kami kenapa kami memasangnya di dekat Masjid karena semata-mata alasan strategis.

Dalam asumsi kami, masjid betapapun bentuknya seperti apa, adalah pusat aktivitas masyarakat, setidaknya sepekan sekali akan datang berduyun-duyun ratusan masyarakat setempat untuk beribadah sholat Jumat berjamaah di masjid. Sehingga dengan demikian, spanduk yang kami pasang juga akan lebih berpeluang untuk dibaca dan diperhatikan oleh banyak orang. Apalagi, di area masjid tersebut juga berdiri sebuah sekolah taman kanak-kanak (TK) yang tentunya setiap hari dipenuhi oleh balita-balita yang belajar menggambar dan membaca ditemani ibu, eyang, kakak, atau bibinya. Inti kesimpulannya adalah bahwa Masjid tersebut adalah tempat yang strategis.

Saat ini kami (aku, Adin, dan mas Wawan) telah berada di utara Masjid. Di situ, kami berada di perempatan gang perumahan. Diantara sisi jalan di perempatan gang itu terdapat satu tiang telpon menjulang. Sementara di sisi seberangnya, sebuah tiang listrik berhias lampu merkuri (penerang jalan-red) berwarna putih cerah menerangi sekeliling perempatan gang. Di sinilah kami sepakat memasang spanduknya. Selanjutnya, kami berpikir bagaimana caranya agar spanduk PERSADA dapat terpasang di antara dua tiang itu. Aku pun mengusulkan untuk meminjam ke takmir (pengelola) masjid. Masjid Al Fajru namanya. Kebetulan saat itu, masjid baru saja selesai pengajian (sepertinya).

Aku dan mas Wawan pun segera menuju ke masjid untuk menemui takmir setempat. Sementara Adin menunggu sepeda motor di perempatan gang.

”Assalamu’alaikum…” kata ku di depan pintu kamar takmir.

”Wa’alaikum salam…” jawab seseorang di balik pintu.

Sesaat kemudian, muncul sesosok orang tua yang kisaran umurnya aku rasa sekitar 60 tahunan. ”Ini pasti takmirya” pikirku dalam hati.

Nyuwun pangapunten Pak, badhe ngampil ondho kagem masang spanduk nopo saged nggih Pak?” kata ku dalam bahasa Jawa. Kalau tidak paham, baca terjemahannya aja di dalam tanda kurung. J

(”Maaf pak, kami ingin pinjem tangga untuk memasang spanduk apa ada?”)

Ooo, enten mas. Niki monggo mang pendet piyambak!” jawab takmir tersebut.

(”Ooo, ada mas. Ini silakan diambil sendiri”)

Sak derengipun, kulo badhe tangklet sekaliyan nggih pak. Pak Rt-nipun daerah mriki nopo penjenengan mangertos?” kata ku lagi.

(”Sebelumnya mohon maaf, saya ingin sekalian bertanya. Rumah dan nama Rt setempat di sini siapa dan dimana ya Pak?”)

Ooo, Pak Rt mriki, asmane yen mboten salah, Pak Edi. Mbok menawi piyantunipun taksih wonten lebet mesjid.” Jawabnya.

(“Ooo, Pak Rt nya namanya kalau tidak salah, Pak Edi. Kalau tidak salah, orangnya masih di dalam masjid, mas.”)

Ooo nggih pun, niki ondhonipun kulo betho rumiyiin nggih pak?”

(“Ooo iya pak, terima kasih. Ini tangganya saya bawa dulu ya pak.”)

Nggih monggo!

(“Iya, silakan!”)

Selanjutnya, di luar pintu kamar takmir masjid, aku meminta mas Wawan untuk menemui Pak Edi yang dimaksud takmir masjid tadi untuk memohon ijin pemasangan spanduknya. Namun, kemudian mas Wawan mengatakan kepadaku agar spanduk dipasang terlebih dahulu saja. Setelah dipasang, baru kemudian esoknya atau kalau tidak kemalaman, seselesainya pasang spanduk, langsung ke rumah pak Edi untuk mohon ijin pemasangan Spanduk. Lagian kata mas Wawan, Pak Edi masih di dalam masjid ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang.

Sesaat kemudian, aku dan mas Wawan telah sampai di perempatan gang. Setelah menempatkan tangga, aku diminta untuk naik ke atas tangga untuk memasang dan menali spanduk di tiang listrik. Meski sebenarnya aku males untuk naik, tapi apa boleh buat. Kalau mas Wawan yang naik, takutnya tangga nya akan rusak karena bobot mas Wawan tak kurang dari 80 kg. Sedangkan kalau yang naik Adin, dia phobia dengan ketinggian. Tak ada pilihan lain. Akulah yang naik tangga.

Nah, sekitar beberapa menit kemudian, serombongan bapak-bapak dari arah timur muncul keluar dari masjid. Beberapa saat kemudian mereka telah berada di bawahku. Sambil menengok-nengok ke atas, salah satu dari mereka bertanya, ”Ini spanduk apa ya? Partai po? Tanya salah seorang di antaranya.

Karena diantara kami belum ada yang merasa mohon ijin kepada seseorang, maka kami pun terdiam sesaat. Mas Wawan kusaksikan dari atas terlihat kebingungan. Ia tersenyum kecut. Sementara adin aku lirik juga diam serupa. Karena semua terdiam tidak ada yang berani menjawab, maka secara reflek aku pun bilang kalau kami minta ijin pak Edi.

”Pak Edi” kataku agak keras, secara reflek.

Setelah aku meneluarkan kata ”Pak Edi”, sejurus kemudian aku jadi merasa terhenyak. ”Ah, bego banget sih aku!” dalam hati.

”Waduh, bisa berabe nih kalau ternyata di bawah situ ada pak Edi” kataku dalam hati.

”Ya Allah, semoga pak Edi tidak ada dalam rombongan itu. Please Ya Allah…!” doaku penuh ketakutan dalam batin.

Beberapa detik suasana sempat terbisu. Semuanya diam. Suara yang terdengar hanya angin sepoi-sepoi meniup menggerakkan dedaunan sekitarnya. Sekian detik kemudian suara salah satu diantara rombongan bapak-bapak yang ada di bawahku mengatakan,”Pak Edi, kulo pamit rumiyin. Monggo!” kata salah seorang bapak.

(”Pak Edi, saya pamit duluan, mari pak.”)

Aku pun terkaget dan menelan ludah. Jakunku sempat terangkat ke atas beberapa saat. ”Tuh kan, bener kan. Bego banget sih aku. Pak Edi ternyata benar-benar di bawah. Gimana nih..!”

Di atas tangga aku terbingung dan terbengong. Namun kepalang tanggung. Nasi telah menjadi bubur. Aku tak peduli. Pokoknya pasang dulu lah spanduknya. Perkara nantinya mau diturunkan atau dimarahi bapak-bapak tersebut dibahas nanti saja.

Beberapa detik kemudian, rombongan bapak-bapak tersebut pulang ke rumah masing-masing. Mungkin mereka sudah mangkel semu sebel bercampur getir (susah untuk diungkapkan) melihat tingkah kebodohan kami, terutama aku.

Ketika kami yakin mereka berada jauh dari perempatan. Aku, Adin, dan mas Wawan pun tertawa terbahak-bahak bercampur takut dan agak kecut juga. Betapa tidak, ”kebohonganku” (kalau memang dikatakan berbohong) secara nyata terbongkar dengan mentah-mentah di depan orangnya. Secara reflek aku mengatakan bahwa kami telah minta ijin pak Edi di depan beberapa orang yang di antara orang itu ada pak Edi, sementara sebenarnya kami belum ijin pak Edi. Bisa diasakan bagaimana ekspresi pak Edi saat mendengar kebohongan parah kami tersebut. Benar kata Adin, bahwa ini adalah pekerjaan kriminal. Ya…, this is criminal job.

Pelajaran yang dapat aku petik dari kejadian ini adalah bahwa jika suatu saat akan meminta ijin pemasangan spanduk, maka ingatlah baik-baik Pak Edi. Ha..ha…ha…

Don’t try this at home!!! (Ahmed Fikreatif)


.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

2 Tanggapan

  1. salam kenal.

    • salam balik mas RhyzQ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: