Berkunjung Kepada Sesepuh dan Penggerak NDM


Seharian berada di rumah pas liburan bikin suasana jadi boring. Puluhan tamu yang datang ke rumah menemui kedua ortu seperti tak henti berdatangan dari sejak pagi. Aku putuskan untuk jalan-jalan keluar rumah.

Ditemani Shogun, tujuan awalku hendak ke kantor Lyla dan rumah Riana untuk nganter oleh-oleh. Namun sayangnya keduanya sedang tidak bisa kuganggu pada saat itu dikarenakan beberapa dan lain sebab. Tanpa banyak berpikir, ku segera kan saja melaju ke rumah simbah di Kauman.

Disamping hendak mengunjungi simbah kakung yang beberapa waktu lalu ditinggal simbah putri, aku juga bermaksud mengunjungi SD NDM, sekolah dasar tempatku dididik. Keadaan mbahkung (sebutan simbah kakung / kakek) pada dasarnya masih terlihat sehat. Mbahkung masih bisa jalan sendiri tanpa bantuan tongkat atau teken jika hendak sholat ke langgar Winongan, Kauman. Namun jika untuk berjalan-jalan yang jauh, tentunya mbahkung sudah tidak mampu. Seusai salaman dan ngobrol-ngobrol dengan mbahkung, bulik ‘Aliyah, bulik Baroroh, dan si kecil Fahri (anak bulik ‘Aliyah), kemudian aku menuju ruang kantor SD NDM yang letaknya hanya di depan rumah tinggal simbah.

Di dalam ruang kantor SD, aku bertemu dengan bu Umi (aku lupa apakah Umi Khasanah atau Umi Salamah) dan pak Agus Salman. Kebetulan keduanya sedang berada di SD menunggui para tukang batu yang sedang merenovasi gedung SD.

Mumpung berada di Solo dan bertemu dengan dua orang guru SD yang pernah mendidikku, langsung saja kutanyakan tentang daftar alumni SD sepanjang sejarah SD yang dimiliki oleh arsip SD NDM. Sayangnya keduanya tidak bisa memberikan informasi yang kuminta dan kutanyakan. Mengenai daftar alumni-alumni SD NDM, aku diminta menghubungi bu Endang karena yang berwenang mengurusi mengani bidang alumni dan semacamnya adalah bu Endang. Karena waktuku tidak banyak, maka kubut janji dengan bu Endang melalui bu Umi dan Pak Agus untuk bertemu tanggal 24 Desember 2009. Sementara mengenai sejarah SD NDM dan gerakan NDM, aku diminta untuk menemui bu Mustangidi.

Setelah berpamitan dengan bu Umi, pak Agus, mbahkung, dan bulik, aku segera menuju ke rumah bu Mustangidi. Rumah bu Mustangidi terletak belakang Langgar Hidayah Kauman. Di rumah bu Mustangidi, aku memperoleh kisah-kisah sejarah perkembangan NDM dari mulai lahirnya, aktivitasnya, pendirinya, asset-asset tanah wakafnya, perjuangannya, dan banyak hal lainnya. Namun, kemudian beliau merekomendasikanku untuk mengunjungi ibu Rohani atau anaknya yang bernama bu Nashriyah di daerah Sangkrah agar bisa memperoleh cerita yang lebih valid melalui dokumentasi-dokumentasi yang dimiliki bu Nasriyah atau bu Rohani. Menurut bu Mustangidi, bu Rohani dan bu Nashriyah merupakan orang-orang yang dengan sabar menghimpun beberapa tulisan-tulisan dan dokumen-dokumen seputar NDM.

Seusai bertamu dari rumah bu Mustangidi, tanpa basi-basi akupun segera menuju rumah bu Nashriyah. Bu Nashriyah secara kebetulan merupakan guru bahasa Arab ketika aku kelas 1 SMP Al Islam sekaligus ibu dari kawan Sdku, Qoni’atun Ni’mah.

Sampai di rumah bu Nashriyah, aku (dan kawanku Muhammad) langsung diajak ke rumah beliau yang sebelah utara karena disanalah dokumen-dokumennya tersimpan. Setelah dicari-cari, aku diberikan beberapa dokumen tentang NDM mulai dari AD/ART, Akta Notaris (pendirian), dan semacam handbook aktivis NDM. Beberapa dokumen itulah yang terselamatkan dan kemudian dikopikan untukku. Selebihnya, mungkin banyak yang hilang entah kemana.

Sebelum pulang, kami diberi sejumlah wejangan tentang pentingnya belajar dan mempelajari Al Quran. Tak cukup dengan itu, bu Nashriyah pun selanjutnya menawarkan kepada kami sebuah metode mempelajari Al Quran bernama Munisa. Sebuah metode yang digunakan untuk membantu mengetahui makna Al Quran secara utuh dalam waktu yang relatif cepat bahkan tercepat. Demikian kira-kira maksud yang kami tangkap dari metode Munisa. Menurut pengakuan beliau, metode ini beliau kembangkan bersama dengan almarhum ayahanda beliau sejak tahun 1961. Melalui metode Munisa itu, beliau berharap agar para pelajar dan umat Islam secara umum mampu memahami arti dan makna Al Quran secara utuh serta bisa memiliki pondasi ilmu bahasa Arab yang baik dan benar.

Sambil pamitan dan mengucapkan terimakasih, kami pun mendoakan beliau dalam hati agar sukses mengajarkan metode Munisa kepada umat Islam. Teriring salam takzim dan hormat kepada guru kami ibu Siti Nashriyah….

Iklan

7 Tanggapan

  1. Ktemu bu Siti Nashriyah?gimana kabarnya?

    • eh salah, maksudnya gimana kabar beliau?
      jadi kangen smp…

  2. kabarnya sehat2 saja.
    anaknya tambah cantik sepertinya…
    (tahu drmn coba lha wong dia pakai cadar..) hahahahahah
    lol

  3. oh..oh..oh..oh…ooww
    heemmmmmm……
    orang dah pake cadar msh te2p dilirikin…*syu’udzon.com
    mau memastikan?nikahin dulu,,kan dah kenal ma orangnya,ma ortunya jg….lebih cepat lebih baik!!!:))

    • hmm, kayake mending nunggu kesiapan yg namanya Fitroh aja deh.. \m/

      lha wong sudah punya anak 2 kok..
      mau dikawinin..
      dibunuh suamine to ya….

      • hmmm,..orang dah punya suami jg msh diirikin…ckckck
        hihihi…maaf buat suami mbak Ni’mah….*diriku gak tau.
        nunggu yg namanya Fitroh?fitroh yang mana ya????..*bingung mode:ON

  4. kura2 dalam perahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: