Apa Perlu, Kita Memelihara Amarah dalam Diri?


Dua hari lalu, ortu-ku ke Semarang. Rencananya, mereka hendak menjenguk pamanku yang sedang terbaring sakit. Ia terserang Hepatitis. Aku tidak tahu apakah Hepatitis A, B, C, D, atau Z. Mereka berangkat pagi-pagi buta setelah sholat subuh.

Sekitar waktu maghrib, kedua ortu nyampai rumah. Ibuku bilang ke aku, ”Fik, kamu tak bilangin ya. Tadi khan niat ke Semarang mau niat nengok Pamanmu yang sakit khan?”

”ee…, sampai sana malah ibu seperti diprovokasi. Ibu jadi malah marah.”

”Lha kenapa? Kok bisa?”

”Lha gimana tidak, sudah tahu kalau bapak dan ibumu ini mau pergi haji tahun depan tapi masih susah nyari kekurangan uang untuk nglunasinya. Eeee pamanmu malah bilang ke bapakmu agar bapak menghajikan simbahmu. Jalan pikirnya gimana sih..? Apa ga nambah mangkel ibu?”

”Oalah… Lha mbok ya ga usah dipikir dan dimasukin hati. Paman khan emang gitu. Kalau ngomong semaunya seolah tanpa dipikir. Ya biarin aja. Lagian dia juga baru sakit. Anggap saja paman lagi ngigau.”Dalam kondisi sekarang, ibuku memang kurang suka dengan adik-adik Ayahku. Alasannya, adik-adiknya ayahku dianggap oleh ibuku sudah lupa daratan. Jadi, alkisah memang ayahku anak nomor satu yang bertanggungjawab terhadap adik-adiknya. Sejak beliau SMA, ayah sudah bekerja membantu simbahku bikin baju dan jahitan. Ketika kuliah di Ekonomi UNS (dulu masih Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negera Surakarta), ayahku nyambi kerja pada seorang dokter sebagai pegawai administrasi. Uang hasil jerih payahnya, tidak hanya untuk biaya kuliahnya semata. Namun selain itu, uang jerih payahnya dibagikan juga kepada adik-adiknya untuk biaya sekolah atau kuliah mereka. Padahal adiknya ada enam orang. Setidaknya, empat orang diantaranya mampu sekolah atas bantuan biaya gaji ayahku. Ketika ayahku menikah, adik-adiknya masih mendapat uang dari ayahku. Hingga pada akhirnya, adik-adik ayahku selesai dengan sekolah atau kuliah mereka, barulah ayahku memberikan penghasilannya secara utuh untuk keluarganya, ibuku. Tindakan ayahku tersebut bertumbal pada kuliahnya di Ekonomi yang harus kandas di tengah jalan. Ayahku yang terhitung mahasiswa pandai harus berhenti kuliah demi adik-adiknya.

Nah, setelah adik-adiknya itu pada akhirnya menikah dan berkeluarga, menurut ibuku, adik-adiknya itu seolah lupa akan perjuangan ayahku. Ibuku yang juga merasakan pahit dan getah tindakan ayahku yang membiayai pendidikan adik-adiknya mungkin merasa sakit hati ketika adik-adiknya lupa akan jasa ayahku. Pamanku yang tinggal di Semarang, jika berkunjung ke Solo, hampir tidak pernah mampir ke rumah ayahku. Sementara bibiku yang tinggal di daerah Sukoharjo juga dianggap tidak pernah berkunjung ke rumahku. Padahal, bibiku hampir secara rutin berkunjung ke rumah pamanku yang di Semarang dan Pati.

Api kecil ini seringkali berubah menjadi api besar yang membakar ketika tersiram minyak. Minyak itu bisa bermacam-macam. Sebagai misal, ketika simbahku harus masuk ICU Rumah Sakit Kustati Solo karena jantung. Karena tinggal satu kota dengan simbahku, maka ayahku berinisiatif untuk bertugas menjaga simbah 24 jam bergiliran dengan bibi serta pamanku lain yang tinggal serumah dengan simbah. Ketika tiba urusan urunan duit buat biaya rumah sakit simbah, pamanku yang tinggal di Pati dan bibiku yang tinggal di Sukoharjo hanya memberikan uang yang tidak banyak.

Meskipun ayahku bukan yang paling banyak memberikan urunannya, ibuku merasa jengah saja melihat mereka hanya memberikan uang yang hanya segitu. Bahkan, ayahku sampai harus meminta kepada adik-adiknya agar bisa mengeluarkan lebih banyak lagi.

Paman yang di Semarang yang sudah bergelar Profesor Doktor Haji yang bekerja di sebuah universitas negeri di Semarang, menurut ibuku, sangat keterlaluan. Ketika demi kepentingan pribadi dan keluarganya, dia biasa-biasa saja mengeluarkan uang sebesar apapun, sementara untuk simbah yang jelas-jelas butuh justru terkesan berat, demikian keluh ibuku ngudoroso.

Paman yang di Pati juga demikian. Ia adalah seorang guru PNS di sebuah SMA Favorit di Pati. Sementara istrinya juga seorang PNS juga dengan jabatan yang cukup tinggi. Namun, pengorbanan mereka untuk orang lain terlalu kecil, menurut ibuku.

Sedangkan bibiku yang di Sukoharjo, memang hanyalah seorang perawat. Namun, kekayaan keluarganya mampu untuk membeli berhektar-hektar sawah karena suaminya seorang PNS yang menjabat kepala sekolah dan pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. Bibi pun dianggap kurang peduli dengan kondisi orang lain.

Sementara itu, ayahku yang hanya karyawan sebuah yayasan di Solo dengan gaji setengah dari pendapatan ibuku yang guru PNS, diharapkan mengeluarkan uang yang paling banyak karena ayahku anak nomor satu. Kekesalan dan kejengkelan ibu bertambah membakar karena ayahku juga harus menjaga simbah malam harinya sementara paman dan bibiku tinggal di rumah mereka.

Demikianlah latar belakang kenapa ibuku mungkin agak merasa sakit hati atas tindakan beberapa adik-adik ayahku yang seolah telah lupa daratan. Namun, sakit hati ibu tidak serta merta diikuti atau didukung ayahku. Ayahku justru cuek dengan segala prasangka ibu. Bagi ayahku, beliau tidak peduli dengan sikap adik-adiknya yang dianggap ibu telah lupa daratan. Namun, ayahku juga mengerti perasaan ibuku. Hubunganku dengan paman, bibi, dan sepupuku pun juga tidak pernah masalah.

Nah, melihat tindakan marah atau benci yang diambil atau diceritakan ibu kepadaku seringkali aku jawab agar ibuku sabar saja. “Sudahlah bu…, ngapain juga hal kayak gitu dipikirin. Sabar dan cuek saja khan semua beres.”
Aku seringkali mengatakan seperti itu karena aku hanya takut amal shaleh yang telah tercatat selama puluhan tahun di mata Allah SWT harus sirna hilang tak berbekas karena sikap ibu dianggap sebuah ketidakikhlasan oleh Allah SWT.

Menurutku, kalaupun ibu marah, kemarahan itu juga tidak akan berimbas pada berubah baiknya paman dan bibiku. Namun, kemarahan itu justru menjadi bumerang yang menikam diri ibuku sendiri. Tak hanya itu, disamping rasa stress karena terlalu memikirkan kemarahan itu, orang serumah pun sangat mungkin terimbas sikap marah itu. Artinya, amarah itu justru menjadi sebuah api yang membakar diri dan berpotensi ikut membakar dan merugikan orang lain. Lantas, aku bilang, “Ngapain sih kita harus marah? Apakah sikap marah kita itu membawa dampak kebaikan pada kita atau sebaliknya? Apakah sikap marah kita membuat orang lain itu menjadi berubah seperti yang kita harapkan atau tetap tidak berubah atau justru sebaliknya?”

Dalam manajemen marah, Islam melihat bahwa marah merupakan kibasan setan yang meneror manusia. Islam memberikan solusi praktis kepada umat manusia. Pertama, ketika kita merasa marah atau kejengkelan sudah di ubun-ubun, kita dianjurkan untuk beristighfar. Selanjutnya, kita dianjurkan untuk mengambil air wudhu karena melawan api amarah bukan dengan menambah api atau bahan bakar namun dengan air sejuk yangg mampu memadamkannya. Jika amarah masih saja menyelimuti kita, maka tidur dan sholat sunnah merupakan solusi yang dianjurkan sesudahnya.

Meskipun demikian, manusia tidaklah dilarang untuk selalu tidak marah. Dalam keadaan tertentu, kita sangat mungkin untuk harus marah. Sebagai misal, istri kita menggunjingkan tetangga, maka tak salah kita memarahi istri kita. Namun sekali lagi, marah tidak harus diliputi dengan sikap emosi yang tinggi. Wallahu a’lam.

Lantas, masihkah kita perlu marah? Selamat me-manage marah anda! X-(  🙂

(Ahmed Fikreatif)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

5 Tanggapan

  1. Blog anda cukup bagus, teruslah menulis !!
    http://mobil88.wordpress.com

  2. wah… kisah orang tua anda mirip dgn mertua saya,
    semua saudara2 beliau pada lupa,
    punya hutang tidak bayar, sampai akhirnya
    jadi bermusuh-musuhan gara2 warisan..

    saya cuma bisa mendengarkan keluh kesah beliau saja,
    toh itu sudah lama terjadi, kalau bisa menyambung
    silaturahim mungkin lebih baik ya…

    • namanya juga manusia…
      sy sendiri jg ndak tau apa sy bs lebih baik dr mereka jika dlm posisi yg sama dg mereka…

  3. mungkin ibunda perlu lebih ikhlas agar hati adik2 ayahanda lebih terbuka.

    biar aja orang lain hanya sudi menolong sedikit, tapi simbah bisa merasakan kok siapa yang ikhlas dan siapa yg ga. doa orang tua akan amat didengar sang maha kasih.

    • hmm,,, scr teori memang begitu…
      namun mewjudkan rasa IKHLAS di dalam sebuah praktik ternyata ga semudah teorinya..
      -ibarat sebuah perhitungan rumusan di dalam meja komputer atau teori yg lengkap dengan simulasi berteknologi secanggih apapun, ternyata ketika diproduksi dlm wujud fisiknya, teori tsb td berjalan 100% kalau tdk mau dikatakan berbeda dlm wujud FISIK-nya-
      aku sendiri jg hny diem krn dlm posisi seperti itu pun aku lum tntu lbh baik dr mereka…

      meskpun scr teori, mungkin ibunda salah dan mungkin jg ia tahu itu salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: