Ya Allah,,, Terima Kasih Atas Nikmat Selama 24 Tahun Ini…….


Hari ini tanggal 25 Januari 2010. Genaplah sudah aku hidup di dunia selama 24 tahun jika merujuk pada kalender masehi.

Telah kurasakan ribuan bahkan jutaan perasaan yang bisa kuresapi. Yang pertama kali ku harus lakukan adalah bersyukur dan mensyukuri apa yang telah dianugerahkan oleh-Nya dan bersabar atas kekurangan yang kurasakan. Telah kurasakan semua apa itu nikmat dan sengsara. Tak terasa pula sang Kholiq telah memberiku hembusan nafas tang pasti kudapatkan dengan gratis.

Setiap hembusan nafas yang masuk dan keluar dari sukma tubuhku sudah tak terhitung jumlahnya. Namun tak selamanya hembusan nafas yang Dia berikan aku gunakan untuk selalu merasuki ruh spirit penghambaanku kepada-Nya. Kuingat terkadang hembusan nafas yang masuk, aku satukan dengan nafsu dan hembusan nafas iblis yang aku hirup. Tak pelak lagi, saat-saat itulah perjalanan hidupku seringkali berbelok-belok dan terkadang putus hingga aku sering tersesat dalam kegelapan tanpa pelita menyinari indera. Sering pula aku terjerembab dalam lembah-lembah dan lubang-lubang kenistaan yang jauh dari nilai ke-ilahiyahan. Lembah yang berisi tawa iblis, nafsu syetan, dan kedustaan dajjal.

Sejenak kemudian aku kembali termenung memandang bingkai-bingaki kehidupan dalam klise-klise yang berjalan pelan di depan mataku berwarna merah gelap kecoklatan. Kulihat tawaku didalam alam kandungan. kulihat aku tak bisa bernafas tanpa bantuan organ-organ yang terhubung pada setiap jaringan tubuhku. Karena aku ingin kehidupan, aku ingin melihat apa itu dunia. Maka aku bersumpah atas nama Allah bahwa tiada sesembahan selain Dia, dan aku akan selalu taat dan tunduk pada perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Tak lama aku merasakan, kubuka mataku pelan sambil kuteriakkan tangis panjangku. Kini aku tak tahu di mana aku berada. Tak berapa lama, kulihat seseorang menggendongku lalu memandikanku dari kotoran dan darah yang membalut sekujur tubuh kecilku. Ketika tubuh dan jiwaku telah bersih sebersih putih kapas aku mulai merasakan kehangatan keberadaan ibu, ayah, nenek, kakek, dan saudara-saudaraku yang menyempatkan datang untuk menyambut kedatanganku. Sejak saat itulah aku mulai dituntun untuk mengenal dunia ini. Kadang aku menangis dalam keramaian kota yang mengusik tidurku atau di keheningan malam yang mencekam hatiku, terkadang pula aku tersenyum tertawa melihat tingkah polah saudaraku yang menghibur di tengah ketakutan malam.

Tak kurasa kini aku telah duduk di atas meja sekolah. Aku sudah bisa berbicara banyak. Kulihat diriku saat itu dimana aku suka mengganggu teman-temanku. Tak peduli laki-laki ataupun perempuan, aku harus bisa bermain ayunan yang ada di halaman kelasku. Aku bangga ketika semua teman-teman takut padaku. Setiap kali mereka melihatku, tanpa kata-kata mereka langsung menyingkir dari ayunan yang mutlak menjadi hakku. Ketakutan mereka membuat persahabatan semu di antara aku dan mereka. Aku pernah mendengar mereka memakiku di lorong sekolah menahan kenakalanku. Saat itu tak banyak berpikir. Yang ada dalam benakku hanyalah aku punya teman banyak. Saya tidak berpikir apakah mereka sungguh-sungguh menjadi temanku atau tidak.

Kutinggalkan bangku TK menuju SD dengan kenakalanku. Aku berpikir akulah yang terhebat di sana. Sehari, dua hari, seminggu, sebulan, dan seterusnya aku mulai merasa minder melihat ketidakberdayaanku. Teman-temanku lebih hebat. Saat itulah sudah tidak “menang sendiri”. Aku mulai berbagi kenakalan dengan beberapa teman-teman baruku.

Aku tak peduli pada apa itu pelajaran. Aku tak peduli apa itu sekolah. Apa itu pendidikan. Akupun teringat saat aku dan teman-teman baruku mencuri uang SPP milik seorang teman perempuan di kelasku hanya unutuk membeli mainan-mainan sehingga membawa kami ke dalam masalah yang rumit sampai aku ingat aku ditampar ayahku. Karena aku tak merasa salah, aku maki ayahku hingga keluar kata-kata kotor binatang dari mulut liarku. Saat itu aku ingat aku masih kelas 1. Mulai saat itu, aku dididik benar-benar. Aku sering dikekang di rumah. Aku merasa dibelenggu sehingga ketika ada kesempatan kabur, aku lari ke rumah teman-teman (genk)-ku. Aku ajak mereka main ke Matahari Dept. Store, Prabu, Obral, bahkan Bilyard di depan Matahari Singosaren. Aku masuki semua pusat keramaian, video game, bilyard, di sekitar Singosaren. Sering kami dikejar-kejar para Satpam di sana. Bila tak tertangkap aku ejek mereka dengan kata-kata liarku hingga kuping mereka panas hingga mereka kembali mengejar kami sapai terlibat kucing-kucingan. Seringnya aku main di tempat-tempat seperti itu hingga membawaku ke dunia pee-palak-an (dulu dikenal dengan istilah: NGGEDAK). Bila jumlah kami banyak maka kami palak anak-anak di sana. Namun bila jumlah kami pas sedikit maka justru kami yang dipalak. Seringpula kami terlibat perkelahian massal (tawuran) gara-gara palak. Selain palak, aku juga mulai kenal dengan beberapa genk dewasa yang sering mangkal di Tangga Matahari sebelah Utara. Kami kadang ngomong-ngomong kotor, diajak merokok, atau cuma ngobrol biasa saja. Seingatku, yang saat itu aku kenal (tetapi tak tahu namanya) dan kini dengernya sudah mati adalah pimpinan genk di Matahri yang kakinya cacat tapi sangat disegani teman-temannya. Dia selalu membawa pisau lipat dan samurai kecil di pinggangnya.

Melihat tingkahku yang demikian, maka ayahku sering memukuliku sampai suatu waktu kami sekeluarga berpindah rumah di Windan, Gumpang, Kartasura. Mungkin saat inilah aku mengalami keadaan yang berbalik arah menuju ketaatan dan kepatuhan. Mungkin karena teman-temanku yang ada di desa di rumah tinggal baruku adalah orang desa yang mainannya hanya sepakbola, mencari jejak, kasti, dan kontrakol.

Meskipun kepindahanku di sini akan membawa kepada lembaran yang baru terus bukan berarti semudah membalik telapak tangan. Kenakalanku tidak hilang begitu saja. Sikap tidak mau diatur dalam diriku tetap ada dan terkadang meledak di suatu momen tertentu yang kerap tak terkontrol. Ketika aku berpindah tempat tinggal di Windan, aku berumur 6 tahun dan sedang duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Lingkungan yang berbeda dengan lingkungan kota yang selama ini kukenal terpaksa membawaku untuk mengenal sawah, sungai, dankerbau dunia pedesaan. Game Centre telah berubah menjadi lapangan dan sawah, koin video game telah berubah menjadi bola kasti yang hampir setiap sore aku mainkan, dan kerbau adalah salah satu teman mainku.

Aku ingat betapa sulitnya menaiki seekor kerbau yang sedang merumput di sawah atau ladang. Perlu perjuangan yang tidak kecil untuk bisa menaklukannya. Ditanduk, terjatuh, tercebur di sawah, adalah resiko yang biasa. Aku teringat yang lebih hebat lagi ketika temanku berhasil nak di punggung kerbau kemudian kerbaunya berlari cepat sehingga temanku terjatuh ketika kerbaunya sedang berlari. Pengalaman-pengalamanku itu sedikit-sedikit mampu membuat ingatanku akan video game hilang.

Hanya saja, jiwa petualangku tidak mau berhenti begitu saja meskipun aku mulai meninggalkan video game. Setiap liburan sehabis subuh aku ajak beberapa temanku berjalan-jalan atau bersepeda. Bersepeda ke waduk Cengklik telah sering kulakukan lebih dari sepuluh kali bahkan di sana, saya dan teman-temanku tak merasa takut menceburkan diri ke waduk, mengayuh rakit ke tengah waduk, dan mencari belut di tepiuan waduk sehingga sering bila kami dimarahi orang di sana. Pergi ke Taman Satwataru Jurug tanpa membayar pun pernah aku lakukan.

Itulah beberapa kenangan yang masih sempat kutuliskan malam ini. Kini, aku telah bekerja…. Rasanya, tak mungkin aku mencapai fase-fase ini tanpa izin dan ridho Allah SWT. Semoga di sisa-sisa jatah umurku yang entah sampai berapa aku diberikan waktu untuk hidup, aku menjadi semakin dekat dan lebih dekat lagi kepada Sang Pencipta. Mampu lebih memberikan bukti pengorbanan dan pengabdian kepada-Nya. Amiin.

25 Jan 2010 – post at 00.25 WIB

(Ahmed Fikreatif)

Iklan

6 Tanggapan

  1. met milad …. moga berkah umurnya 😀

    • amiin
      makasih

  2. Joyeux Anniversaire!

    • Joyeux..

      Merci……….

  3. Alhamdulillah atas segala nikmat-Nya.
    *seru bgt masa kecilnya…:))
    masa kecil yang penuh dg kenangan.
    Moga dengan bertambahnya umur,bertambah pula ketaatan pada Sang Pencipta.Aamiin..
    *maaf klo slama ini ada kata yang kurang berkenan.:)

    • biasa wae dek….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: